RABU , 14 NOVEMBER 2018

Petahana Ramai-ramai Lirik Pasangan Baru

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Kamis , 18 Mei 2017 10:50
Petahana Ramai-ramai Lirik Pasangan Baru

int

MAKASSAR, RakyatSulsel.com – Belum cukup lima tahun memimpin suatu pemerintahan, pecah kongsi antara bupati dan wakil bupati ataupun wali kota dan wakil wali kota sering terjadi dalam sebuah pemerintahan.

Pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak 2018 mendatang akan diikuti sedikitnya 12 kabupaten/kota di Sulsel. Daerah tersebut diantaranya adalah Jeneponto, Bantaeng, Sinjai, Wajo, Luwu, Palopo, Enrekang, Pinrang, Sidrap, Parepare, Makassar, dan Bone. Dari 12 daerah tersebut, 7 daerah diantaranya akan diikuti petahana.

Upaya penyatuan pun sepertinya sulit terjadi. Kepala daerah berstatus petahana ramai-ramai melirik pasangan baru. Pilihannya bakal jatuh pada kandidat calon wakil kepala daerah yang diyakini paling bisa bekerjasama.

Kecuali balonbup petahana Bone, Andi Fashar M Padjalangi. Enam kepala daerah incumbent hampir dipastikan akan maju di Pilkada 2018 dengan partner baru. Seperti di Enrekang, Parepare, Palopo, Jeneponto dan Sinjai. Makassar boleh jadi bernasib sama.

Di Pilwalkot Makassar, Wali Kota Mohammad Ramdhan “Danny” Pomanto diprediksi sulit maju bersama sang Wakil Wali Kota, Syamsu Rizal.

Di Pilwalkot Parepare rivalitas Wali Kota Parepare, Taufan Pawe (TP) dengan Wakil Wali Kota Parepare, Faisal Andi Sapada (FAS) diprediksi akan kembali tersaji. Aroma pecah kongsi keduanya sudah lama menguat.

Apalagi, FAS telah menyatakan diri untuk maju dalam Piwalkot Parepare tahun 2018 menantang Taufan Pawe. Rivalitas keduanyapun semakin nyata setelah keduanya terpilih menjadi ketua partai di Kota Parepare. FAS merupakan Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai NasDem Parepare, sementara rivalnya, Taufan Pawe adalah Ketua DPD II Partai Golkar Parepare.

[NEXT-RASUL]

Pecah kongsi kemungkinan juga terjadi di Pilkada Enrekang. Wakil Bupati Enrekang HM Amiruddin menyatakan sikap maju untuk merebut kursi 01. Hal dibuktikan setelah terlihat sejumlah baliho terpasang di sepanjang jalan di di Bumi Massenrempulu.

Pilbup Jeneponto, pasangan bupati dan wabup sekarang juga dipastikan berpisah. Iksan Iskandar yang kini menjabat sebagai ketua Golkar disebut akan maju bersama ketua DPC Partai Gerindra, H Paris Yasir. Sementara Mulyadi Mustamu, wabup sekarang yang juga Ketua DPC Hanura, akan maju bersama ketua DPRD Jeneponto, Muh Kasmin. Ia adalah ketua DPC Demokrat.

Hal yang sama juga terjadi di Pilwali Palopo. Wakil Wali Kota, Akhmad Syahrifuddin alias Ome terus melakukan manuver politiknya untuk melawan sang incumbent Judas Amir.

Wali Kota Makassar, “Danny” Pomanto yang dimintai komentar terkait siapa calon pasangannya di Pilwalkot Makassar 2018 mendatang, mengaku hingga saat ini dirinya belum bisa memastikan dengan siapa akan berpasangan.

“Sebagai incumbent, saya belum memikirkan pendamping, karena persoalan politik itu adalah proses, apa lagi untuk urusan wakil saya akan kembalikan ke rakyat. Jadi bukan mengikuti selera saya tetapi rakyat, karena rakyatlah yang bisa melihat baik atau tidaknya,” ujar Danny.

Namun, Danny mengungkapkan, salah satu kriteria mendasar yang patut dimiliki wakilnya nanti adalah sosok yang setia dengan pasangannya dan dapat membantu kerja-kerja dalam menjalankan pemerintahan. “Intinya wakil itu orangnya setia, dan bisa membantu kerja-kerja wali kota,” tambah Danny.

[NEXT-RASUL]

Syamsu Rizal, yang notabene adalah Wakil Danny Pomanto, juga mengaku hingga saat ini belum bisa memberikan kepastian terkait pasangannya.

“Sebagai orang politik harus selalu konsen dengan hasil terbaik yakni target tertinggi. Nanti setelah itu, dikembalikan ke masyarakat dan ke partai,” ujar Deng Ical.

