RABU , 14 NOVEMBER 2018

Proyek Aquapond Masih Berkutat Pada Pemasangan Alat Pengukur Curah Hujan

Reporter:

Al Amin

Editor:

Iskanto

Kamis , 18 Oktober 2018 17:03
Proyek Aquapond Masih Berkutat Pada Pemasangan Alat Pengukur Curah Hujan

ilustrasi(*)

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Pemprov Sulsel bekerja sama dengan Japan International Cooperation Agency (JICA) berencana membangun kolam retensi atau aquapond di halaman depan kantor gubernur. Kolam itu sebagai pengendali banjir di depan Kantor Gubernur Sulsel.

Sejak Juli hingga Oktober 2018 ini, dibuatkan detail of desain (DED) yang sudah rampung. Pengukuran di lokasi tempat pembangunan aquapond juga sudah dilakukan.

Selanjutnya, menurut Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air, Cipta Karya dan Tata Ruang, Andi Dharmawan Bintang, sudah akan dipasang alat pengukur curah hujan berbasis IT.

Selain itu, pihak JICA mewakili pemerintah Jepang saat ini sementara mempersiapkan lelang proyek aquapond tersebut.

“Sekarang sementara didiskusikan apakah mau lelang secara ambil lokal atau nasional,” ungkap lelaki yang akrab disapa Andi Wawan itu.

Karena ini merupakan proyek yang sepenuhnya dibiayai oleh Jepang, Pemprov Sulsel sepenuhnya menyerahkan proses lelang kepada mereka. Kemungkinan besar proses lelang akan dilakukan melalui pengumuman koran. Atau melalui asosiasi. Tidak melalui ULP milik Pemprov Sulsel.

“Kita hanya memberikan saran kepada mereka untuk memanfaatkan pekerja lokal. Tetapi keputusannya di sana,” jelasnya.

Menurut mantan Kepala Biro Humas dan Protokol itu, jika seluruh tahapan berjalan lancar, diharapkan aquapond ini sudah bisa beroperasi untuk menanggulangi banjir di akhir 2019 mendatang.

Sebelumnya, Ibrahim Jamaluddin, staf ahli JICA Bidang Pengembangan Infrastruktur secara gamblang menjelaskan teknis pembangunan kolam retensi tersebut.

Menurut dia, pembangunan Aquapond ini merupakan ujicoba penggunaan teknologi Jepang untuk penanggulangan banjir. Jepang memberikan dana hibah Rp19,4 miliar difasilitasi oleh JICA dan dieksekusi PT Yamao.

Untuk kepentingan pembangunannya, berbagai tahapan dilaksanakan. Tahun 2016 September hingga Oktober 2017 dilakukan visibility study. Ada sembilan titik di Kota Makassar yang rawan banjir masuk dalam visibility studi sebelum memutuskan depan kantor gubernur menjadi lokasi pembangunan Aquapond itu.

Sementara Januari hingga Maret tahun depan, pembuatan beton pra cetak yang dikerjakan oleh Wika. Selanjutnya, April hingga September 2019, konstruksi kolam retensi tersebut mulai dilaksanakan. Dan setelah rampung, pada Desember 2019 hingga Februari 2020, dilakukan evaluasi kapasitas Aquapond sebelum diserahkan pengelolaannya ke Pemprov Sulsel pada April 2020 mendatang.

Menurut Jamaluddin, karakteristik aquapond ini,  sebesar 90 persen ruangannya bisa menampung volume air dari air hujan. Karena sifatnya tertanam di tanah, maka areal diatas aquapond itu bisa digunakan untuk sarana perparkiran ataupun taman. Konstruksinya mampu menahan beban hingga 25 ton.

Pada dasarnya, aquapond ini merupakan struktur bangunan berkonstruksi beton dengan ukuran 8x70x2 meter yang mirip bak tertutup untuk menampung air. Dilengkapi dua pompa, yakni pompa yang mengalirkan air dari jalan ke bak tersebut, serta satu unit pompa untuk mengalirkan air dari kolam retensi itu ke saluran drainase yang bermuara ke Sungai Pampang. (*)


Tag
div>