SELASA , 20 FEBRUARI 2018

Program Pendidikan IYL-Cakka Paling Realistis

Reporter:

Suryadi - Iskanto

Editor:

asharabdullah

Sabtu , 10 Februari 2018 13:00
Program Pendidikan IYL-Cakka Paling Realistis

Dok. RakyatSulsel.

* Tuai Pujian Sejumlah Akademisi

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Bakal calon gubernur Sulsel, Ichsan Yasin Limpo (IYL) akan menghadirkan terobosan baru dalam dunia pendidikan di Sulsel. Mantan Bupati Gowa dua periode itu mengaku siap menggelontorkan subsidi 1,5 Triliun pertahun untuk perbaikan mutu pendidikan di Sulsel.

Bahkan, IYL juga mengaku akan memberikan kejutan dengan menerbitkan Peraturan Gubernur (Pergub) yang mengatur perihal seragam pendidikan yang masuk dalam tanggungjawab pemerintah kabupaten/kota dan provinsi.

Pasangan Andi Mudzakkar (Cakka) ini programnya merupakan hal realitis yang sangat mendasar bagi masyarakat Sulsel untuk perbaikan kualitas sumber daya manusia kedepan.

Terkait hal itu, Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Prof Bahaking sangat mengapresiasi atas inovasi IYL dibidang pendidikan tersebut. Apalagi, kata dia, IYL merupakan tokoh pencetus pendidikan gratis di Kabupaten Gowa saat dirinya menjabat sebagai Bupati Gowa dua periode.

“Pak Ichsan kan sudah punya banyak pengalaman di bidang pendidikan, juga dari kakaknya (Syahrul Yasin Limpo). Karena memang pendidikan itu harus banyak mendapat perhatian dari pemerintah. Apalagi, program pendidikan gratis yang diprogramkan Pak ichsan,” kata Prof Bahaking.

Ia menambahkan, putra-putri Sulsel harus bisa mencapai pendidikan minimal hingga tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA). Karenanya, kata dia, jenjang tersebut sudah cukup matang untuk menentukan arah kehidupannya kelak.

“Karena memang penduduk Sulsel itu wajib belajar 12 tahun bukan lagi 9 tahun. Jadi tidak ada lagi pemuda yang tidak tamat SMA. Karena dengan tamat SMA sudah lebih baik peluang pekerjanya,” jelasnya.

Terkait dana pendidikan yang akan digelontorkan sebesar 1,5 triliun pertahun, Prof Bahaking mengatakan hal itu tentunya demi memperbaiki sistem pendidikan yang ada.
“Kalau pendidikan diperhatikan pasti daerah itu akan lebih maju. Apalagi dengan gelar doktor Pak Ichsan saat ini bisa menjadi teladan bagi masyarakat untuk berpendidikan tinggi,” ujarnya.

Terkait keinginan IYL yang akan merevisi Pergub wajib berseragam sekolah bagi peserta didik, Prof Bahaking mengatakan hal itu telah diperhitungkan secara matang oleh IYL.

“Itu sangat bagus, itu tentunya dalam pandangan Pak Ichsan jangan hanya karena persoalan seragan sekolah yang tidak bisa dibeli lantas harus putus sekolah. Itukan intinya disitu. Dan ini jalan keluarnya yang baik dari Pak Ichsan,” pungkasnya.

Sementara itu, mantan Rektor Universitas Negeri Makassar (UNM), Prof Dr Arismunandar mengaku mengapresiasi program pendidikan yang dicanangkan IYL-Cakka dalam membangun Sulsel. Menurutnya, program subsidi Rp 1,5 triliun bisa mendorong peningkatan kualitas pendidikan secara merata di Sulsel.

“Saya kira dari sisi kebutuhan, makin besar dana pendidikan, alokasi itu makin bagus,” kata Prof Aris, Jumat (9/2).

