KAMIS , 15 NOVEMBER 2018

Pilpres 2019, Poros Baru Gatot – Cak Imin Hanya Sebatas Wacana

Reporter:

Editor:

asharabdullah

Rabu , 08 Agustus 2018 20:30
Pilpres 2019, Poros Baru Gatot – Cak Imin Hanya Sebatas Wacana

Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar dipastikan tidak akan berani lari dari koalisi Jokowi di Pilpres 2019. (JawaPos.com)

RAKYATSULSEL.COM – Keniscayaan poros ketiga di Pilpres 2019 makin terlihat. Ini setelah Presiden PKS Sohibul Iman melempar pernyataan bahwa bukan tidak mungkin PAN, PKB, dan partainya akan menjadi motor dari poros barus di luar Jokowi dan Prabowo itu.

Ditambah sikap PKB yang belum rela bila ketua umumnya, Muhaimin Iskandar atau Cak Imin tidak dipilih sebagai cawapres Jokowi. Kondisi ini pun kemudian makin memunculkan spekulasi poros ketiga yang isunya bakal mengusung Gatot Nurmantyo – Cak Imin sebagai capres dan Cawapres.

Menanggapi hal itu, Pengamat Politik dari Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) Ujang Komarudin menyebut, sebetulnya PKB hanya ingin meninggikan bargaining politiknya terhadap Jokowi.

Mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo saat mencium tangan Ketua Umum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). (JawaPos.com)

“Karena partai menengah seperti PKB bargaining-nya di sana. Jika tidak dapat cawapres, maka paling tidak kursi menterinya bertambah banyak dan strategis,” kata Ujang pada JawaPos.com.

Ujang yang juga merupakan Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) itu menilai, dukungan ulama NU meski erat kaitan dengan PKB, tentu tidak menentukan sikap PKB seutuhnya. Ia percaya PKB akan tetap berada di koalisi Jokowi sampai akhir.

“Hasrat Cak Imin menjadi cawapres Jokowi sudah meredup. Lagipula PKB tidak akan bisa menjual Cak Imin karena dia kan secara politik dulu diduga pernah bermasalah ketika menjadi menteri,” kata Ujang.

Kemudian, terkait wacana poros baru yang diembuskan PKB, Ujang menegaskan bahwa hal itu tidak akan terealisasi. Alasannya, Jokowi sudah berhasil mengunci PKB dengan sempurna. “Dengan tidak ditetapkannya cawapres sampai saat ini, PKB tidak punya pilihan,” kata dia.

Menurut dia, meski PAN, PKS, dan PKB membentuk poros tersendiri, namun kekuatan mereka tidak cukup kuat. Karena tidak ada satu pun tokoh lain yang mampu bersaing dengan Prabowo dan Jokowi dalam bursa Pilpres 2019.

“Pada dasarnya semuanya membutuhkan kemenangan. Daripada mereka enggak dapat apa-apa, lebih baik tetap bertahan. Jadi poros baru itu saya pikir sebatas wacana,” kata Ujang.

Sementara itu, terkait PAN dan PKS, menurut Ujang, harus realistis melihat arah koalisi. Sebab, jika bergabung dengan poros ketiga justru merupakan langkah yang salah karena PAN dan PKS memiliki calon sendiri yang masih berpeluang dipilih oleh Prabowo sebagai cawapres.

Pada kubu Jokowi pun, menurut Ujang, juga sudah ketinggalan gerbong. Pos-pos menteri strategis juga pasti sudah diambil partai koalisi Jokowi yang lain.

“Tentu saja PKS akan dianggap tidak konsisten jika mendukung Jokowi. Karena selama ini PKS lah yang berkampanye #2019gantipresiden. Lalu, PAN sendiri akan dianggap main dua kaki,” pungkasnya.

(ce1/gwn/JPC)


div>