JUMAT , 19 OKTOBER 2018

Polda Dituding Lembek Usut Kasus Gula Rafinasi

Reporter:

Ramlan Makkaratang

Editor:

asharabdullah

Selasa , 03 Juli 2018 15:00
Polda Dituding Lembek Usut Kasus Gula Rafinasi

Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Dicky Sondani, memberi keterangan terkait gula rafinasi ilegal di UD Benteng Baru, Jl Tol Ir Sutami, Makassar, Senin (22/5) lalu. Petugas menemukan 107.360 sak gula atau sebanyak 5000 ton gula rafinasi yang tidak memiliki izin edar. Foto: qudratullah/rakyatsulsel.

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Kasus gula rafinasi milik Ridwan Tandiawan yang ditangani Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Dit Reskrimsus) Kepolisian Daerah (Polda) Sulsel sejauh ini belum memiliki kejelasan.

Penanganan kasus peredaran gula rafinasi itu, bahkan tak pernah lagi terdengar setelah kasus tersebut bergulir selama setahun.

Progres kasus yang sempat berlanjut hingga menuai kekalahan dalam Praperadilan di Pengadilan Negeri (PN) Makassar belum menuai titik terang.

Hal ini mendapat sorotan dari akitivis anti korupsi. Mereka menilai Polda Sulsel terkesan tidak profesional dalam mengusut kasus tersebut.

Koordinator Anti Corruption Committee (ACC) Sulawesi, Anggareksa, Senin (2/7), mengungkapkan Polda terkesan lembek melawan pengusaha.

Angga berpendapat, sejak bergulirnya kasus gula rafinasi itu, profesinalisme Polda Sulsel dapat diukur dalam mengusut tuntas sebuah kasus.

“Kasus tersebut sudah satu tahun dan hingga hari ini tidak ada lagi perkembangannya. Di sinilah dilihat bagaimana profesionalisme Polisi dalam menuntaskan suatu kasus. Tapi, ketika berhadapan dengan pengusaha atau pemodal, Polisi terkesan ‘lembek’,” terangnya.

Menurutnya, gula rafinasi yang tak layak konsumsi ini, sempat beredar di pasaran, dimana sebelumnya gula tersebut tidak memiliki izin dari BPOM dan sangat berbahaya bagi masyarakat. Oleh karena itu, penyidik Ditreskrimsus Polda Sulsel seharusnya lebih serius menuntaskan kasus tersebut.

“Penyidik juga harus serius karena gula rafinasi itu tidak layak untuk konsumsi rumah tangga, sehingga dengan beredarnya gula tersebut telah merugikan masyarakat,” terangnya.

Terpisah, Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Sulsel, Kombes Pol Yudiawan Wibisono, mengungkapkan, kasus ini masih bergulir di Mapolda Sulsel, hanya saja hingga saat ini pihaknya masih terus berkoordinasi dan melengkapi sprindik untuk proses penyidikan baru.

“Gula rafinasi kan waktu sidang Praperadilan kita kalah. Dan itu wajib dihentikan atau di-SP3. Sampai sekarang kita masih terus berkoordinasi dan melengkapi sprindik untuk dilakukan penyidikan baru,” urainya.

Yudiawan menegaskan, jika peredaran gula rafinasi di masyarakat tentu sebuah pelanggaran. Hal tersebut dikarenakan adanya beberapa laporan dari sejumlah wilayah terkait peredaran gula tersebut.

“Kita sidik dan pelanggarannya pasti ada karena ada beberapa laporan dari wilayah dan gula-gula campuran masih kita lidik lagi asalnya dari mana,” ujarnya.

Selain itu, terkait pemanggilan Ridwan Tandiawan, hingga saat ini pihaknya belum melakukan pemanggilan. Pasalnya, hingga kini yang bersangkutan masih melengkapi beberapa izin lainnya.

Sebelumnya, mantan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ini, pernah mengatakan jika kasus gula rafinasi tinggal satu selangkah lagi.

Yaitu melayangakan pemanggilan terhadap saksi Ridwan, kemudian kembali dilakukan gelar perkara.

“Dalam waktu dekat akan dipanggil karena yang bersangkutan masih sakit. Kita hubungi lawyer-nya dia katakan Ridwan (Tandiawan) masih sakit dan kalau sehat kita akan periksa di Polda. Baru selanjutnya gelar perkara untuk tentukan siapa tersangka,” beber Yudiawan. (*)


div>