SABTU , 20 OKTOBER 2018

Petahana Belum Aman

Reporter:

Suryadi Maswatu

Editor:

Iskanto

Jumat , 05 Oktober 2018 08:20
Petahana Belum Aman

ilustrasi, (Rakyatsulsel)

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Pemilihan Anggota Legislatif 2019 untuk DPR RI dipastikan berlangsung apik. Dereten tokoh papan atas ambil bagian dalam pesta demokrasi 5 tahunan ini.
Di dapil Sulsel 1 misalnya, pertarungan yang cukup sengit akan tersaji. Sebab, caleg yang akan

bertarung di dapil yang meliputi 5 Kota Makassar, Kabupaten Gowa, Takalar, Jeneponto, dan Bantaeng itu, diisi oleh tokoh-tokoh politik papan atas.

Ada nama sang petahana, Aliyah Mustika Ilham yang juga merupakan istri mantan Wali Kota Makassar Ilham Arif Sirajuddin (Partai Demokrat), Andi Ridwan Wittiri (PDIP), Hamka B Kady
(Golkar), Indira Yusuf Ismail (Perindo), Tenri Olle Yasin Limpo (NasDem) serta sejumlah nama lainnya.

Raihan kursi pun berpotensi terbagi rata. Parpol agak sulit bisa meraih lebih dari 1 kursi. Karena itu, selain gengsi parpol, rivalitas sesama caleg di internal parpol sangat potensil. Misalnya peluang Azikin Sulthan bersaing dengan Idri Manggabarani (IMB).

Kemudian Tenri YL bersaing Indira Chunda Thita (NasDem). Aliyah Mustika Ilham bersaing dengan Bahar Ngitung.

Direktur Nurani Strategic Nurmal Idrus mengatakan persaingan Pileg 2019, khususnya Dapil Sulsel 1 untuk DPR RI jauh lebih sengit dibanding 2014. “Itu karena jumlah parpol yang bersaing semakin banyak yang kemudian juga membuat semakin banyak caleg,” ujarnya.

Selain itu, kata dia, pada Dapil Sulsel 1 ini memunculkan nama tenar yang selama ini dikenal sebagai vote getter. Hal ini membuat persaingan kian sengit dalam merebut hati masyarakat. “Jadi, posisi petahana akan sangat terancam kali ini dan tak bisa dianggap aman,” jelas mantan Komisioner KPU itu.

Sementara Pakar Politik Unibos Makassar, Arif Wicaksono juga menilai persaingan sangat ketat untuk meraih kursi Senayan tersaji di dapil ini. “Rivalitas para tokoh ini sudah cukup terlihat. Baik pertarungan antar parpol maupun pertarungan di internal parpol,” ujarnya.

Ia menjelaskan, rivalitas sesama internal parpol memang potensial terjadi, tapi mungkin tidak seperti Pileg 2014, karena pelaksanaannya yang serentak dengan Pilpres.

Secara rasionalitas, lanjut Arif, pada event Pilpres, disanalah terletak gengsi prestisius parpol dan atau koalisi parpol pengusung dan pendukung capres berada.

Sehingga dengan demikian, ada kemungkinan kesengitan kompetisi akan lebih banyak terserap ke event Pilpres ketimbang Pileg.

“Dengan kata lain, pembagian kursi DPRRI memang betul-betul akan sesuai dengan konsensus bagi-bagi,” terangnya.

Sedangkan basis dukungan berdasarkan domisili calon dinilainya tidak akan terlalu berpengaruh. “Karena pada dasarnya, kalkulasi politiknya hanya bermuara pada dua kutub besar kepentingan, yaitu kepentingan Jokowi-Ma’ruf dan atau kepentingan Prabowo-Sandi,” pungkasnya. (*)


Tag
div>