RABU , 19 SEPTEMBER 2018

Petahana Harus Pandai Bangun Citra

Reporter:

Iskanto - Armansyah

Editor:

asharabdullah

Kamis , 01 Februari 2018 11:35
Petahana Harus Pandai Bangun Citra

Karikatur (Doc.RakyatSulsel)

– Rebut Kembali Simpati Masyarakat

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak diikuti oleh sejumlah petahana. Sebut saja Moh Ramdhan “Danny” Pomanto di Makassar, Muslimin Bando di Enrekang, Taufan Pawe dan Andi Faisal Sapada di Parepare, Judas Amir di Palopo, Iksan Iskandar dan Mulyadi Mustamu di Jeneponto, serta Fashar Padjalangi yang kembali berpasangan dengan Ambo Dalle di Kabupaten Bone. Jika ingin terpilih kembali, tentunya mereka harus pandai-pandai membangun pencitraan di masyarakat.

Pakar Politik Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Andi Luhur Prianto, menuturkan, menjadi kandidat petahana tentunya memiliki keuntungan membangun pencitraan dalam masa jabatannya. Hal ini tentunya bukan menjadi hal yang baru lagi dalam event pilkada.

“Tidak bisa dipungkiri, politik modern dikelola dengan citra dan kemasan. Makanya, penting bagi kandidat untuk menjadi media darling,” kata Luhur, Rabu (31/1).
Ia menjelaskan, berhasil tidaknya pemimpin dalam membangun wilayahnya akan sangat berpengaruh dalam citra politiknya. Apalagi, konstruksi penyampaian ke masyarakat yang bisa berbanding terbalik dengan keadaan yang ada.

“Sekarang ini, citra keberhasilan dan kegagalan seorang pemimpin menjadi konstruksi dan produk media. Meskipun realitas sosialnya bisa berbeda,” terangnya.

Kata Luhur, seorang pemimpin memang harus bisa membangun citra politiknya demi peningkatan popularitas serta elektoralnya. “Pencitraan pemimpin sudah bagian penting dari industri demokrasi elektoral kita. Massa pemilih dengan literasi media yang terbatas menjadi sasaran utama dari pencitraan kandidat,” jelas Luhur.

Sementara itu, Pakar Pemerintahan Universitas Bosowa (Unibos) Makassar, Arief Wicaksono, mengatakan, para figur kepala daerah yang melakukan pencitraan terkait program-program unggulannya dalam memimpin suatu daerah adalah hal yang wajar. Hal itu menjadi nilai tambah bagi para figur tersebut. Meskipun terkadang, apa yang menjadi kenyataan tidak sesuai dengan apa yang disampaikan.

“Wajar saja jika para tokoh atau figur yang akan maju itu melakukan aktivitas pencitraan ke publik, tidak ada masalah,” ujarnya.

Terpisah, kandidat petahana di Pilwalkot Makassar, Moh Ramdhan “Danny” Pomanto, mengaku merencanakan setiap program yang dilaksanakan selama menjabat. Hal itu dinilai dan dipandang perlu, sesuai Rencana Program Jangka Menengah Daerah (RPJMD) menjadikan Makassar dua kali tambah baik.

“Program saya itu tujuan utama adalah untuk masyarakat, bukan untuk main gagah-gagahan atau pencitraan. Mana pernah saya melakukan pencitraan,” tegas Danny.

Menurut Danny, apa yang telah dicapai selama empat tahun kepemimpinannya berkat kinerja dan koordinasi bersama SKPD, serta kontribusi masyarakat. Olehnya itu, dirinya maju kembali untuk menyempurnakan apa yang belum sempurna.

“Sekali lagi saya tidak pusing pencitraan, selama masyarakat merasa nyaman dan terbantukan. Program kita seperti Homecare, itu masih perlu perbaikan karena masih banyak masyarakat yang mengadu, dan itu tandanya perlu perbaikan,” tegasnya. (*)


div>