MINGGU , 17 DESEMBER 2017

PPP Main Tiga Kaki

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Selasa , 21 Maret 2017 10:32
PPP Main Tiga Kaki

ilustrasi

MAKASSAR, RakyatSulsel.com – Menjelang Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sulsel yang akan digelar pada 2018 mendatang, geliat partai politik menentukan arah dukungannya terhadap figur calon, pelan-pelan mulai terpetakan.

Bahkan, telah ada partai yang mulai terang-terangan akan mengusung bakal calon di Pilgub yakni Partai Amanat Nasional yang hampir pasti akan mengusung Ichsan Yasin Limpo (IYL). Bukan hanya itu, beberapa DPD PAN di Sulsel juga telah mendeklarasikan akan mengusung Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Sulsel tersebut.

Adapun untuk partai lain yang sedang gencar melakukan komunikasi politik adalah Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Untuk PKS Sulsel, pada Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) DPP PKS lalu, telah melaporkan nama IYL sebagai bakal calon yang telah melakukan komunikasi resmi sesuai dengan mekanisme partai. Sedangkan untuk PPP yang baru-baru ini menggelar Rapat Pimpinan Wilayah (Rapimwil) di Kantor DPW PPP Sulsel, juga telah membahas mengenai arah politik jelang Pilgub mendatang. Selain itu, DPW PPP juga telah melakukan komunikasi dengan internal Partai Golkar Sulsel yang kini sedang menggembar-gemborkan nama Nurdin Halid untuk diusung pada Pilgub 2017.

Terkait hal itu, Ketua DPW PPP Sulsel, Muhammad Aras mengatakan partainya tetap terbuka kepada seluruh bakal calon yang ingin melakukan komunikasi dengan PPP. Yang pasti, kata Aras, PPP di Sulsel akan sangat realistis dalam mengusung calon di Pilgub.”Kami adalah partai terbuka, ketika ada bakal calon yang ingin melakukan komunikasi dengan kami di PPP, kami akan terbuka. Kami tidak akan menutup diri, apalagi kan kalau mau mencapai kesepakatan entah nantinya akan mengusung atau tidak itu tergantung dari cara komunikasi yang dilakukan juga,” kata Aras, Senin (20/3).

Ia menambahkan, ada empat kandidat yang saat ini tengah dilirik PPP, yakni Ichsan Yasin Limpo, Agus Arifin Nu’mang, Nurdin Halid, dan Nurdin Abdullah. “Kami akan tetap mematok bargaining posisi kosong dua di Pilgub, dan untuk nama yang akan didorong sebagai kosong satu kita lihat nanti,” ujarnya.

Menurutnya, komunikasi dengan para kandidat tersebut tidak pernah terputus namun belum mengarah pada keputusan final. “Masih saling menjajaki, belum pi ada keputusan yang mengikat akan mengusung satu kandidat. Begitu juga dengan Ketua DPC yang melakukan komunikasi, itu masih dalam tatanan wajar,” ujarnya.

[NEXT-RASUL]

Pakar Politik Universitas Hasanuddin, Adi Suryadi Culla menilai, Parpol Islam seperti PPP sulit menentukan arah dukungan karena bakal calon yang diusung harus benar-benar memenuhi syarat yang ditentukan oleh PPP. Dimana, PPP ingin melihat keunggulan yang dimiliki oleh bakal calon dari kandidat lainnya. “Parpol islam itu sebenarnya sama dengan parpol lain, mereka aktif memberikan dukungan kepada para kandidat dan itu sesuai dengan syarat mereka. Karena mereka mengusung tidak lagi berlandaskan pertimbangan ideologi tapi bisa saja itu juga dilakukan dengan melihat program bahkan kemungkinan dukungan secara pragmatis itu juga memungkinkan,” tukasnya.

