SABTU , 15 DESEMBER 2018

Prof Masrurah Lantik MPC ADI Tana Luwu

Reporter:

Editor:

Lukman

Rabu , 01 Agustus 2018 11:53
Prof Masrurah Lantik MPC ADI Tana Luwu

Ketua MPW ADI Sulsel, Prof. Dr Hj. Masrurah Mokhtar, MA, saat melantik MPC ADI Tana Luwu.

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Seminar Antar Bangsa Indonesia Malaysia dirangkaikan Pelantikan dan Rapat Kerja Pengurus Cabang Asosiasi Dosen Indonesia masa amanah 2018 -2023 Tanah Luwu digelar di Auditorium IAIN Palopo, Rabu (1/8).

Hadir pada acara ini Sekda Palopo H Jamaluddin SH MH, Ketua MPW ADI Sulsel, Prof. Dr Hj. Masrurah Mokhtar, MA, Pengurus ADI Sulsel, Sekum Dr Mulyadi Hamid, SE MSi., Wakil Sek. Dr Hj Nurjannah Abna M.Pd., Bidang Kerjasama Dr.Setyawati Yani M.T.IPM, Asean Eng.

Selain itu hadir juga, Rektor IAIN Palopo, Rektor Univ. Andi Jemma, STIP Palopo, Ketua Stikes Kota Palopo, STIKIP Muhamamdiyah Palopo, Rektor Uncok Palopo, Dekan Humanity Universitas Malaysia Sabah Prof Dr Ismail Ibrahim serta mahasiswa Program S3 UMS sebanyak 31 orang.

Sekda Palopo H Jamaluddin, dalam sambutannya mengatakan kehadiran tamu undangan dari luar Palopo khususnya rombongan serumpun UMS dan Ketua ADI Sulsel beserta rombongan merupakan kehormatan pemerintah dan masyarakat Kota Palopo.

“Ini berkah tersendiri dan pertanda kemajuan peran dan tanggung dosen dalam pengembangan pendidikan di Kota Palopo dengan tetap mengacu pada kearifan lokal. Kami berharap dengan organisasi profesi dosen ini akan lahir ide dan gagasan dan cerdas model pengembangan pendidikan yang melahirkan generasi yang cerdas berkarakter, dan mampu bersaing di era revolusi industri,” ujarnya.

Ketua ADI Cabang Tanah Luwu yang juga Ketua Panitia Pelaksana, Dr. Suwedi MS, menyebutkan implelentasi UMS dengan IAIN Palopo dengan ADI mendorong dosen dalam upaya meningkatkan kinerja dan partisipasi, terutama dalam mengimplementasikan tri darma perguruan tinggi, meningkatkan publikasi internasional.

“Seminar dengan antar bangsa ini ibarat titian muhibah, tercipta harmonisasi pendidikan dan kebudayaan Indonesia dan Malaysia,” jelasnya.

Sementara Ketua Umum ADI Sulsel, Prof. Dr Hj Masrurah Mokhtar, MA mengatakan, organisasi ADI merupakan organisasi profesi dosen tertua yang bertujuan untuk menjawab tantangan profesi dosen seiring dengan perubahan lingkungan yang amat dinamis dan sangat membutuhkan kemitraan dan kolaborasi antar dosen itu sendiri.

Untuk di Sulsel, menurut Rektor UMI Makassar ini, ADI telah hadir sejak tahun 2011, dan tahun 2017 di perhelatan Rakernas diamanatkan majelis pimpinan wilayah membentuk cabang berbasis kabupaten atau gabungan kabupaten.

“Implementasi program tersebut kami wujudkan dengan pelantikan pengurus DPC di Kabupaten dan komisariat di kampus,” kata Prof Masrurah.

Berkaitan dengan tema yang diusung, Ketua Umum BKS PTIS pusat ini mengatakan acara seminar antar bangsa Indonesia Malaysia ini mengangkat tema ‘Harmonisasi pendidikan dan kebudayaan’

Masyarakat Indonesia dan Malaysia, kata dia memiliki sejarah panjang dalam hal pengembangan budaya lokalnya.

Kebudayaan lokal Indonesia maupun Malaysia dahulu dikembangkan oleh para cerdik pandai, alim ulama, para pemikir pada zamannya. Kebudayaan bugis, makassar, toraja, mandar, budaya luwu, budaya palopo, dan budaya melayu adalah hasil pemikiran dari para cerdik pandai di masanya.

Perilaku, tatanan sosial, bahasa adalah hasil dari olah kebudayaan. Kearifan lokal yang berasal dari budaya lokal, perlu dijaga dan dilestarikan oleh para kaum terdidik zaman sekarang.

“Sering kita mendengar ‘think globally, act locally’, saya sangat sepakat dengan kalimat tersebut. Di tengah-tengah hiruk pikuk cyber technology, Internet of Things (IoT), dimana semua informasi bisa tersebaf atau diperoleh dimanapun pada saat yang sama, maka peran ‘act locally’, berbuat dengan kearifan kebudayaan lokal, akan sangat diperlukan,” bebernya.

Manusia terdidik Indonesia atau Malaysia harus tetap bisa berperilaku sebagai manusia yang tidak tercabut dari akar budayanya. Sehingga sebagai pendidik, dosen Indonesia yang tergabung dalam ADI, harus mampu mengembangkan harmonisasi antara kebudayaan dan pendidikan.

“Tidak ada artinya pendidikan tanpa kebudayaan dan juga kebudayaan akan mandul tanpa dilakukan oleh orang terdidik. Tidak ada yang perlu ditentangkan mengenai pendikan dan kebudayaan. Keduanya selayaknya berkembang secara selaras untuk menciptakan manusia manusi terdidik yang paripurna: pintar otaknya, kreativ, inovatif dan berperilaku selaras dengan kebudayaan adi luhung. Dalam bahasa agama, manusia terdidik yang dihasilkan pendidikan tinggi adalah manusi yang berilmu amaliah, beramal ilmiah dan berakhlaqul qorimah,” ujarnya Prof Masrurah.

Di akhir sambutan, mantan Dekan Fak Sastra UMI ini mengucapkan apresiasi dan mengucapkan selamat kepada pengurus ADI Cabang Tana Luwu 2018-2023. “Semoga nantinya dapat merumuskan program kerja yang dapat menunjang dan memfasilitasi para dosen untuk meningkatkan kapasitas dan kompetensinya untuk terus berkarya dan berprestasi di era distruption,” harapnya. (*)


div>