KAMIS , 20 SEPTEMBER 2018

PKS Andalkan Pemira Jaring Bakal Calon

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Kamis , 18 Mei 2017 11:13
PKS Andalkan Pemira Jaring Bakal Calon

MDFAJAR/RAKYATSULSEL PEMIRA PKS. Dua Kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Makassar menggunakan hak pilihnya di Pemilu Raya (Pemira) DPD PKS mencari kandidat wali kota, di Sekrtariat PKS Makassar, Jl Abullah Dg Sirua, beberapa waktu lalu.

JELANG Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak 2018 mendatang, sejumlah Partai Politik (Parpol) saling adu program dalam menggait bakal calon kepala daerah yang dinilai memiliki peluang untuk dapat terpilih.

Seperti program dari Partai Kesejahteraan Rakyat (PKS). Partai yang diketuai Sohibul Iman tersebut sejak lama telah mengandalkan program Pemilu Raya (Pemira).

Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) DPW PKS Sulsel, Irwan ST mengatakan, pemira diselenggarakan dalam upaya kontribusi PKS membangun sistem demokrasi yang lebih sehat di Indonesia. Suksesi kepemimpinan melibatkan seluruh kader yang sesuai ketetapan partai telah memiliki hak suara.

Bahkan, kata dia, pemira juga telah lama digunakan oleh PKS dalam menentukan komposisi anggota dari lembaga tertinggi partai, yang akan mengemban amanah strategis. Dimana, masing-masing jenjang memiliki nilai suara berbeda, karena hasil Pemira menentukan komposisi.

“Pemira memang tradisi PKS dari dulu untuk menjaring calon pejabat buplik yang akan kita usung. Termasuk sebenarnya memang yang paling dasar itu pelayanan untuk calon kepala daerah, tapi yang sejak lama untuk pengurus-pengurus partai,” ungkapnya, Rabu (17/5).

Legislator DPRD Makassar ini menuturkan, sistem pemira merupakan proses demokrasi, dimana aspirasi dari bawah ke atas (bottom up) dengan saluran yang transparan, jujur dan bisa dipercaya.

[NEXT-RASUL]

Sehingga, dalam menentukan calon pemimpin lebih adil dengan adanya suara dari masing-masing kader. Lanjutnya, hasil dari pemira akan ditetapkan oleh DPP sebagai pemegang keputusan dan kebijakan dalam menentukan siapa yang layak dalam menempati komposisi jabatan yang telah ditentukan.

“Cuma pemira ini, sistem kita di PKS ini menggabungkan antara bottom up dan top down. Jadi pemira ini cara untuk mengambil aspirasi dari bawah, kecuali penunjukan atau majelis syuro tidak ada yang sifatnya langsung menunjuk. Misalnya cuma satu langsung terpilih, tidak seperti itu, kecuali pemilihan mejelis syuro,” terang Irwan.

“Jadi yang ditunjuk itu biasa ada beberapa orang dan misalnya untuk pemilihan pimpinan DPD, itu nanti ditunjuk 5 yang terbesar. Top downnya itu adalah diantara lima itu, struktur diatasnya lah yang menentukan siapa yang di posisi mana,” lanjutnya.

Untuk penjaringan kepala daerah, Pemira PKS terlebih dahulu akan dilakukan dalam menjaring kadernya sendiri. Untuk menentukan siapa yang layak di usung nanti. Meski hasilnya tidak akan dijadikan konsumsi publik melainkan internal partai.

Hasil ini akan dijadikan indikator pertimbangan usungan PKS kemudian dikonsultasikan ke tingkat DPW provisi kemudian ke DPP Pusat guna memutuskan bakal calon yang layak.

“Sama juga kita dengan Pemira kepala daerah, kita nanti akan melahirkan 3 nama dari pemira kader internal ini. Jadi aspirasi kader yang diambil yah tiga nama ini yang paling baik menurut kader. Nanti untuk top downnya struktur yang diatasnya lah nanti yang akan merekomendasikan ketiga ini yang kita anggap paling berpeluang menjadi kepala daerah,” paparnya.

Selain itu, Pemira PKS dalam penjaringan kepala daerah juga dilakukan bagi kader eksternal. Dimana, dari eksternal juga dimasukkan paket mana yang cocok yang tentunya tidak melanggar aturan Juknis tata cara mengusung bakal calon. Serta kegiatan ini sudah masuk aturan secara demokratis.

“Jadi ada yang kita jaring dari internal juga ada yang kita jaring dari eksternal. Nah nanti struktur yang lebih tinggilah yang menetapkan. Inikan ada komunikasi politik, misalnya kasusunya untuk pilgub. Nanti DPW yang meramu dan membuat pengusulan jadi dari tiga internal dan tiga eksternal yang hasil pemira itu nanti struktural yang membuat peta-peta kekuatan untuk dikirimkan ke DPP,” jelas Irwan.

[NEXT-RASUL]

“Sama juga dengan pilkada lalu, kita gunakan sistem pemira. Dan digunakan oleh PKS seluruh Indonesia. Jadi ini cara kita menyerap aspirasi dan kita tidak pernah menunjuk satu orang saja. Kita ingin membuka ruang untuk seluruh kader,” lanjutnya lagi.

Lebih jauh, Irwan menjelaskan, tujuan lain dari pemira adalah untuk menyatukan suara kader tingkat cabang hingga tingkat pusat. Artinya, kata Irwan, kader tentu mengetahui berdasarkan kondisi lokalnya, tapi struktur diatas (Pusat) tentu mengetahui aspek strategisnya.

“Bisa jadi ini yang terbaik menurut kader tapi tidak mengetahui peta ukurnya kan. Struktur ini yang lebih mengetahui peta ukurnya jadi digabungkan lah ini. Sehingga antara apa yang ada dipikiran kader dengan konteks lingkungan strategis itu bisa dipadukan,” paparnya.

Irwan tidak menampik bahwa, pada pemira pilkada, bisa jadi kader ekternal yang terpilih, beda kalau pemira untuk internal partai. Tentunya calon kadernya internal partai semua.

“Kalau kepala daerah kan ini untuk jebatan publik yang memungkinkan dari internal dan eksternal. Kita juga tidak paksakan kader internal untuk maju apa bila tidak memungkinkan,” pungkasnya. (D)


div>