MINGGU , 19 AGUSTUS 2018

Produksi Beras Turun, Menpan: Anggarannya Di-nol-kan

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Jumat , 29 April 2016 11:10
Produksi Beras Turun, Menpan: Anggarannya Di-nol-kan

ASEP/RAKYATSULSEL/D BERAS NASIONAL. Menteri Pertanian, Amran Sulaiman berbicara pada seminar Tata Kelola Beras Nasional di Baruga Lappo Ase Bulog, Jl AP Pettarani, Makassar, Kamis (28/4). Seminar yang digelar Perhimpunan Sarjana Pertanian Indonesia tersebut dalam rangka meningkatkan ketahanan pangan serta mengetahui secara jelas pengelolaan beras juga membahas dan mencari solusi khususnya dalam konteks pertanian.

MAKASSAR,RakyatSulsel.com – Tatakelola perberasan nasional ternyata mengalami ketimpangan. Salah satu penyebabnya adalah rantai pasok beras yang terlalu panjang. Hal ini diungkapkan Amran Sulaiman dalam seminar tatakelola perberasan nasional di Kantor Bulog Sulselbar, Kamis (28/4).

Amran menyebutkan, dari hasil perhitungannya, pengusaha beras memperolah keuntungan Rp200 triliun setiap tahunnya. Sedangkan, petani hanya Rp40 triliun. “Rp200 triliun tersebut dibagi kepada 100-200 ribu orang, tetapi petani dengan pendapatan Rp40 tiriliun dibagi 80 hingga 100 juta orang,” terangnya.

“Artinya ini butuh keseimbangan konstruksi pasar baru. Ada model pasar baru, sehingga terbentuk keseimbangan baru,” ungkapnya.

Salah satu cara untuk menyeimbangkannya, pihaknya memulai untuk menahan harga gabah di tingkat petani. “Kita angkat 37 (Rp3.700, red) supaya petani untung. Petani itu pengusaha kecil, harusnya mereka untung. Kalau sudah untung, dia akan melanjutkan pertanamannya,” tuturnya.

Misal, kata dia, Rp1.000 saja kita tahan, kemudian dikalikan 70 juta, hasilnya Rp70 triliun dapat dinikmati petani Indonesia. “Begitupun jagung, lanjutnya, Rp1.000 kita tahan, diatas harga yang tidak wajar selama ini, itu sama dengan Rp20 triliun,” tambahnya.

Artinya, lanjut Amran, baru dua komoditas yang dikelola sudah menghasilkan kurang lebih Rp100 triliun.

[NEXT-RASUL]

Dalam kesempatan ini, Menteri juga mengungkapkan, pihaknya telah memperingati seluruh pemerintah daerah untuk meningkatkan produksi berasnya.

“Kami kan sudah menggandakan dua kali lipat (anggaran, red) tetapi produksinya turun, maka tahun ini anggarannya di-nol-kan. Sudah ada 10 bupati yang kena di Indonesia. Kalau el nino yang menjadi alasan, itu kan terjadi di semua daerah, tidak hanya di daerah tersebut. Buktinya ada daerah yang naik. Pinrang, Bone, dan Bojonegoro naik,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Divisi Regional (Divre) Wilayah Sulselbar, Abdul Muis menyebutkan, serapan gabah saat ini sudah mencapai 305.000 ton atau setara dengan 120.000 ton.

“Harga cukup stabil. Berdasarkan inpres, harga beras Rp7.300 per kilogram beras, kalau GKG (Gabah Kering Giling) Rp4.600, sedangkan GKP (Gabah Kering Panen) Rp3.700,” tambahnya.

Berdasarkan produksi sementara, ia optimistis dapat mencapai target serap gabah sebanya 1 juta ton tahun ini. “Kita optimis karena sampai saat ini kita bisa menyerap 300 ribu ron setara GKP. Bulan depan semoga kita bisa serap 350 ribu ton,” pungkasnya. (ril/D)


div>