RABU , 21 NOVEMBER 2018

PKS di Ujung Tanduk

Reporter:

Suryadi Maswatu - Fahrullah

Editor:

Iskanto

Jumat , 02 November 2018 10:30
PKS di Ujung Tanduk

int

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Sejumlah kader potensial Partai Keadilan Sejaterah (PKS) tidak lagi terdaftar sebagai calon legislatif (Caleg) atau mengudurkan diri sebagai caleg pada Pileg 2019 mendatang.

Di DPRD Makassar, beberapa petahana PKS tak lagi maju di Pileg mendatang. Sebut saja Mudzakkir Ali Djamil, Iqbal Djalil dan Irwan ST.

Bahkan di Pinrang yang merupakan daerah periah suara terbanyak pada Pileg 2014 lalu, kini ketuanya, Bahran Jafar mundur dari pencalegan.

Demikian juga di Parepare, ada dua incumbent tidak dicalonkan oleh PKS untuk DPRD Provinsi yakni, Jafar Sodding dan Taslim Tamang.

Sementara di DPR RI, magnet Tamsil Linrung di Dapil Sulsel 1 tak ada lagi, setelah memutuskan maju sebagai calon DPD. Praktis hanya Akmal Pasluddin yang terus berjuang di Dapil Sulsel 2.

Praktis, PKS kini tengah di ujung tanduk. Raihan suara pada Pileg 2014 lalu diprediksi akan tergerus pada Pileg 2019 mendatang.

Apalagi sejumlah kader PKS Sulsel kini ramai-ramai bergabung ke Gerakan Arah Baru Indonesia (Garbi). Ormas ini digagas mantan Presiden PKS Anis Matta.

Pakar Politik Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Andi Ali Armunanto mengatakan, banyaknya kader PKS yang tidak lagi maju sebagai caleg akan memberi efek terhadap perolehan suara PKS.

“Jelas ada resikonya. Karena caleg-caleg incumbent yang populer sudah memiliki sumber daya dan jaringan politik. Sehingga dengan muda dapat suara untuk partai. Tapi kalau tidak dilibatkan tentu ini memberikan efek bagi partai,” kata Andi Ali Armunanto.

Ia memberikan contoh, salah satu kader PKS tidak maju melalui PKS yakni Tamsli Linrung yang lebih memilih DPD. “PKS kehilangan suara Tamsil Linrung, karena orang-orang dekat dan berada dalam jaringan pastinya ikut meninggalkan dan ini kerugian besar bagi PKS,” jelasnya.

Ia memprediksi jika PKS akan kekurangan kursi pada Pileg 2019 mendatang dengan kurangnya caleg incument. “Tentu ini bisa membuat kursi PKS berkurang,” tutupnya.

Politisi PKS yang saat ini menjabat Bendahara Garbi Sulsel, Mudzakkir Ali Djamil mengaku jika suara PKS di Sulsel akan tergerus dengan bergabungnya sejumlah elite dan kader PKS yang tidak masuk Daftar Calon Tetap (DCT) pada Pileg mendatang.

“Khusus Sulsel kemungkinan suara PKS akan tergerus. Sebagian besar kader PKS yang tak masuk DCT maupun eks pengurus telah mengkonfirmasi untuk bergabung ke Garbi,” ujar Anggota DPRD Kota Makassar ini.

Mantan Sekretaris PKS Makassar ini menyebutkan, Garbi terbuka bagi siapa saja serta dari kalangan mana saja yang ingin bergabung. “Garbi itu ormas bukan parpol. Siapapun bisa bergabung dan ikut berkontribusi bersama Garbi. Pengurus PKS ataupun parpol lain kita ajak gabung,” jelasnya.

Ia menegaskan, kader PKS yang masuk dalam struktur Garbi tidak mengundurkan diri dari partai PKS. Secara legalitas, kata Muda, Garbi bersifat organisasi, bukan partai sehingga tidak harus mengundurkan diri dari PKS.

“Tidak harus mundur. Garbi tidak ada kaitannya dengan kerja-kerja PKS dan target pemenangannya. Saya pribadi tetap berharap PKS bisa capai target yang diharapkan dalam Pemilu 2019,” ungkapnya.

Pihaknya sebagai pengurus Garbi Sulsel mengajak masyarakat yang tertarik dengan ide dan gagasan Garbi untuk hadir dalam deklarasi tanggal 10 November mendatang.

“Nanti akan kita liat saat deklarasi seberapa banyak masyarakat yang merespon ide dan gagasan Garbi. Alhamdulillah, hampir smua daerah di Sulsel sudah terbentuk kepengurusan Garbi,” pungkasnya.

Ketua Harian Garbi Sulsel, Taslim Tamang mengaku jika sebagian besar anggota Garbi adalah eks kader PKS. Meski demikian, dia membantah jika ormas ini lahir karena kekecewaan terhadap PKS. “Kebanyakan kader eks PKS masuk sebagai pengurus inti,” terangnya.

Tak hanya itu, Garbi juga merangkul sejumlah elite PKS dan kader-kader PKS yang gagal masuk DCT.

Kata dia, Garbi adalah panggung buat semua anak bangsa untuk mengekspresikan ide dan gagasannya tentang Indonesia yang lebih maju.
Elite PKS yang berabung diantaranya Bupati Takalar, Syamsari Kitta yang menjabat sebagai Ketua Garbi Sulsel, kemudian mantan Sekretaris PKS Sulsel, Taslim Tamang yang menjabat sebagai Ketua Harian Garbi Sulsel.

Selanjutnya ada politisi PKS yang gagal masuk DCT, Irwan ST dan Mudzakkir Ali Djamil. Irwan ST menjabat sebagai Sekretaris Garbi Sulsel, sementara mantan Sekretaris PKS Makassar, Mudzakkir Ali Djamil menjabat sebagai Bendahara Garbi Sulsel.

Terpisah, Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) DPW PKS Sulsel, Sri Rahmi berharap pada Pileg 2019 ada kader PKS disetiap Dapil. Baik itu tingkat kabupaten/kota, provinsi maupun DPR RI. “Kita targetkan satu kursi setiap dapil,” katanya.

Anggota DPRD Sulsel itu tidak khawatir jika suara PKS tergerus dengan banyaknya kader PKS yang berstatus incumbent namun tidak lagi maju.

Disinggung mengenai saat ini begitu banyak kader PKS, khususnya telah duduk di DPRD pada 2014 lalu kini ditahun 2019 tidak ikut nyaleg, sehingga dipastikan suara kader akan berkurang karena sejumlah tokoh-tokoh atu figur mereka lebih memilih jadi penonton.

“Sejak dulu PKS tidak bergantung dengan figur. Makanya kami tidak khawatir karena kita mengedepankan sistem,” jelasnya.

Menurutnya, Caleg PKS saat ini lebih baik ketimbang Pileg 2014, sehingga bisa mendapatkan kursi yang maksimal. “Formasi caleg kami saat ini lebih bagus ketimbang periode lalu,” ucapnya.

Bahkan ia mengklaim begitu banyak tokoh masyarakat yang ikut bergabung dengan PKS sehingga bisa mendulang suara sebanyak-banyaknya. (*)


div>