SABTU , 17 NOVEMBER 2018

PKI, Partai Politik Pertama yang Menggunakan Nama Indonesia

Reporter:

Editor:

Azis Kuba

Selasa , 15 September 2015 19:29
PKI, Partai Politik Pertama yang Menggunakan Nama Indonesia

Poster propaganda ini dipotret pada 9 Januari 1947. Foto: Dok. Nationaal Archief Belanda.

RAKYATSULSEL.COM – Sering meluasnya basis Partai Komunis Indonesia, nama Indonesia pun ikut meluas. Dari istilah etnologi, Indonesia menjadi identitas sebuah bangsa.

Gara-gara buku Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel yang ditulisnya, banyak orang mengira Adolf Bastian (1826-1905) guru besar etnologi Universitas Berlin, Jerman-lah yang pertama kali menciptakan nama Indonesia.

Padahal tidak. Bastian mencuplik kata Indonesia dari majalah ilmiah The Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia, volume IV, 1850, yang terbit di Singapura. (baca juga: Kata Indonesia Muncul Pertama Kali di Majalah Ini)

Pun demikian, tak bisa dipungkiri bahwa Bastian punya peran besar menyebarkan kata Indonesia. Berulang kali dia menyebut kata Indonesia dalam bukunya yang terbit pada 1884 tersebut.

Alhasil, kalangan akademisi di Eropa mulai akrab dengan kata Indonesia. Sebagaimana mula terciptanya, kata Indonesia dipergunakan hanya dalam khasanah etnologi untuk menyebut Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu.

[NEXT-RASUL]

Pengaruh Bastian pulalah yang membuat Suwardi Suryaningrat alias Ki Hajar Dewantara memberi nama Indonesische Pers-bureau untuk biro pers yang didirikannya saat diasingkan di Belanda pada 1913.

Dan sampai sejauh itu, kata Indonesia belum beresonansi kebangsaaan, belum menjadi identitas sebuah bangsa. Pun demikian, sebagai orang pergerakan, Ki Hajar Dewantara boleh dibilang jembatan beralihnya kata Indonesia dari sekadar nama wilayah menjadi identitas perjuangan.

Memasuki tahun 1920-an, kata Indonesia mulai menjadi simbol perjuangan. Dua organ yang paling berpengaruh dalam hal ini adalah Perhimpunan Indonesia (PI) dan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Simbol Perjuangan
Dalam kongresnya yang ketujuh di Semarang, 23 Mei 1920, Indische Sociaal Democratische Vereeniging (ISDV)—sempalan Sarekat Islam merubah nama jadi Perserikatan Komunist di India (PKI).

Hari itu, Ketua Sarekat Islam (SI) Semarang, Semaoen terpilih menjadi ketua PKI. Darsono—juga aktivis SI—sebagai wakil ketua. Bergsma (guru Soekarno ketika mondok di rumah Tjokroaminoto) jadi sekretaris dan Dekker bendara.

[NEXT-RASUL]

Perserikatan Komunist di India berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia–tetap dengan singkatan PKI–pada kongres kedua di Jakarta, Juni 1924.

Nah, merujuk keputusan itu, jadilah PKI partai politik pertama di muka bumi ini yang menggunakan nama Indonesia.

“Pelopor pemakaian kata ini (sebagai identitas kebangsaan–red) adalah Perhimpunan Indonesia di negeri Belanda pada tahun 1922,” tulis Busjarie Latif dalam Manuskrip Sejarah 45 Tahun PKI (1920-1965), terbitan Ultimus Bandung 2014.

Sebelum berganti PI, organisasi perkumpulan mahasiswa rantau di Belanda ini bernama Indische Vereeniging. Tak hanya mengganti nama organisasi, PI juga merubah nama koran yang mereka terbitkan; Hindia Poetra menjadi Indonesia Merdeka.

Dalam PI, antara lain terdapat nama Mohammad Hatta dan Ahmad Soebardjo, dua orang yang kemudian hari ikut merumuskan naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945.

[NEXT-RASUL]

Sebagai partai politik, “PKI memikul tugas2 sutji di atas pundaknya, jaitu harus berdiri di barisan depan dalam perdjuangan melawan setiap penindasan,” dicuplik dari bab Historis, buku Tesis 45 Tahun PKI, terbitan Jajasan Pembaruan Djakarta, 1965 .

“Karena itu,” lanjutannya, “PKI berdjuang bukan hanja untuk pembebasan nasion Indonesia dari penindasan imperialisme, tetapi akan terus memimpin perdjuangan Rakjat Indonesia guna membangun suatu masjarakat Indonesia Baru jang demokratis, bebas dari penghisapan atas manusia oleh manusia, adil dan makmur.”

Pelanjut Angkatan
PKI tak main-main dengan cita-cita politiknya. Berdasarkan kesepakatan para pemimpinnya di Prambanan, Yogyakarta, 25 Desember 1925, PKI memutuskan merebut kemerdekaan dari tangan Belanda.

Untuk mencapai Indonesia merdeka, mereka merencanakan pemberontakan serentak pada 12 November 1926.

Rencana dijalankan. Pemberontakan meletus di ranah Minang dan sebagian tanah Jawa. Namun apa hendak dikata, Belanda berhasil memadamkan api perlawanan.

Pemerintah kolonial membuang kaum nasionalis generasi awal itu ke Boven Digul, Papua.

[NEXT-RASUL]

Sejurus kemudian, sebagai pelanjut angkatan, Soekarno bersama Tjipto Mangunkusumo mendirikan Perserikatan Nasional Indonesia. Organ yang berdiri pada 4 Juli 1927 itu pada 1928 menjadi Partai Nasional Indonesia (PNI)–partai kedua setelah PKI yang menggunakan nama Indonesia.

Tahun itu juga Mohamad Yamin, WR Supratman dan kawan-kawan mengangkat sumpah di Jakarta. Dalam momentum yang dikenal sebagai Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 tersebut, mereka berikrar berbangsa, bertanah air, berbahasa persatuan; bahasa Indonesia.

Dan Indonesia pun tak lagi sekadar istilah etnologi. Ia menjadi simbol perlawanan dan identitas kebangsaan. (Wenri Wanhar – Jawa Pos National Network/JPNN)


div>