SENIN , 22 OKTOBER 2018

Politisi Pembolos

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Sabtu , 01 September 2012 10:07

FENOMENA ini terjadi berkali-kali: para wakil rakyat bolos saat sidang soal rakyat. Kritikan dan warning juga sudah diluncurkan bertubi-tubi. Namun, apa lacur. Semua seolah dianggap angin lalu. Begitu lagi, begitu lagi.

Semakin panjang saja daftar kekesalan sekaligus kekecewaan publik terhadap korps institusi tinggi negara saat ini.

Bukan hanya di Senayan, di daerah, seperti Sulsel pun, para wakil rakyatnya nyaris tak berbeda. Seperti, ada yang tidak menghadiri rapat-rapat penting. Kalau pun hadir, ada yang tidur (Rakyat Sulsel, edisi Jumat 31/8).

Memang, bukan sekadar absensi kehadiran yang sedang dipersoalkan di sini. Melainkan, soal tugas dan tanggung jawab yang sejatinya diemban dengan baik melalui partisipasi aktif di saat sidang-sidang soal nasib rakyat dan masa depan negara ini.

Terlalu banyak undang-undang serta sistem tata kelola republik ini yang memerlukan perbaikan serta penyempurnaan terus menerus. Zaman berubah dengan cepatnya.

Tantangan serta permasalahan akibat kemajuan teknologi serta penemuan-penemuan baru telah banyak mengubah wajah sistem dan perundang-undangan kita out of date alias kuno. Di bidang bisnis dan investasi perubahannya terjadi dengan cepat. Sistem perdagangan antarbangsa dan negara mengalami varian yang semakin complicated akibat perubahan sistem teknologi informasi berikut barang yang diperdagangkan.

Segala perubahan ini, bila tidak direspons cepat akan menjadi perangkap yang menjerat langkah kemajuan negara ini menjadi besar dan diperhitungkan. Inilah jebakan menjadi sebuah negara yang developed.

Dan ini harus disingkirkan melalui inovasi berupa revisi-revisi perundang-undangan serta desain anggaran. Ini adalah tugas para anggota dewan yang terhormat. Tidak bisa cuma duduk, dengar, diam, seperti di masa-masa yang lalu. Inisiatif-inisiatif serta kerja-kerja pionneering untuk mengubah postur sistem kenegaraan kita harus dilakukan para politisi Senayan. Dan semua itu, tidak akan terjadi kalau melihat kenyataan hari-hari terakhir ini dimana para anggota dewan yang mulia ini memilih “madol” di setiap sidang atau rapat-rapat penting.

Dan ini sama sekali tidak mencerminkan sebagai wakil rakyat yang merakyat apalagi amanah.

Kita tentu tidak berharap perlakuan kepada para politisi pembolos ini untuk menempuh sistem absensi yang sama dengan para pegawai negeri sipil.

Pemberlakuan finger print bagi anggota dewan bukanlah opsi teknis yang sepatutnya. Kita berharap ada kesadaran yang tinggi disertai tanggung jawab untuk hadir dan proaktif dalam melaksanakan fungsi-fungsi legislasinya. Termasuk menjadi contoh agung bagi rakyat yang diwakilinya tentang arti amanah. Imbauan agar para politisi Senayan dan daerah (DPRD provinsi dan DPR kabupaten/kota) rajin tentu ditujukan kepada mereka yang tingkat absensi serta partisipasinya rendah.

Kita patut mengapresiasi mereka-mereka yang rajin menunaikan tugasnya. Kita berharap mereka tidak pilih-pilih dalam menghadiri rapat, misalnya, cuma urusan-urusan yang basah dan menyangkut posisi diri sendiri. Hadirilah dan bersungguh-sungguhlah memperjuangkan nasib rakyat dan menyiapkan perangkat kemajuan bangsa ini. Please. (*)


Tag
div>