SABTU , 20 OKTOBER 2018

Pilkada 2018, Petahana Mesti Bekerja Keras

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Jumat , 09 Desember 2016 11:53
Pilkada 2018, Petahana Mesti Bekerja Keras

int

MAKASSAR, RakyatSulsel.com – Pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak tahun 2018 mendatang diharapkan mampu menghadirkan figur pemimpin yang bisa memberikan perubahan untuk kesejahteraan rakyat. Sejauh ini, proses Pilkada serentak masih sangat dinamis dan cair. Namun atmosfer persaingan sudah nampak melalui berbagai manuver yang dilakukan oleh sejumlah kandidat calon kepala daerah.

Konsultan politik Jaringan Suara Indonesia (JSI) melalui Supervisor Pemenangan JSI, Arif Saleh menyebut, dari sekian daerah yang akan menggelar pilkada serentak, ada tujuh kabupaten/kota akan hampir pasti akan diikuti oleh calon petahana.

Dijelaskan Arief, dari tujuh daerah, sedikitnya ada lima kandidat yang harus bekerja keras untuk mengamankan tingkat penerimaan publik serta tingkat kesukaan masyarakat atas kinerjanya selama ini. Hal tersebut merupakan analisa dari lembaga survei dan konsultan politik Jaringan Suara Indonesia (JSI).

“Iya dari tujuh petahana, ada lima yang masih butuh kerja keras untuk bisa terpilih kembali. Mereka adalah, Moh Ramdhan Pomanto (Kota Makassar), Taufan Pawe (Kota parepare), Judas Amir (Kota Palopo), Muslimin Bando (Kabupaten Enrekang), serta Sabirin Yahya (Kabupaten Sinjai),”lanjut Arif.

Menurutnya, semua kepala daerah yang ingin maju kembali, sebenarnya belum ada yang bisa kita prediksikan di posisi aman. Hanya saja dari tujuh daerah diatas, kata arief sedikitnya lima kandidat memang dinamikanya sangat tinggi. Di Makassar, lanjut Arif, karakter pemilihnya sangat dinamis, meski posisi Danny masih baik.

“Tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Danny sebenarnya tidak buruk. Banyak capaian yang sudah ditorehkan. Cuma dinamika politik di perkotaan itu sangat dinamis dan memungkinkan berubah. Apalagi kalau muncul figur penantang yang kuat,” ungkapnya.

[NEXT-RASUL]

Tak jauh beda yang dialami Judas di Palopo, apalagi dengan adanya kabar pecah kongsi dengan wakilnya semakin membuat dirinya harus bekerja ekstra. Banyak celah bisa dimanfaatkan oleh para rivalnya untuk mengalahkannya. Dan itu bisa merugikan kalau Judas tidak mampu mengantisipasi. “Belum lagi kalau sampai para bakal calon rivalnya menyatu membangun kekuatan,” terangnya.

Khusus Muslimin Bando, meski kinerjanya selama ini banyak menuai kritikan, termasuk pengelolaan keuangan daerahnya yang tidak wajar oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Namun sejauh ini, figur-figur calon penantangnya, belum menunjukkan “perlawanan” berarti.

Situasi berbeda di Sinjai lantaran petahana dipersepsikan lemah, dan kinerjanya kurang maksimal. Di tambah lagi, calon penantangnya yang dari segi figuritas dan modal finansial cukup memadai. “Tentu ini menjadi warning bagi petahana,” sebutnya.

Fashar di Bone dan Iksan di Jeneponto masih memiliki peluang untuk terpilih kembali dibanding lima petahana lainnya.
“Alasannya, figuritas keduanya masih tergolong kuat, serta capaian-capaian selama menjabat banyak menuai keberhasilan dan punya kedekatan dengan rakyatnya,” tuturnya.

Menurut Arif, bisa saja ada kandidat yang dipersepsikan kuat, namun gagal maju karena tidak mendapat dukungan parpol. Begitu pun, ada kandidat yang diwacanakan maju berlawanan, akan tetapi justru maju berpasangan. Sebaliknya, ada kandidat yang gencar membangun komunikasi bakal berpasangan, tapi di akhir malah memilih berlawanan.

“Peta kekuatan akan terbaca kalau kandidatnya sudah mengerucut. Kejutan-kejutan masih memungkinkan terjadi saat tahapan sudah berjalan,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Harian Partai Golkar HM Roem mengaku optimis partai Golkar akan jaya di perhelatan Pilkada Bupati dan Gubernur Sulsel tahun 2018 mendatang. “Kita pengurus dan kader Golkar Sulsel optimistis, kekalahan Golkar di Pilkada 2015 lalu tidak akan terulang di 2018. Apalagi waktunya masih lama. Masih bisa melakukan pembenahan,”ujar Moh Roem.

[NEXT-RASUL]

Roem menjelaskan, Partai Golkar merupakan partai yang memiliki banyak pengalaman. Hal seperti ini bisa untuk diselesaikan, hingga tak berujung pada pilkada. ”Jadi inimi kita lakukan pembenahan jelang Musda. Apa itu, dengan melakukan pemilihan bagi daerah yang belum memiliki ketua definitif,” jelasnya.

Pakar politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar Firdaus Muhammad manambahkan, kepentingan Musda yang terjadi di internal Golkar diprediksi akan berdampak pada Pilkada di 12 daerah secara serentak nanti.

“Konflik reposisi pengurus justru akan menjadikan partai makin redup seperti di Pilkada 2015 lalu, Pasti terulang di 2018,” singkatnya. (yad/D)


Tag
  • pilkada 2018
  •  
    div>