RABU , 22 AGUSTUS 2018

PORMASI Makassar Desak Pemerintah Usut Tuntas Kasus BPPN

Reporter:

Editor:

hur

Kamis , 03 September 2015 17:09

MAKASSAR,RAKYATSULSEL.COM – Poros Muda Anti Korupsi (PORMASI) Makassar mempertanyakan langkah Kejaksaan Agung (Kejagung) terkait skandal yang terjadi di PT Victoria Securities

Indonesia.

Dalam aksi yang digelar di Fly Over dan berlanjut ke kejati, Kelompok Pormasi kota Makassar mengungkapkan kecurigaan mereka akan penanganan kasus Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) tersebut.

Dalam orasinya, koordinator aksi, Najamudin Arfah, mempertanyakan keberanian Kejagung dalam membongkar skandal tersebut. Hal itu dilakukan terkait adanya oknum elit eks pejabat Negara dan partai yang turut andil dan terlibat dalam skandal tersebut.

“Netralitas, ketegasan dan fair Jaksa Agung tentu menjadi harapan publik saat ini. Apalagi, skandal proses pembelian cassie tersebut terjadi pada saat kepemimpinan Megawati Soekarno Putri menjabat
sebagai presiden,” ungkap Najamuddin.

Lebih lanjut Najamudin mengungkapkan, kasus tersebut meski melibatkan eks nomor 1 RI, publik tentu tidak menginginkan ada permainan dan kelakukan elit-elit penguasa yang dengan bangganya mempermainkan
hukum dengan seenaknya di bangsa ini.

“Mereka sudah tidak punya rasa malu untuk mempertontonkan perilaku yang tidak etis. Namun masyarakat pada umumnya pun tidak dapat berbuat apa-apa. Ini harus diketahui oleh masyarakat umum,” terangnya.

Sebagai penolakan atas kasus tersebut, Pormasi kota Makassar dalam unjuk rasanya menuntut aparat hukum segera menyelesaikan masalah itu, terutama mendesak Kejaksaan Agung untuk memeriksa dan mengadili Kepala BPPN 2002-2004 yaitu Syafruddin Tumenggung, dan Menteri BUMN saat itu Laksamana Sukardi. Mendesak Kejaksaan Agung untuk memeriksa dan mengadili seluruh konglomerat/perusahaan yang terlibat dalam obral murah aset-aset BPPN tanpa pandang bulu,

“Untuk itu kami meminta kejaksaan agung untuk membekukan aset-aset para konglomerat yg terlibat patgulipat obral murah aset-aset BPPN,” tegas Najamuddin.


div>