JUMAT , 19 OKTOBER 2018

Prof Dwia Berbagi Ilmu Penanganan Konflik di Bandung

Reporter:

Hasrianty Dj

Editor:

asharabdullah

Selasa , 03 Juli 2018 13:15
Prof Dwia Berbagi Ilmu Penanganan Konflik di Bandung

Rektor Unhas Prof. Dr. Dwia Aries Tina Pulubuhu, MA., menjadi pembicara pada Pendidikan Reguler Angkatan XLV Sekolah Staf Komando (Sesko) TNI di Gedung Serasan Sesko TNI, Bandung Selasa, (3/7). (ist)

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Kepada 150 Perwira Menengah TNI/Polri, Rektor Unhas Prof. Dr. Dwia Aries Tina Pulubuhu, MA., menjadi pembicara pada Pendidikan Reguler Angkatan XLV Sekolah Staf Komando (Sesko) TNI di Gedung Serasan Sesko TNI, Bandung Selasa, (3/7).
Prof. Dwia membawakan materi dengan tema: “Penanganan Konflik di Indonesia”.

Pendidikan Reguler Angkatan XLV Sesko TNI yang diikuti oleh 150 peserta, terdiri dari 59 orang Perwira Menengah (Pamen) TNI AD, 42 orang Pamen TNI AL, 38 orang Pamen TNI AU, 6 orang Pamen Polri dan 5 orang perwakilan dari Australia, India, Malaysia, Madagaskar dan Singapura yang berpangkat Kolonel atau sederajat.

Sesko TNI adalah pendidikan pengembangan umum tertinggi di lingkungan TNI yang diselenggarakan untuk mencetak calon-calon pimpinan TNI pada level strategis.

Pendidikan Reguler Angkatan XLV kali ini terbilang menarik karena diikuti pula oleh 3 orang peserta wanita, masing-masing 1 orang Pamen dari setiap Matra darat, laut, dan udara.

Dalam presentasinya, Prof. Dwia memaparkan tentang konfigurasi konflik sosial di Indonesia serta berbagai alternatif pendekatan untuk mengatasinya. Para peserta juga nampak sangat antusias dan banyak mengajukan pertanyaan terutama terkait konflik-konflik yang terjadi di Tolikara, Poso, dan Papua.

Sebagai guru besar sosiologi dengan spesialisasi resolusi konflik, Prof. Dwia menegaskan bahwa Indonesia memiliki kerentanan terhadap konflik karena berbagai faktor. “Setidaknya ada tiga faktor sosiologis yang menyebabkan Indonesia rentan terhadap konflik, yaitu: warisan kolonial yang masih berpengaruh hingga kini, kondisi masyarakat yang plural baik secara ekonomi, politik, budaya, dan kekuasaan, serta faktor geografis kepulauan yang mempengaruhi akses terhadap sumber daya alam,” kata Prof. Dwia.

Untuk itu, para pemimpin Indonesia perlu memiliki sensitivitas dalam penanganan konflik. Khusus bagi para pemimpin di institusi militer, sensitivitas ini harus berbarengan dengan kapasitas lainnya, sebab penanganan konflik tidak bisa diselesaikan secara represif saja. Untuk penyelesaian jangka panjang dan permanen, dibutuhkan pendekatan komprehensif, baik sosiologis, politis, ekonomi, bahkan budaya.

Ini adalah kali kedua Prof. Dwia diundang pada forum Sesko TNI. Sebelumnya, pada tahun 2016 Prof. Dwia juga diundang untuk berbicara membagi ilmu kepada para perwira menengah peserta pendidikan di Seskoad Bandung. (*)


div>