SABTU , 21 APRIL 2018

Peta Kompetisi Cakada di Zona Bosowasi, Ajang Pembuktian Petahana

Reporter:

Iskanto

Editor:

asharabdullah

Sabtu , 13 Januari 2018 11:30
Peta Kompetisi Cakada di Zona Bosowasi, Ajang Pembuktian Petahana

ilustrasi (ist)

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Rivalitas sengit memperebutkan kursi bupati dan wakil bupati tak hanya terjadi di Zona Ajatappareng. Hal serupa juga bakal tercipta di Zona Bosowasi yang meliputi Kabupaten Bone, Kabupaten Wajo dan Kabupaten Sinjai.

Bahkan, wilayah ini menjadi ajang pembuktian sang petahana. Pasalnya, dari tiga daerah yang menggelar pilkada, dua diantaranya masih akan diikuti petahana. Dua daerah tersebut yakni, Bone dan Sinjai.

Peta Kompetisi Cakada di Zona Bosowasi. (Dok. RakyatSulsel

Di Sinjai, sang petahana, H Sabirin Yahya-A Mahyanto Masda yang diusung PDIP, PAN dan Demokrat, mendapat tantangan dari Andi Seto Gadhista Asapa-A Kartini (PKB, Gerindra, Golkar) dan H Takyuddin Masse-Mizar Roem (PPP, PKS, PBB, NasDem).

Meski berstatus sebagai petahana, Sabirin Yahya tak boleh lengah sedikitpun. Kekuatan dua penantangnya tersebut tak boleh dianggap remeh. Andi Seto Gadhista adalah putra mantan Bupati Sinjai dua periode, Rudiyanto Asapa, serta menantu dari Ketua Golkar Sulsel, Nurdin Halid. Sementara Takyuddin Masse adalah kakak kandung dari Ketua NasDem Sulsel, Rusdi Masse dan Mizar Roem juga merupakan putra mantan Bupati Sinjai, M Roem.

Pertarungan head to head tersaji di Pilbup Bone. Sang petahana, Fashar M Padjalangi-H Ambo Dalle (Tafaddal) jilid II yang memborong semua partai politik (NasDem, Hanura, PKB, Gerindra, PBB, PPP, PDIP, PKS, Demokrat, PAN, Golkar) mendapat perlawanan dari pasangan calon H Rizalul Umar-H Andi Mappamadeng Dewang dari jalur perseorangan.
Head to head juga tercipta di Pilbup Wajo. H Amran Mahmud-H Amran (Pammase) akan berhadapan dengan dr Baso Rahmanuddin-Anwar Sadat (Barakka). Pasangan Pammase diusung NasDem, Demokrat, PBB, PDIP, PPP, PAN dan PKS. Sementara duet Barakka diusung Golkar, PKB, Gerindra dan Hanura.

Menanggapi hal itu, Konsultan Politik Jaringan Suara Indonesia (JSI) Nursandy menuturkan, untuk Pilkada Bone, kans menang petahana sangat besar, apalagi Fahsar kembali menggandeng Ambo Dalle sebagai wakilnya. Sementara rivalnya Umar-Madeng yang maju melalui jalur independen dari sisi konsolidasi dan pergerakan masih lemah diakar rumput.

“Pasangan ini terlihat sulit mengimbangi kekuatan yang dimiliki pasangan Tafaddal saat ini. Umar-Madeng membutuhkan sumber daya yang dahsyat dan kerja lebih ekstra menumbangkan petahana,” papar Nursandy.

Berbeda dengan Pilkada Bone, kata Nursandy, kondisi Pilkada Sinjai justru bisa saja menumbangkan petahana karena kehadiran figur-figur yang cukup kompetitif. Belum lagi orang-orang besar yang ada dibelakang rival sang petahana.

“Untuk Pilkada Sinjai terdapat 3 pasangan calon. Dinamika dan iklim politik di Sinjai lebih tinggi mengingat rival-rival petahana seperti Seto dan Takiyuddin Masse merupakan lawan yang patut diwaspadai oleh petahana,” jelasnya.

Apalagi masyarakat di Kabupaten Sinjai pastinya dapat menilai siapa kandidat terbaik yang mampu membangun wilayahnya. Karena bukan tidak mungkin di pemerintahan petahana ada saja hal yang mungkin tidak dicapai sehingga menimbulkan kekecewaan masyarakat.

“Kinerja dan prestasi Sabirin Yahya yang dianggap biasa saja membuat Seto ataupun Takyuddin Masse berpeluang mengalahkan petahana,” lanjut Nursandy.

Sementara itu, kata Nursandy, pertarungan head to head di Pilkada Wajo antara dr Baso Rahmanuddin-Anwar Sadat dan DR Amran Mahmud-Amran SE menyajikan pertarungan yang sangat ketat. Keduanya punya peluang yang sama memenangkan pertarungan.

Pemenangnya akan ditentukan dari sisi figuritas, strategi yang dijalankan dan kerja tim yang produktif.

Sementara Pakar Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Syarifuddin Jurdi menuturkan melihat kekuatan masing- masing calon pada tiga daerah tersebut menunjukkan adanya kecendrungan petahana akan memenangi pilkada. Bone dan Sinjai selama ini bupatinya selalu dua periode.

“Peta politik 2018 menunjukkan adanya fenomena yang mungkin akan berubah. Pertama, kasus Wajo, para calon tanpa petahana, semua pasangan memiliki potensi yang sama untuk memenangi pilkada,” katanya Syarifuddin Jurdi.

Untuk kasus Bone, kata dia, tampaknya kekuatan petahana masih cukup dominan, penantang petahana akan kesulitan menggeser posisi petahana di mata masyarakat. Struktur sosial masyarakat Bone mendukung posisi petahana yang juga merupakan kelompok sosial atas. Kemungkinan petahana akan menang dalam pilkada Bone.

“Kasus Sinjai, ini kayaknya agak unik, meskipun kepemimpinan sebelumnya berhasil mempertahankan kekuasaan selama dua periode, namun petahana akan menghadapi tantangan yang tidak mudah, karena, posisi petahana berdasarkan penilaian masyarakat tidak dipandang sebagai bupati yang tidak terlalu menonjol dalam merubah wajah Sinjai bahkan sang petahana dianggap sudah tua dan sering sakit,” terangnya.

Apalagi, lanjutnya, di pilkada sinjai dua penantang petahana merupakan klan politik yang pernah berkauasa di Sinjai dua periode yakni putranya Rudiyanto Asapa sekaligus menantunya Nurdin Halid dan putra M Roem. (*)


div>