JUMAT , 21 SEPTEMBER 2018

Prostitusi Berkedok Warung Makan, Sedia ‘Ikan Cantik’ Pemuas Birahi

Reporter:

Editor:

doelbeckz

Sabtu , 13 Mei 2017 13:37
Prostitusi Berkedok Warung Makan, Sedia ‘Ikan Cantik’ Pemuas Birahi

Ilustrasi. foto: jpg

JAKARTA – Keberadaan Waduk Jangari di Desa Bobojong, Kecamatan Mande menyimpan segudang potensi wisata. Namun, dibalik keramaian kawasan wisata terebut, kini mulai marak bermunculan warung remang-remang plus ‘ikan cantik’ penggoda birahi atau wanita penghibur.

Sejak beberapa bulan terakhir, Jangari menjadi buah bibir. Bukan karena keindahan alamnya, melainkan kemolekan para ‘ikan-ikan’ pemuas birahi lelaki hidung belang. Saban hari, mereka menyambangi Jangari demi memuaskan hasrat seksualnya.

Tak hanya pribumi, warga dari sejumlah daerah pun rela datang demi mencicipi ‘ikan-ikan cantik’ Waduk Jangari. Mereka menggunakan warung makan serta tempat pemancingan keluarga sebagai modus operandinya.

“(Jumlah warung makannya) puluhan. Gak jual ikan nila saja. Tapi, menjual ‘ikan cantik’ alias wanita penghibur setiap masing-masing warung itu,” ujar Yogi (40), salah seorang pengunjung sebagaimana dilansir, Sabtu (13/5).

Penelusuran di lapangan, setiap warung biasanya sudah disisipi wanita penggoda muda cantik usia belasan. Mereka mengistilahkannya dengan sebutan ‘Ikan Nila Cantik’. Usianya sekira 18-20 tahun.

“Harganya sekali kencan dibandrol Rp200 ribu hingga Rp700 ribu, kalau kamar beda lagi harga Rp50 hingga Rp100 ribu,” ucap salah seorang pemilik warung remang-remang.

Sementara, HN (18) dan, ENK (20) dua wanita penghibur yang masih dikatakan terbilang muda membeberkan alasannya terjun menjadi PSK di Waduk Jangari.

[NEXT-RASUL]

Keduanya mengaku awalnya dipekerjakan untuk memikat pelanggan. Namun lama kelamaan, baik HN maupun ENK mulai berani merayu dengan menawarkan miras, serta bernyanyi karaoke.

“Ya akhirnya kami tawarin kamar dan jasa seks sekalian,” ujar HN.

Hal senada diutarakan ENK. Dia memaparkan, tarif jasa seks murah membikin para hidung belang berdatangan. Mulai dari ongkos ngamar sampai si PSK-nya sendiri.

“(Pelanggan) hampir semua usia. Dari remaja sampai yang tua,” jelas dia.

“Kami juga bisa manggil perempuan di sebelah kalau mereka kurang puas sama yang di sini. Cuma tarifnya beda,” jelas ENK.

Yang jelas, ENK mengaku sejatinya risih dengan apa yang dilakukannya. Namun, dia tak punya cara lain buat mengais rezeki. Di matanya, hanya dengan menjajakan diri lah bisa menghasilkan rupiah.

“Kerjanya begini sih enak gak enak, karena setiap malam begadang, mungkin terpaksa dijalani karena melihat faktor kebutuhan ekonomi zaman kian menambah,” tandasnya. (***)


div>