SENIN , 19 NOVEMBER 2018

Popularitas Bukan Penentu Kemenangan Caleg

Reporter:

Suryadi Maswatu

Editor:

Iskanto

Jumat , 19 Oktober 2018 10:30
Popularitas Bukan Penentu Kemenangan Caleg

ilutrasi

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019 makin dekat. Khusus untuk DPRD Provinsi Sulsel, sebanyak 1.196 orang resmi masuk Daftar Calon Tetap (DCT) oleh KPU Sulsel yang berasal dari 16 Partai Politik peserta Pemilu 2019.

Jumlah tersebut terdiri dari Caleg laki-laki sebanyak 743 orang dan perempuan sebanyak 453 orang, tersebar di 11 Daerah Pemilihan (Dapil) yang ada di Sulsel. 1.196 orang Caleg itu akan memperebutkan jatah kuota 85 kursi di DPRD Sulsel.

Masing-masing Caleg pun mulai melakukan yang terbaik agar mendapat perhatian dari masyarakat. Semua berusaha untuk menarik hati dan suara dari para pemilih. Faktor popularitas (terkenal) bisa menjadi modal penting bagi para Caleg. Lantas apakah popularitas Caleg bisa menentukan kemenangan?.

Pakar Politik Unibos Makassar, Arief Wicaksono menilai, popularitas bisa jadi penentu bisa juga tidak. Kenapa demikian?. Popularitas belum tentu paralel dengan akseptabilitas dan elektabilitas.

“Misalnya caleg terkenal dengan keburukannya tentu harapan untuk terpilih lebih kecil dari caleg yang popularitasnya kecil tapi giat menggarap dapil,” ujarnya.
Dijelaskan, kinerja tim politik yang baik dan memadai adalah kuncinya, karena hanya modal dekat saja dengan masyarakat itu tidak cukup. “Tentu hal itu bukan kerja yang mudah,” jelasnya.

Direktur Jaringan Suara Indonesia (JSI), Fajar S Tamin secara singkat mengungkapkan, popularitas Caleg menjadi salah satu unsur penting dalam election. “Kecil kemungkinan pemilih memilih kandidat yang mereka belum kenali,” singkatnya, Kamis (18/10/2018).

Sementara Direktur Nurani Strategic, Nurmal Idrus berpendapat, salah satu strategi yang harus dilakukan Caleg tentu saja mereka harus dikenal dulu sebelum dipilih.
Menurut dia, hasil studi di lapangan, pemilih tak mungkin memberikan pilihannya kepada seseorang tanpa mengenalnya terlebih dahulu.

“Maka tugas pertama Caleg adalah bagaimana agar ia dikenal lebih luas oleh pemilih di dapilnya,” katanya.

Dikatakan, cara-cara konvensional seperti memasang lebih banyak tanda gambar, silaturahmi dan pendekatan dari rumah ke rumah masih efektif. “Tinggal nanti bagaimana Caleg mengefektifkan kampanye konvensional itu menjadi lebih dalam penetrasinya ke hati pemilih,” tuturnya.

Ditambahkan, Caleg juga harus punya banyak inovasi kampanye sehingga membuatnya berbeda dengan calon lainnya. Hal ini tentu memberikan nilai plus dan efek positif.

“Jadi, menurut saya pekerjaan pertama bagi caleg hari ini bagaimana agar nama mereka dikenal lalu kemudian setelah itu berpikir bagaimana pemilih memilihnya,” demikian pandangan Nurmal. (*)


div>