• Kamis, 31 Juli 2014
Iklan | Privacy Policy | Redaksi | Citizen Report

Perusda Agribisnis Butuh Modal Awal Rp 300 Jt

Sebagai Penyangga Pangan Dan Menstabilkan Harga

Jumat , 14 September 2012 09:19
Total Pembaca : 358 Views

Baca juga

RAKYAT SULSEL . MAKASSAR-Perusahaan Daerah (Perusda) Agribisnis kembali dibangun Pemprov Sulsel. Tujuannya, sebagai penyangga pangan dan untuk menstabilkan harga pangan di Sulsel. Tetapi, dalam operasionalnya, perusda tersebut masih terkendala anggaran. Sebagai modal awal, dibutuhkan paling tidak Rp 300 juta.

“Pada awal ini kita tidak bisa berbicara soal anggaran dulu. Tapi, untuk biaya operasional tidak terlalu besar. Kita baru membutuhkan kurang lebih Rp 300 juta untuk tiga bulan,” kata Tan Malaka Guntur Direktur Perusda Agribisnis Sulsel, usai dilantik oleh Gubernur Sulsel H Syahrul Yasin Limpo, di Baruga Sangiaseri, Makassar, Kamis (13/9).

Tan Malaka mengatakan, Perusda Agribisnis tersebut dibentuk karena melihat potensi Sulsel sebagai daerah pengembangan agro pertanian. Khususnya, untuk menuju agroindustri, sehingga, masyarakat akan lebih mudah mengakses kebutuhan-kebutuhan pangan mereka dengan pemerintah.

“Perusda ini adalah kaki tangan pemerintah daerah untuk meng-handle kebutuhan-kebutuhan pangan masyarakat,” ujarnya.

Tetapi, selain mengutamakan pelayanan masyarakat, perusda juga memiliki orientasi bisnis. Artinya, dalam pengembangannya juga tetap mengutamakan profit.

“Di Sulsel ini kita tidak terlalu muluk-muluk dalam membentuk perusda. Karena, provini Sulsel adalah penyangga pangan nasional. Basis perekonomian kita juga di sektor pertanian, termasuk di dalamnya peternakan, perikanan, dan perkebunan. Ini sangat bersentuhan dengan kepentingan masyarakat dan pemerintah daerah,” terangnya.

Ke depannya, perusda tersebut diharapkan bisa memfasilitasi segala kepentingan masyarakat. Karena itu, Tan Malaka mengaku akan mencoba melakukan negosiasi untuk mendapatkan dana melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Perubahan. Termasuk, untuk mendapatkan biaya operasional dan modal kerja.

“Memang dari APBD kita berharap, tetapi yang lebih kita harapkan lagi, kita bisa berkomunikasi dengan bank. Pimpinan Bank Indonesia telah memberi jaminan bahwa dari sisi suplai akan dia berikan. Artinya, supaya ada yang berjalan. Sedangkan, dari sisi birokrasi menunggu kebijakan-kebijakan yang bisa dilakukan,” urainya.

Mantan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sulsel itu, mengaku, perusda tersebut tidak akan menghabiskan uang daerah. Tetapi, ia berharap, dengan modal awal tersebut, pihaknya sudah bisa membuat bisnis plan yang akan memberikan arahan seperti apa tujuan dan target perusda tersebut. Termasuk, bagaimana perusda tersebut bekerja sama dengan Bulog.

“Bahkan, di pikiran saya, kemungkinan dengan perusda ini bukan hanya dalam bentuk beras tapi juga gabah, sehingga masyarakat bisa mendapat pelayanan dengan harga yang wajar. Bagaimana supaya masyarakat tidak kekurangan stok dan bagaimana menyangga pangan sekaligus menstabilkan harga,” jelasnya.

Sementara, Gubernur Sulsel, H Syahrul Yasin Limpo, menuturkan, perusahaan agribisnis kembali dibentuk agar ada lembaga yang menata agrikultur menuju ke agribisnis dan agrindustri. Perusda itu juga tetap satu kesatuan dengan perusda lainnya di bawah kendali Sekretaris Wilayah Daerah Provinsi, Andi Muallim.

“Perusahaan ini harus mampu menjadi penyangga pangan dan bisa menstabilkan harga. Karena itu, harus bisa bekerja sama dengan bulog,” kata Syahrul.

Ia berharap, dengan pembentukan perusda tersebut, bisa memperlebar kaki tangan Bulog, sehingga jangkauan untuk mengamankan hasil-hasil rakyat bisa lebih besar. Karena itu, selaku gubernur, ia akan bersurat ke Menteri Keuangan dan Menteri Pertanian untuk dilakukan uji coba.

“Konsolidasi bersama perusahaan daerah lainnya dan konsultasi dengan bank, termasuk Bank Pembangunan Daerah (BPD). Jangan mulai dari yang besar, tapi mulai dari yang kecil. Ini akan menjembatani langkah-langkah pemerintah,” imbaunya. (RS5/dul/C)