RABU , 17 OKTOBER 2018

Pilkada Makassar di MK

Reporter:

Editor:

Lukman

Rabu , 01 Agustus 2018 13:45
Pilkada Makassar di MK

Ema Husain Sofyan

GUGATAN atas hasil Pilkada Kota Makassar yang memenangkan Kotak Kosong (KOKO) sebagai peraih suara terbanyak, saat ini telah berproses di Mahkamah Konstitusi (MK) Republik Indonesia.

Sidang perdana telah dimulai pada tanggal 26 Juli 2018, dengan agenda pembacaan Permohonan Pemohon. Dimana Pemohonnya ada dua yaitu Pasangan Danny Pomanto – Indira dan Pasangan Appi-Cicu.

Yang menarik dari dua Permohonan tersebut adalah MK tidak menghadirkan KOKO sebagai pihak terkait dalam persidangan pendahuluan. Adapun agenda sidang berikutnya pada Hari Rabu, tanggal 1 Agustus 2018 adalah jawaban dari Termohon KPU Kota Makassar dan tanggapan dari Panwaslu Kota Makassar.

Jika melihat selisih perolehan suara antara KOKO dengan Appi-Cicu maka ketentuan pasal 158 UU Pilkada sepertinya akan berlaku pada gugatan Appi-Cicu sebab selisih suara keduanya selisihnya lebih dari 1,5 persen antara Pemohon dengan Pemenang dari total suara sah. Demikian halnya dengan Danny-Indira yang kita tau bukan sebagai kontestan Pilkada Kota Makassar. Sehingga berdasarkan ketentuan pada UU Pilkada kedua Pemohon tidak memiliki legal standing.

Tapi dari berbagai macam putusan yang telah diputuskan oleh MK, ternyata MK tidak an sich terpaku pada ambang batas dan kaku pada peraturan perundang-undangan, jika pada faktanya terdapat pelanggaran yang terstruyktur, sistimatis dan massif (TSM).

Jadi menurut Penulis kedua gugatan Pemohon pada Pilkada Kota Makassar, masih berpeluang untuk dikabulkan oleh MK. Tentu saja setelah MK memeriksa alat bukti dari para pihak kemudian mencermati untuk kemudian memberikan putusan sela pada tanggal 9 sampai dengan 15 Agustus 2018.

Perselisihan Pilkada Kota Makassar sudah pasti tidak lanjut pada pokok perkara, tapi akan diputus pada putusan sela. Dan kemungkinan jika putusan salah satu Pemohon dikabulkan maka “kemungkinan” utuk dilakukan Pemungutan Suara Ulang (PSU) dengan kontestannya adalah pasangan Dany-Indira dan pasangan Appi-Cicu.

Apabila MK tidak menerima kedua permohonan Pemohon, maka Pilkada Kota Makassar akan diselenggarakan pada tahun 2020, dengan konstestan yang akan dijaring dari awal.

Mari kita tungu hasil putusan dari MK, dan semua pihak yang terkait dengan permohonan Pilkada kota Makassar dapat menghormasti apapun hasil putusan yang akan dibacakan oleh MK nantinya. (*)


div>