SENIN , 20 AGUSTUS 2018

Pro-Kontra Karebosi, Kapan Berakhir?

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Rabu , 05 September 2012 11:51

RAKYAT SULSEL . HINGGA kini, pembangunan Karebosi masih menimbulkan pro dan kontra di tengah masyarakat. Banyak masyarakat yang mendukung, namun tidak sedikit pula yang menentangnya karena dinilai menyalahi aturan. Apalagi setelah BPN Wilayah Sulsel menyatakan bahwa pembangunan Karebosi tidak memiliki hak pengelolaan lahan (HPL) sehingga dinyatakan status quo. Artinya, aktivitas di atas Karebosi harus dihentikan sebelum ada kejelasan tentang HPL.

Namun tentunya menghentikan aktivitas bisnis di Karebosi Link tidaklah mudah. Banyak pihak berkepentingan, terutama para pedagang yang jumlahnya mencapai ribuan. Lalu, kapan polemik itu berakhir?

Raymond Arfandi, Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Real Estate Indonesia (REI) Sulsel, mengaku kaget ketika pertama kali mendengar isu Karebosi yang akan distatus-quokan. “Selama ini, pasar modern yang dibangun PT Tosan ini merupakan lahan bisnis yang cukup produktif. Tetapi saat ini justru diklaim sebagai lahan berstatus quo. Sejak awal Karebosi memang sudah menjadi perbincangan di mata para pengembang di Sulsel, karena kita mengetahui asal-usul histori Karebosi. Makanya kebanyakan pengembang tidak berani membangun di Karebosi. Tetapi saya tidak tahu apa alasan PT Tosan hingga berani mengambil langkah untuk membangun di Karebosi,” jelasnya.

Sementara Zohra Andi Baso selaku Ketua Yayasan perlindungan Konsumen Sulsel justru mempertanyakan, kenapa polemik itu justru baru muncul sekarang. “Mengapa polemik itu baru muncul lagi sekarang, saya beberapa kali ditanyai terkait Karebosi tentu terkait hak-hak konsumen. Kalau misalnya ada konsumen berkeberatan, maka mereka menanyakan terkait perlindungan konsumen. Kita tidak boleh melihat dari satu sisi, harus keseluruhan, apalagi Karebosi telah dipergunakan banyak orang yang berarti memiliki efek bagi masyarakat umum,” katanya. (RS10-RS11/C)


Tag
div>