• Jumat, 19 Desember 2014
Iklan | Epaper | Redaksi | Citizen Report

Prediksi LSI: Pilpres 2014 Hanya Diikuti Tiga Pasangan

Minggu , 17 Maret 2013 19:41
Total Pembaca : 3290 Views

JAKARTA, RAKYATSULSEL.COM – Lingkaran Survei Indonesia memprediksikan bakal muncul tiga skenario koalisi calon presiden dan wakil residen 2014. Tiga skenario itu adalah Partai Golkar dan koalisinya, dengan Aburizal Bakrie sebagai capres, PDI Perjuangan dan koalisinya dengan Megawati Soekarnoputri sebagai capres, serta Partai Demokrat dan Partai Gerindra dengan koalisinya.

“Demokrat dan atau Gerindra menjadi poros capres di luar PDIP dan Golkar. Demokrat tak punya kandidat capres dan cawapres yang kuat,” ujar peneliti LSI Adjie Alfaraby dalam paparan hasil survei bertajuk “Krisis Capres dan Cawapres Partai Islam, Siapakah Pasangan Capres-Cawapres Terkuat Pemilu 2014, di Jakarta, Minggu (17/3) dikutip dari JPNN.

Mengapa Demokrat dan Gerindra satu poros? Menurut Adjie, karena beradasarkan survei terkini ternyata suara PD di bawah Golkar dan PDIP. “Kalau mau ajukan capres, maka butuh tambahan suara dari partai lain,” katanya.

Dia pun mengulas peta masing-masing poros dan koalisi. Pertama PG dan rekan koalisinya pada hasil survei Maret 2013, PG meraih 22,5 persen.

Asumsinya, jika pemilu 2014 nanti PG tetap meraih minimal 20 persen, maka besar kemungkinan PG bakal mengajukan sendiri capresnya tanpa mitra koalisi karena sudah bisa memenuhi syarat di undang-undang. “Jika suara Golkar kurang lebih 22,2 persen artinya minimal 120 kursi bisa diraih Golkar di DPR,” katanya.

Nah, jika Golkar cukup ajukan sendiri, maka berdasarkan Pilpres 2004 dan 2009 menunjukkan partai yang bisa mengajukan sendiri akan lebih leluasa memilih cawapres. “Karena (cawapres) nonpartai dianggap mampu menjaga conflict of interest capres cawapres tetap bisa diminimalisir,” jelasnya.

Lantas dia menyebut dua nama yang bakal dibidik PG untuk cawapres, yakni Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD dan Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo.

“Jika dua nama ini bersedia, maka hampir dipastikan Golkar akan pilih Jokowi sebagai cawapresnya. Karena Jokowi cawapres potensial bagi capres yang akan bertarung,” ungkapnya.

Untuk poros PDIP dan koalisinya, Adjie mengasumsikan jika pada Pemilu 2014 nanti partai pimpinan Megawati itu hanya meraih 18,8 persen maka, mau tidak mau harus menggandeng partai lain agar bisa mengusung capres. Dia menyebutkan, dari berita-berita di media memang muncul wacana menduetkan Megawati dengan Jusuf Kalla.

“JK bisa melengkapi dukungan minimal pencapresan jika mampu menarik masuk partai lain dalam koalisi. Misalnya JK dikabarkan dipertimbangkan PPP sebagai cawapres,” katanya.

Poros ketiga, adalah Partai Demokrat dan Gerindera dengan koalisinya. Kata Adjie, jika asumsinya PD meraih 11,7 persen dan Gerindra 7,3 persen berdasarkan survei Maret 2013, maka keduanya butuh tambahan suara banyak untuk usung capres.

Saat ini, kata dia, belum ada kader internal PD cukup kuat untuk diusung jadi capres. Menurutnya, meski nama Ibu Ani Yudhoyono di internal yang cukup kuat, namun elektabilitasnya hanya 2,4 persen. “Partai Demokrat dan SBY harus memikirkan siapa capres yang bisa dicalonkan,” ujarnya.

Di internal Gerindra, nama Prabowo Subianto diusung sebagai capres. Bahkan, kata dia, di berita-berita media SBY melirik Prabowo sebagai salah satu capres alternatif. “Jika SBY ingin tetap menjaga trah militer, Prabowo adalah pilihan terbaik saat ini untuk dicalonkan SBY sebagai capres,” ujarnya.

Untuk cawapres, menurut dia, Partai Amanat Nasional dan Hatta Rajasa bisa ikut dalam koalisi ini. Kabarnya, lanjut Adjie, Hatta adalah salah satu kandidat yang dipertimbangkan Prabowo untuk jadi mitra di Pilpres.

“Prabowo dan Hatta dalam pendangan LSI bisa jadi paket yang dipertimbangkan poros ini,” katanya. Ia yakin, pasangan ini akan direstui SBY sebagai salah satu alternatif.

Lebih jauh dijelaskan Adjie, jika memang nanti ada tiga peta koalisi capres tersebut, maka pasangan terkuat adalah Aburizal-Jokowi yang bisa meraih 36 persen suara. Sementara Mega-JK (22,9 persen) dan Prabowo-Hatta 10,1 persen.

Kenapa Aburizal dan Jokowi diunggulkan? Menurut Adjie, itu dikarenakan Aburizal dan Jokowi merupakan pasangan baru dibanding pasangan lain yang banyak alumni pilpres 2009.

Namun harus diingat, sambung Adjie, ada esponden yang belum memutuskan. “Angkanya 31 persen,” ucapnya.

 


Editor: Mulyadi Abdillah