JUMAT , 17 AGUSTUS 2018

PKI Lahir dari Dua Organisasi Ini

Reporter:

Editor:

Azis Kuba

Selasa , 29 September 2015 01:14
PKI Lahir dari Dua Organisasi Ini

Lambang PKI di rumah panggung, di Sumatera. Foto: Koleksi Arsip Nasional Belanda. (jpnn)

RAKYATSULSEL.COM – Partai Komunis Indonesia lahir dari “persekawaninan” Sarekat Islam (SI) dan Indische Societal Democratishe Veereniging (ISDV). Mari kita telusuri rekam jejak dua organ tersebut. Dimulai dari Sarekat Islam…

***

Pemimpin redaksi Medan Prijaji, Raden Mas Tirto Adhi Soerjo mendirikan Sarekat Dagang Islamiah–kemudian menjadi Sarekat Dagang Islam–di Bogor, pada 1909. Tirto adalah kakek buyut dari penyanyi Dewi Yull.

“Maka R.M Tirto Adisuryo berkelilinglah seluruh Jawa tapi yang dikunjunginya hanya kota-kota besar saja. Di kota-kota besar itu masing-masing dianjurkan mendirikan Sarekat Dagang Islam. Akhirnya dia sampai di Solo,” papar Dr. Moh. Hatta dalam Permulaan Pergerakan Nasional.

Apa yang diceritakan Bung Hatta berkesesuian dengan surat rahasia Residen Surakarta, F.F. van Wijk pada Gubernur Jenderal Idenburg, 11 Agustus 1912:

Perhimpunan Sarekat Dagang Islam didirikan di sini (Solo–red) beberapa bulan yang lalu oleh redaktur kepala Medan Prijaji yang terkenal itu; Raden Mas Tirtoadisurjo. Juga di Buitenzorg sudah berdiri perhimpunan seperti itu juga pada 1909. Dalam waktu dekat jumlah anggota membengkak cepat.

Sekadar catatan, penulisan nama Tirto di atas berbeda-beda sesuai sumber rujukan literatur.

Nama Sarekat Dagang Islam (SDI) tidak lama. Merujuk pasal I Peraturan Dasar yang disusun Tirto tanggal 9 November 1911, “Perkumpulan Sarikat Islam akan didirikan pada tiap-tiap tempat di mana terdapat anggota sekurang-kurangnya 50 orang…kalau anggotanya kurang dari 50 orang, tidak diadakan.”

[NEXT-RASUL]

Setahun kemudian, persisnya 10 September 1912, Sarekat Islam dicatatkan di notaris. “Sifat perkumpulan itu disebutnya nasional demokratis. Ini berbau politik,” kata Bung Hatta.

Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo dalam Naar Aanleiding van de Relletjes, menulis, “Tirto gaf de leiding over aan H. Samanhoedi van Solo. (Tirto menyerahkan kepemimpinan (SI–red) ke H. Samanhudi dari Solo.”

Lima tahun lamanya Haji Samanhudi memegang tampuk kepemimpinan SI, “kemudian tersingkir sama sekali oleh Tjokroaminoto setelah ia membuat Central SI tandingan,” tulis Pramudya Ananta Toer dalam Sang Pemula.

Tjokroaminoto kakek buyut penyanyi Maia Estianty. Di bawah kepemimpinannya, SI meluas. Dia tokoh legendaris SI.

SI Merah
Kongres SI V diadakan di Yogyakarta, 2 hingga 6 Maret (versi Semaoen 1921 dan versi Lembaga Sejarah PKI 1920. Keduanya menggunakan tanggal yang sama. Hanya beda tahun).

Dalam kongres itu, dua kader terkemuka SI, Semaoen dan Haji Agus Salim menyusun dasar baru organisasi. Disimpulkan bahwa kapitalisme-lah pangkal bala penjajahan di lapangan kebangsaan dan perekonomian. Dan ini harus dilawan.

Mengusung semangat yang sebetulnya sama, sama-sama melawan kapitalisme, Semaoen, Komisaris SI Daerah Jawa Tengah yang berkedudukan di Semarang, mendirikan dan terpilih menjadi ketua PKI pada 23 Mei 1920. (baca: Begini Cerita Awal Mula Nama PKI)

[NEXT-RASUL]

Ini membuat Abdul Muis, tokoh SI Bandung berang. Dia menyoal masalah rangkap keanggotaan. Maka pada Kongres SI VI, 10 Oktober 1921 di Surabaya, setelah melampui perdebatan sengit, diputuskan anggota SI yang komunis dan pro komunis keluar dari SI.

Kubu komunis tidak begitu saja menyerah. Mereka membentuk SI Merah dan mempengaruhi kongres SI 1923 di Madiun. Ratusan bendera merah bergambar palu arit bergantungan di dinding dan di meja podium.

“Kongres ini berjalan dalam suasana ribut dan kacau, di mana podium digulingkan,” tulis Busjarie Latif dalam Manuskrip Sejarah PKI (1920-1965).

Kongres ini betul-betul memisahkan PKI dan SI. Diputuskan mengubah SI menjadi Partai Sarikat Islam Hindia Timur, kemudian hari berubah lagi jadi Partai Sarikat Islam Indonesia (PSII).

Dalam perkembangan lain, berdiri pula Sarekat Rakyat yang dipimpin Aliarcham di Semarang. Organ ini cepat sekali berkembang dan meluas.

Maret 1923 PKI dan SR menggelar konferensi di Sukabumi. Dua hal yang diputuskan, pertama, di mana terdapat cabang SI Merah di sana harus didirikan PKI dan kedua, SI Merah diubah dan digabungkan kepada Sarekat Rakyat.

Paska itu, menurut Busjarie, sekira 30 hingga 35 ribu anggota SI masuk PKI.


div>