RABU , 21 NOVEMBER 2018

PKS – Gerindra Belum Lengket

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Jumat , 18 Agustus 2017 14:34
PKS – Gerindra Belum Lengket

ILUSTRASI

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM– Partai Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) bisa menjadi poros koalisi tersendiri menjelang Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sulsel 2018 mendatang. Akumulasi Perolehan kursi kedua partai tersebut memenuhi syarat minimal usungan sebesar 17 kursi. Dimana jumlah kursi Gerindra di DPRD Sulsel sebanyak 11 dan PKS sebanyak 6 kursi. Belum lagi koalisi Gerindra dan PKS, sudah terbukti efektif memenangkan Pilgub DKI Jakarta beberapa waktu lalu.

Menjelang Pilgub Sulsel, PKS menggadang-gadang sedikitnya lima nama untuk diusulkan ke DPP, yakni Nurdin Abdullah, Nurdin Halid, Agus Arifin Nu’mang, Ichsan Yasin Limpo dan Rusdi Masse. Sedangkan Partai Gerindra untuk saat ini mengusulkan sebanyak empat nama, yakni Ichsan YL, Agus Arifin Nu’mang, Nurdin Halid, dan Rivai Ras.

Sekretaris Gerindra Sulsel, Rusdin Tabi tidak menampik potensi koalisi antara Gerindra dan PKS untuk membuat poros baru di Pilgub Sulsel. “Kemungkinan bisa saja terjadi koalisi Gerindra-PKS di Pilgub,” ujarnya Kamis (17/8).

Kendati demikian lanjut anggota DPRD Sulsel ini, potensi Koalisi antara Gerindra-PKS terjadi jika mendapat persetujuan dari DPP soal Figur yang akan di dorong. “Soal koalisi juga tergantung instruksi DPP,” katanya.

Ia mengungkapkan, sejauh ini persoalan komunikasi antara Gerindra dan PKS berjalan seperti biasa. Hanya saja untuk memastikan bermitra di Pilgub Sulsel nanti, sangat tergantung dari perkembangan politik yang ada.

Rusdin Tabi menambahkan, sejauh ini belum ada figur kandidat Gubernur yang santer disebut berpotensi diusung, semua figur yang sebelumnya diusulkan ke DPP, memiliki peluang yang sama. Oleh sebab itu, ia meminta kandidat untuk bersabar. “Hingga saat ini belum ada,” pungkasnya.

[NEXT-RASUL]

Sementara itu, Ketua Bappilu PKS Sulsel,  Irwan ST yang dikonfirmasi menuturkan, PKS hingga saat ini masih mencermati perkembangan politik yang ada, termasuk perkembangan hasil survei terhadap sejumlah figur yang mewacana maju pilgub. Untuk komunikasi politik, PKS kata dia selalu membuka ruang, baik bagi kandidat maupun elit parpol yang hendak menjalin komunikasi. “Kita PKS selalu membuka ruang bagi kandidat maupun parpol lain,” ujarnya.

Kendati demikian, lanjut Irwan sangat menyambut baik jika Gerindra ingin bersama PKS menjalin koalisi di Pilgub Sulsel. “Justru itu lebih baik, apalagi PKS-Gerinda selalu bersama di pusat,” terangnya.

Sementara itu, Konsultan Politik Jaringan Suara Indonesia (JSI) Arif Saleh menuturkan, keberhasilan koalisi Gerindra dan PKS di Pilgub DKI Jakarta, serta semakin “lengketnya” koalisi di tingkat DPP, tidak bisa dijadikan jaminan bakal berlanjut di Pilgub Sulsel 2018 mendatang. “Sebenarnya kalau dua partai ini berkoalisi itu bisa mengusung satu pasangan di Sulsel. Dan potensi kesitu belum sepenuhnya tertutup. Mengingat, per hari ini mereka belum menentukan pilihannya,” papar Arif.

Hanya saja, untuk mengulang pencapaian di pilgub Jakarta, bukan hal yang mudah. Pasalnya, nama-nama yang bermunculan selama ini, sebagian sudah dikapling oleh partai lain. Sehingga jika mengincar kemenangan, mereka harus berkoalisi dengan partai lain. Di samping itu, elit partai ini di tingkat provinsi belum sepenuhnya menunjukkan kedekatan layaknya di tingkat DPP. Sehingga bisa saja, mereka juga memilih tidak beriringan di pilgub. “Meskipun sebenarnya masih terbuka untuk berkoalisi bersama. Tapi khusus di Sulsel, hubungan dua partai ini terkesan sangat berjarak. Bahkan sebagian elit DPW justru lebih sreg berkoalisi dengan Partai Nasdem Sulsel,” terangnya.

Sementara itu, Pakar Politik Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Andi Luhur Prianto menuturkan, torehan kemenangan PKS dan Gerindra yang membangun koalisi di Pilgub Jakarta tidak dapat dijadikan barometer di Pilgub Sulsel. Pasalnya, kata Luhur, skema politik yang dibangun di Sulsel cukup berbeda dengan yang ada di Pilgub Jakarta. Kehadiran elit-elit parpol tentu menjadi penentu akan hal tersebut.

“Koalisi pilgub DKI bisa saja mempengaruhi formasi koalisi di Pilgub Sulsel, tapi mungkin tidak persis sama. Atau bisa juga tidak persis sama sekali. Selalu ada faktor pragmatisme elektoral yang mempengaruhi keputusan partai politik,” tuturnya.

[NEXT-RASUL]

Luhur menjelaskan, walaupun nantinya PKS dan Gerindra membangun kekuatan bersama namun hal itu tentu akan terpengaruh dengan figur yang akan diusung. Apalagi figur-figur tersebut juga pastinya mendapat dukungan dari parpol lain sehingga tidak dapat dipungkiri akan ada parpol lain yang ikut didalam poros tersebut.

“Profil kandidat yang berpotensi di usung Juga memiliki kedekatan dengan beberapa partai di luar PKS-Gerindra. Sehingga kalaupun bisa memindahkan sentimen Pilgub DKI ke Sulsel, PKS-Gerindra sepertinya masih akan berkoalisi dengan partai lain,” terangnya. (D)


div>