RABU , 13 DESEMBER 2017

Produksi Sutera Sulsel Kembali Bergairah

Reporter:

Editor:

asharabdullah

Selasa , 17 Oktober 2017 14:20
Produksi Sutera Sulsel Kembali Bergairah

PRODUK SUTERA. Kemeriahan Fashion Carnaval Silk of South Sulawesi diikuti 1.500 peserta mengenakan pakaian dengan bahan Sutera Bugis di Jl Jenderal Sudirman, Kota Makassar, Sabtu (13/10) lalu. Karnaval ini diharapkan menjadi stimulus bagi pelaku usaha untuk meningkatkan kreativitas mereka meningkatkan kualitas sutera di Sulsel. ASEP/RAKYATSULSEL

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Sejak dahulu, produksi sutera asal Sulsel mengalami pasang surut. Sutera Sulsel sempat mengalami masa emasnya pada tahun 70-an, kemudian merosot lantaran lahirnya jenis sutera dengan kualitas yang lebih baik di dari berbagai negara.

Wilayah Wajo, Soppeng, dan Bone bisa dibilang menjadi pusat sutera terbaik di Indonesia, namun saat itu masih dalam tahap percobaan, sehingga hasilnya belum memuaskan.

Selain itu, meski usaha persuteraan alam Indonesia telah berlangsung hampir 40 tahun, tapi belum mampu mandiri masih membutuhkan peran atau dukungan pemerintah baik pusat, provinsi, maupun daerah untuk memajukan kualitasnya.

Kepala Dinas Perindustrian Sulsel, Ahmadi Akil, mengatakan, salah satu penyebab menurunnya produksi sutera karena kualitas kokon yang berlahan luntur.

“Memang kita pernah besar, tapi sekarang kita turun karena disebabkan kualitas kokon serendah, kemudian dilain pihak pemerintah melarang adanya impor konon, untuk 2018 peluang impor kokon itu terbuka, makanya kami mencoba sebelum itu terjadi dipamerkan besar-besaran,” jelas Ahmadi, Senin (16/10) kemarin.

Ahmadi mengatakan, pihaknya berupaya di sektor hilir, untuk menyiapkan industri pemintalan dan pertenunan untuk dapat kembali eksis dengan mendasari diterbitkan Peraturan Menteri LHK No 37 tahun 2017.

“Melalui kebijakan ini, usaha budidaya ulat sutera yang banyak dilakukan masyarakat di sekitar hutan diharapkan bisa kembali bergairah. Produksi kokon lokal pun diharapkan meningkat sehingga menekan impor benang sutra yang lebih menguras devisa,” ungkapnya.


div>