JUMAT , 14 DESEMBER 2018

PILEG 2019 DAN OPTIMISME KETERWAKILAN KAUM PEREMPUAN

Reporter:

Editor:

Iskanto

Selasa , 18 September 2018 15:52
PILEG 2019 DAN OPTIMISME KETERWAKILAN KAUM PEREMPUAN

Wakil Ketua PDI Perjuangan Kota Makassar, Andi Nabila

Pemilihan legislatif 2019 terasa berbeda jika berkaca dengan pemilihan sebelumnya. Pelaksanaan yang digelar secara bersamaan dengan pemilihan presiden membuat partai politik berpikir keras menemukan formulasi untuk lolos dari ujian parlementary threshold dan meningkatkan perolehan kursi di parlemen.

Partai politik berlomba menjaring, merekrut dan menyiapkan figur-figur terbaik untuk menghadapi pemilihan legislatif 2019. Yang menarik dicermati adalah partisipasi perempuan. Keterwakilan kaum perempuan dalam menatap pemilihan menjadi krusial dan sangat strategis. Keberadaan perempuan dalam kancah politik semakin diperkuat dengan hadirnya Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD, dan DPRD menegaskan bahwa keterwakilan perempuan sekurang-kurangnya 30 persen. Bukan hanya itu, jaminan keterwakilan politik perempuan juga termaktub dalam Convention on the Elimination of All Forms Discrimination Against Women dan Konvensi Hak-Hak Politik Wanita dalam Piagam PBB.

Keterwakilan perempuan memang telah diundangkan, tetapi masih menjadi pekerjaan rumah bagi partai politik dalam memenuhi kuota perempuan. Partai politik masih memeras keringat dalam proses pemenuhannya. Mendorong perempuan untuk berpartisipasi dalam kontestasi legislatif masih menjadi tantangan yang tak mudah bagi partai politik. Apalagi berbicara keterwakilan politik kaum perempuan di parlemen.

Fenomena rendahnya keterwakilan politik perempuan sangat nyata terjadi. Sebagai contoh pada Pemilu 2014 lalu, dari total 560 kursi DPR, hanya menghasilkan 97 anggota DPR perempuan. Hal senada terjadi pada Pemilu 2009, di mana jumlah perempuan di parlemen hanya mencapai 103 orang. Keterwakilan perempuan di wilayah legislatif ini bahkan mengalami degradasi, yakni dari posisi 18,2 persen (2009) menjadi 17,3 persen (2014).

Budaya patriarki dalam kehidupan politik kita masih menjadi salah satu batu sandungan bagi ketertinggalan politik perempuan. Tafsiran bahwa perempuan dianggap lebih cocok mengurusi wilayah domestik (privat) sementara laki-laki untuk wilayah publik masih menjadi paham klasik sebagian masyarakat.

Di samping itu, rendahnya angka representasi perempuan di ruang politik tak bisa dilepaskan dari pengaruh platform partai politik itu sendiri. Setiap jelang pemilu hampir semua parpol mencoba untuk menerapkan perspektif gender. Namun, upaya tersebut tak akan cukup efektif jika masih ada anggapan tunggal bahwa hanya bertujuan mempertahankan eksistensi partai supaya sesuai dengan persyaratan undang-undang. Belum lagi tantangan yang dihadapi kaum perempuan saat berkontestasi.

Banyaknya tantangan yang dihadapi kaum perempuan dalam menancapkan kiprah di panggung politik haruslah menjadi perhatian serius. Tak hanya bagi kalangan perempuan sendiri, tetapi setiap partai politik harus memiliki komitmen tinggi dalam memberikan pendidikan dan ruang politik bagi kaum perempuan.

Animo kaum perempuan dalam mengikuti pemilihan legislatif mendatang cukup tinggi. Karena itu, kaum perempuan haruslah menjadikan kesempatan ini sebagai momentum menghadirkan optimisme bagi keterwakilan yang cukup di parlemen.

Optimisme kita bukan tanpa sebab, beberapa Negara kini telah berhasil menerapkan kuota 30 persen bagi perempuan. Misalnya Swedia (42,7 persen), Denmark (37,4 persen), Finlandia (36,5 persen), Norwegia (36,4 persen), Belanda (36 persen), Islandia (34 persen), Jerman (30,9 persen), Selandia Baru (30,8 persen), dan Mozambik (30 persen).

Selaku bagian dari kaum perempuan agenda perjuangan kita di parlemen sangatlah besar manfaatnya guna mendorong kebijakan-kebijakan yang lahir dari rahim eksekutif ataupun legislatif agar proporsional dan sensitif terhadap kepentingan kaum perempuan. Olehnya itu, kerja politik kita di pemilihan legislatif 2019 menjadi satu-satunya jalan untuk meretas keterwakilan kaum perempuan di parlemen.

Selamat menatap Pileg 2019 dan terus berjuang kaum perempuan!!!

Makassar, 18 September 2019

Andi Nabila

Wakil Ketua PDI Perjuangan Kota Makassar


div>