SABTU , 18 AGUSTUS 2018

PMTI Minta Kapolri Turun Tangan Usut Tuntas Kasus Bintuni

Reporter:

Editor:

Azis Kuba

Senin , 21 September 2015 18:59

MAKASSAR,RAKYATSULSEL.COM – Ketua Perhimpunan Masyarakat Toraja Indonesia (PMTI) Ir Frederik Batong mendesak kepolisian untuk mengusut tuntas kasus pembunuhan sadis terhadap satu keluarga yang tejadi di Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat pada 27 Agustus 2015 lalu.

Desakan ini disampaikan PMTI karena, hingga saat ini pengusutan dan penindakan kasus menghilangkan nyawa Frelly Dian Sari dan dua orang anak Cicilia Putri (6), dan Andika (2 ) terhadap pelaku utamanya belum maksimal dan tidak transparan.

Hal ini disampaikan Ketua PMTI Ir Frederik Batong dan Sekjen PMTI David Pajung melalui press release yang diterima Rakyat Sulsel, Senin (21/9) seusai melakukan jumpa pers dengan sejumlah media massa di Jakarta.

Menurut Frederik Batong, kejadian sadis dan sangat memilukan ini menimpa istri dan dua anak dari seorang guru bernama Yulius Hermato yang sudah mengabdikan diri dan seluruh hidupnya untuk tugas-tugas mulia di daerah pelosok Teluk Bintuni. Kejadian itu terjadi saat Yulius Hermanto sedang bekerja dan saat itu istrinya sedang hamil 4 bulan.

Untuk itu atas nama warga negara yang anti kekerasan, lanjut Frederik Batong, pengurus PMTI mengecam keras peristiwa pembunuhan sadis tersebut yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak berperikemanusiaan terhadap Freely yang sedang hamil dan terhadap 2 anaknya disaat suami yang bersangkutan sedang melaksanakan tugas selaku guru di pelosok kabupaten Bintuni.

“Kami juga mendesak aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas dan melakukan penindakan hukum secara tegas dan transparan kepada pelaku yang sudah teridentifikasi tanpa pandang bulu sehingga masalah ini tidak menimbulkan ekses dan dampak panjang di masyarakat khususnya bagi keluarga korban dan masyarakat Indonesia yang anti dengan kekerasan dan yang bersimpati terhadap kasus ini,” beber Frederik.

Menurutnya, kasus ini merupakan kejahatan luar biasa (extra Ordinary Crime) karena membantai orang-orang tak berdaya sehingga perlu mendapat perhatian khusus oleh Kapolri, Panglima TNI, Menteri Pendidikan, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anak, Komnas Perlindungan Anak dam Komisi Anti
kekerasan terhadap Perempuan.


div>