JUMAT , 24 NOVEMBER 2017

“Politik” Lorong dan Cabe

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Jumat , 14 Juli 2017 10:31
“Politik” Lorong dan Cabe

Arifuddin Saeni

INI barangkali kosa kata yang terlalu berlebihan. Sebuah kata yang telah melampaui imajiner kita untuk selalu menjadi perhatian, bahwa lorong dan cabe, bisa mengubah cara pandang seseorang tentang sebuah objek. Lorong dalam ilmu sosiologi yang kita pahami adalah tempat yang sempit dan menjadi muara dalam banyak budaya dan karakter. Ia bukan hanya pengab dengan peradaban, tapi juga kadang melahirkan kesempitan berpikir.

Sekarang ini, kata lorong dan cabe, telah berubah makna tentang apa yang disebut sebagai gerakan kehidupan. Di sana, ada perubahan cara berpikir bahwa ada sesuatu yang bisa dilakukan, untuk membangun Indonesia bisa dimulai dari hal-hal kecil. Lorong bukan membangun perspektif tentang sikap egaliter kita, tapi juga kesamaan berpikir, tentang apa yang disebut kegotong royongan.

Tapi siapa yang bisa menyangkali, bahwa bahasa lorong dan cabe, telah mengakrabi telinga kita dalan konteks yang berbeda. Kalau lorong kadang melahirkan perspektif negatif dan cabe lahir dari  ‘kerapuhan’ ekonomi kita, yang mendera rakyat kecil. Untuk Makassar telah mengubah kosa kata ini melebihi cara berpikir kita selama ini. Lorong yang tak lagi kumuh dan pengab. Ia mencuat dengan keindahan dan melahirkan kebersamaan.

Menyatukan gerakan-gerakan dan cara pikir untuk hal-hal yang kecil, sesungguhnya dalam dialektika sosial, bisa saja begitu banyak menemui jalan buntu. Perbedaan karakter dan pertemuan arus budaya,  menjadikan lorong akan tetap seperti yang kita pahami selama ini, diaroma yang keras dan sulit memahami antara satu dengan yang lainnya.

Sekarang ini tentu saja telah mengalami pergeseran cara berpikir. Lorong telah menjadikan masyarakatnya bersatu dalam satu tujuan, yaitu menjadikan Makassar sebagai kota berkarakter, tapi tidak jumawa.

Tapi siapa yang bisa membatasi cara orang berpikir,  bahwa lorong dan cabe, bisa menjadi sebuah gerakan politik. Kita tidak tahu, apakah ini benar atau salah. Tapi kita bisa saja sependapat dengan apa yang dikatakan oleh George Herbert Mead dengan teori interaksionalisme simboliknya, bahwa realitas sosial sebagai proses dan bukan sesuatu yang bersifat statis.

Karena itu, kita bisa pahami kalau apa yang dilakukan Danny dan Deng Ical, adalah sesuatu yang coba dilakukan dengan melakukan perubahan kecil dalam masyarakatnya. Perubahan cara berpikir inilah kemudian dalam tindak kesehariannya mengejawantah dalam lingkungannya.

Entah kalau kemudian masyarakat melihatnya bahwa ini adalah kerja nyata dari sebuah pemerintahan. Kita ingin mencoba memahaminya sebagai bentuk komunikasi yang intens. (*)


div>