SELASA , 11 DESEMBER 2018

Pileg 2019, Daya Pikat Figur Menentukan

Reporter:

Suryadi - Iskanto

Editor:

asharabdullah

Rabu , 18 Juli 2018 11:30
Pileg 2019, Daya Pikat Figur Menentukan

ilustrasi caleg

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Pindah Partai Politik (Parpol) tak berarti kutu loncat. Sejumlah figur populer kembali maju di Pemilihan Legislatif (Pileg) dengan bendera parpol yang baru dengan jalur yang agak beragam.

Yaqkin Padjalangi yang dibuang Partai Golkar berlabuh ke PDIP. Rahmansyah diplot Perindo sebagai caleg DPR RI. Selain itu terdapat nama lain yang pindah parpol semisal Suzanna Kaharuddin yang hijrah ke PKB.

Rahmansyah yang dikonfirmasi mengaku sangat yakin dengan kesiapan dan infrastruktur yang dimiliki untuk ikut pada Pemilu 2019 nanti. Apalagi, kata dia, selama ini banyak relawan dan loyalis yang dimilikinya dalam membantu bekerja secara sukarela. Tetapi memang sampai saat ini ia belum membuat tim pemenangan yang akan bekerja secara masif dalam memenangkannya di Dapil Sulsel 1.

“Insya Allah yakin dengan persiapan yang telah kita lakukan. Teman-teman yang sukarela bersimpati dengan gerakan yang selama ini kami lakukan dan mereka tahu apa yang menjadi harapan dan cita-cita saya maju DPR RI. Dan mereka secara sukarela sudah bekerja dan berbuat. Tapi tim belum kita buat,” kata Rahmansyah.

Dengan Perindo sebagai kendaraannya, ia sangat yakin dapat menduduki kursi DPR RI demi mewujudkan cita-cita masyarakat yang menaruh harapan besar kedirinya.

“Insya Allah, saya haqqul yaqin kalau kita niatnya baik untuk kepentingan orang banyak tentu tuhan akan membukakan kita jalan. Kalau peluang saya kira sama ji dengan caleg lain, tinggal bagaimana cara kita bekerja dan berusaha di barengi dengan doa. Semua pasti bisa kita capai dan raih,” tandasnya.

Yaqkin Padjalangi menyatakan dirinya bergabung dengan PDIP untuk menatap Pileg 2019. Ia sangat bersyukur karena masih ada parpol lain bisa mengakomodir dirinya untuk bertarung. “Kita syukuri masih ada partai lain mengakomodir namaku untuk caleg. Tentu lewat PDIP saya optimis,” ujarnya.

Pada Pemilu 2014 lalu, Yaqin Padjalangi meraih suara terbanyak Dapil VII untuk DPRD Sulsel dengan 59.615 suara. “Hidup ada pilihan, kita jalankan saja,” jelasnya.

Sementara itu, Pakar Politik Universitas Bosowa Arief Wicaksono mengatakan, fenomena kader pindah partai untuk kepentingan politik adalah buah dari perhitungan kans untuk dapat meraih hasil yang memuaskan. Sehingga, sejumlah figur memilih pindah untuk menghitung peluang menangnya.

“Sebenarnya “kutu loncat” itu istilah saja dalam memaknai fenomena mudahkan kader disebuah partai yang pindah ke partai lain. Tapi esensinya adalah bagaimana aktor-aktor politik itu menghitung kansnya disebuah partai politik dalam sebuah daerah pemilihan,” kata Arief.

Figur-figur yang selama ini sudah cukup populer tentunya telah berhitung dengan baik. Meskipun memiliki kans yang baik tapi dengan kendaraan yang tidak sesuai tentu akan memilih untuk pindah.

“Misalnya Yaqkin Pajalangi dan Rahmansyah yang merupakan kader Golkar, memutuskan untuk maju dengan kendaraan partai lain,” terangnya.

Terpisah, Konsultan Politik Jaringan Suara Indonesia (JSI) Nursandy mengatakan, kader yang memilih pindah parpol adalah orang-orang yang telah memiliki perhitungan panjang sebelumnya. Apakah itu karena ruang gerak yang sangat kecil atau sudah tidak memiliki ruang sama sekali.

“Banyaknya figur yang berpindah parpol jelang Pileg 2019 bukanlah kejadian politik baru. Migrasi politik terjadi biasanya disebabkan problem internal yang dialami di partai sebelumnya. Meski tak bisa dipungkiri hitungan pragmatis kadangkala ikut mengiringi pengambilan keputusan,” kata dia.

Ia menjelaskan, keputusan figur seperti Yaqkin Padjalangi melakukan migrasi ke parpol lain tentu akan mengurangi vote getter di partai sebelumnya. Sebaliknya parpol baru akan mendapatkan suntikan elektoral dalam menghadapi Pileg 2019 mendatang. Mengingat, kans mereka untuk terpilih terbuka lebar dengan modal politik yang dimiliki. (*)


Tag
  • Pileg 2019
  •  
    div>