Adi Suryadi Culla menjelaskan, seorang kandidat sebelum diusung harus mampu membuktikan dirinya sebagai yang terbaik. Pasalnya, PPP tentu tidak akan mengusung kandidat yang kurang dalam visi misi program untuk memenangkannya nanti. “Memang ada pertimbangan dan syarat sebelum parpol memberikan usungannya. Biasa kan mereka melihat faktor platform dari kandidat jadi dukungan itukan bisa diberikan berdasarkan orientasi ideologi bisa juga dari prestasi program,” jelas Adi Suryadi Culla.

Lebih lanjut, kata Adi Suryadi Culla, saat ini parpol islam tidak lagi menentukan usungan sesuai dengan kesamaan platform partainya dengan figur calon . Namun, lebih kepada keunggulan para kandidat. Sehingga memerlukan waktu yang cukup lama untuk menentukan arah dukungannya. “Kelihatannya PAN juga itu memberikan dukungannya berdasarkan orientasi program, itu yang menjadi masalah partai islam sebenarnya mereka tidak lagi secara religius mengambil referensi ideologi dalam menetukan kandidat. Istilah yang terjadi sekarang, sehingga dukungan yang diberikan itu ya berdasarkan pada proses yang lebih pragmatis,” terangnya.

Adi Suryadi Culla menambahkan, fenomena usungan parpol yang ada saat ini yakni dalam menentukan keputusan ada pada waktu-waktu injury time atau menjelang akhir waktu pendaftaran di KPU. Bahkan, selama ini, Adi Suryadi Culla menilai, sesama Parpol Islam tidak pernah membangun koalisi yang sama dalam Pilkada maupun Pilgub.

“Orientasi partai islam itu sulit dibedakan dengan partai nasionalis. Maka ada kecenderunhan bahwa keputusan itu tidak bisa diprediksi secara pasti. Mungkin mereka akan mengambil sikap pada injuritime. Tetapi bisa menjadi gambaran pengalaman sebelumnya di beberapa pilkada gubernur maupun kabupaten kota sebelumnya, parpol islam itu tidak pernah solid meskipun ada upaya membangun dukungan yang sama,” tutur Ketua Dewan Pendidikan Sulsel ini.

Sementara itu, Direktur Riset CRC Wahyu mengatakan, yang menjadi penyebab PPP belum menetukan usungan hingga saat ini karena ingin mencari figur yang memang layak untuk diusung. Pasalnya, kata Wahyu, tentu sebuah Parpol ingin mengusung kandidat yang memiliki elektabilitas dan popularitas yang baik di mata masyarakat.  “Saya kira setiap partai pasti menginginkan kemenangan, oleh karena itu merupakan hal wajar jika membangun komunikasi dengan banyak figur, sambil melihat adanya kesesuaian visi calon tersebut dengan ideolagi partai. Dengan melakukan hal tersebut juga dapat menaikkan nilai tawar partai,” ungkapnya.

[NEXT-RASUL]
Wahyu menuturkan, ada tahapan yang memang harus dilalui oleh partai sebelum menentukan kandidat yang akan diusung. Pasalnya, partai ingin memberikan kandidat yang memang layak untuk menang di Pilgub nantinya. Terkait PAN yang lebih dulu menentukan usungannya, Wahyu mengatakan, hal tersebut menjadi pertanda PAN telah melalui tahap penjaringan calon yang memang sesuai dengan syarat yang ditetapkan. “Kita merindukan demokrasi yang berkualitas, dimana masyarakat disuguhkan calon terbaik dari yang terbaik, dan menjadi tugas partai untuk melakukan itu. Partai seharusnya melakukan seleksi detail terhadap calon yang akan diusung. Jika PAN sudah melewati tahapan itu, maka bisa diapresiasi. Yang harus juga dilihat adalah model prngambilan keputusan di partai tersebut terkait pengusungan calon, apakah oleh DPD atau DPP. Hal lain adalah politik itu dinamis,” jelasnya. (E)


div>