Prof Aris juga mengaku memang tidak mengetahui subsidi pendidikan untuk saat ini, namun yang dicanangkan oleh IYL-Cakka cukup menarik. “Saya tidak tau kalau posisi sekarang, tapi saya kira angka itu sangat baik kalau kita ikut mensupport. Karena banyak sekali kebutuhan biaya pendidikan kita,” ungkapnya.

Oleh karena itu, akademisi asal Sinjai ini memberikan saran untuk mengefektifitas pendidikan di Sulsel, pertama yang dilakukan adalah peningkatan kualitas pendidikan terhadap sistem pembelajaran diantaranya kualitas guru, dan pelatihan.

“Juga perlu ada perbaikan sarana dan prasarana, pengadaan laboratorium dan itu semua terkait hal-hal yang termasuk dari prioritas kita ke depan,” ungkapnya.

Kedua, kata dia, sarana pendidikan. Menurutnya perlu ada rehab sarana pendidikan dan perlu ada penambahan ruang kelas. “Dan saya kira juga memang, kelas sekolah kita ini memang perlu didorong menjadi yang terbaik lah,” tuturnya.

Olehnya karena itu, biaya subsidi pendidikan yang rencananya digelontorkan sebesar Rp1,5 triliun tersebut sangat diperlukan. Dia pun mengapresiasi Sitem Kelas Tuntas Berkelanjutan (SKTB) yang telah diterapkan IYL ketika menjabat Bupati Gowa.
Menurutnya pendidikan gratis memang perlu untuk pemerataan pendidikan dan meretas kesenjangan pendidikan. “Itu lebih baik saya kira, tapi saya kira jangan hanya di tingkat SMP, SMA tapi juga harus ada di perguruan tinggi,” jelasnya.

Ia menilai, kebijakan ini persoalan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang cenderung masih rendah dibandingkan daerah di pulau jawa. “Nah salah satu cara bagaimana memastikan bahwa seluruh anak-anak yang berusia sekolah itu bisa mengenyam pendidikan. Saya kira SKTB itu adalah awal yah,” jelasnya.

Lebih jauh, Prof Aris mengatakan SKTB iniadalah dasar untuk skala lebih luas lagi yakni Sulsel secara umum. “Itu (SKTB) kan sudah ada dasar. Semacam ada rintisan.

Rintisannya itu kan seperti penggunaan deteksi dini yang bermasalah. Itu kan perlu diperluas. Pengembagan sistem SKS. Sehingga anak-anak bisa melakukan kecepatan belajar. Itu saya kira bisa teruskan untuk lingkup yang lebih luas lagi,” terangnya.

Hanya saja, kata Prof, anggaran RP 1,5 T perlu ada kajian sehingga sasarannya tepat. “Harus ada kajian, ini kalau alokasinya ke tunjangan guru saja, itu tidak memberikan nilai dampak apa-apa terhadap sumber daya yang lain,” pungkasnya.

Sementara Dekan Fakultas Psikologi UNM Makassar, Prof Dr Muhammad Jufri mengatakan, terobosan baru yang akan dicanangkan oleh IYL merupakan inovasi guna memajukan pendidikan.

Menurutnya, kepedulian IYL pada dunia pendidikan sangat luar biasa sehingga tak salah jika ada program lanjutan pasca menyandang gelar Doktor. “Sangat bagus, jika ada inovasi untuk dunia pendidikan. Ini akan menjadi modal untuk kemajuan pendidikan,” kata Prof Jufri.

Gurur besar Psikologi UNM ini mengaku perkembangan saat ini perlu terebosoan baru untuk memikirkan solusi lain sebagai bentuk konstribusi dalam membangun pendidikan di Sulawesi. Menurutnya, niat IYL untuk mengatasi kemungkinan yang terjadi dalam dunia pendidikan maka tentu telah menyelamatkan generasi masa depan.

“Dan kita tau juga, sosok IYL sangat peduli akan dunia pendidikan. Ini yang sangat berbeda dengan yang lain,” pungkasnya. (*)


div>