Terkait kesiapannya maju sebagai calon Wali Kota Makassar melawan Danny Pomanto, Deng Ical mengaku jika dirinya sudah sangat siap. Pasalnya, partainya menginginkannya maju sebagai wali kota.

“Kesiapan saya maju bertarung sebagai 01, tapi sekali lagi, sebagai orang politik harus mengerti kondisi-kondisi bagaimana keadaannya dan terutama sekali bagaimana keinginan masyarakat serta keputusan partai,” bebernya.

Terpisah, Wali Kota Parepare, HM Taufan Pawe memastikan diri maju dengan wakil baru. Meski belum membocorkan siapa figur yang bakal beruntung mendampinginya. “Sesuai survei Celebes Research Centre (CRC) dengan capaian 99 persen tingkat popularitasnya ini menyebutkan kata kunci bakal calon wakil saya yaitu nyaman. Artinya wakil baru yang mampu membuat nyaman dalam bekerja,” ujarnya.

“Siapapun itu yang penting saya nyaman, dari manapun asalnya, mau birokrat, tokoh agama, pendidik, asalkan nyaman,” tambahnya.

[NEXT-RASUL]

Ditanya tentang kesiapan melawan semua kandidat, termasuk melawan wakilnya sendiri, Taufan dengan santai mengatakan, dirinya mempersiapkan diri dengan mengabdikan diri untuk rakyatnya.

“Persiapan saya adalah kerja maksimal untuk rakyat di waktu tersisa ini, itulah persiapan saya, kerja untuk rakyat karena biar bagaimana rakyat yang memilih,” tandasnya.

Sementara Bupati Sinjai, Sabirin Yahya (SBY) menyatakan tekad kembali maju pada Pilkada 2018 mendatang. Kendati sudah mendaftar dibeberapa partai seperti PAN, PKB, PBB dan PKS, namun Sabirin Yahya mengaku belum menjalin komunikasi dengan beberapa bakal calon yang ingin maju di Pilkada Sinjai. “Sampai saat ini belum ada komunikasi untuk paket,” ujarnya.

Adapun keinginannya untuk maju kempali pada Pilkada 2018,  karena didasari niat untuk melanjutkan pembangunan dan terus meningkatkan kesejahteraan masyarakat Sinjai. “Insya Allah saya tetap ambisi untuk maju tapi bukan ambisius. Ambisi saya untuk maju kembali tidak lain berniat untuk lebih memperbaiki kesejahteraan masyarakat Sinjai,” jelasnya.

Menanggapi hal itu, Pakar Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Firdaus Muhammad mengatakan, penyebab pecahnya hubungan petahana untuk kembali berduet di Pilkada disebabkan hubungan yang tidak harmonis dalam menjalankan roda pemerintahan. Bahkan, kata Firdaus, hal tersebut bukan lagi hal baru yang kerap terjadi jelang masa-masa pergantian kepala daerah.

“Fenomenanya, selama kepemimpinan petahana berjalan tidak harmonis sehingga sulit menyatu dalam periode kedua,” ungkapnya.

[NEXT-RASUL]

Dimana, lanjutnya, akibat hubungan yang kurang harmonis tersebut. Menyebabkan petahana mencari figur lain yang dinilai mampu untuk berpasangan agar kembali dapat duduk sebagai kepala daerah. Bahkan, figur baru juga tidak dapat disepelekan kemampuannya baik dari segi popularitas serta elektabilitasnya.

“Mereka melihat kandidat baru untuk meraup suara lebih tinggi. Namun petahana juga banyak terancam oleh pendatang baru. Soal bekerjasama, kadang sulit direalisasikan karena beda kepentingan,” jelas Firdaus.

Sementara itu, Konsultan Politik JSI, Nursandy menilai, sejumlah daerah yang menggelar pilkada di Sulsel memang berpotensi terjadi rivalitas antara kepala daerah dengan wakilnya.

“Memang hak tersebut tidak dapat dipungkiri, dan saat ini sudah mulai sampai ke telinga publik. Seperti Makassar, Jeneponto dan Enrekang,” ungkapnya.

Lebih lanjut, kata Nursandy, aroma rivalitas di daerah tersebut memang sangat terasa. Baik dari sikap maupun manuver politik yang dilakukan. Apalagi, kata dia, rata-rata mereka punya jabatan di parpol sehingga kepercayaan dirinya meningkat untuk bersaing. “Peluang untuk berpasangan kembali memang kecil meski belum sepenuhnya tertutup,” jelas Nursandy.

Nursandy menambahkan, dalam penentuan pasangan tentu banyak variabel yang mengiringi. Misalnya, lanjut Nursandy, calon pasangan tersebut mampu membantu menyiapkan parpol, finansial, mendongkrak elektabilitas dan tentu punya komitmen dan visi yang sama dalam kepemimpinan. “Saya pikir hal-hal itulah yang akan ikut menentukan pasangan masing-masing kandidat,” paparnya. (E)


div>