MINGGU , 18 NOVEMBER 2018

Proyek TPA Bintang Lima “Mogok”

Reporter:

Armansyah

Editor:

asharabdullah

Rabu , 18 April 2018 09:00
Proyek TPA Bintang Lima “Mogok”

Wali Kota Makassar Mohammad Ramdhan Pomanto bersama Wakil Wali Kota Makassar Syamsu Rizal meninjau lokasi TPA Tamangapa, Kecamatan Manggala, belum lama ini. foto: ist for rakyatsulsel.

* Pemkot Terkendala Pembebasan Lahan

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Proyek Percontohan Nasional Persampahan, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bintang Lima yang berlokasi di Kecamatan Manggala, Makassar sepertinya tinggal wacana. Sejak diprogramkan tahun 2016 lalu, hingga kini proyek tersebut belum berjalan karena lahan yang belum siap.

Kepala Bidang Persampahan DLH Kota Makassar, Ayyub Salahuddin mengakui bahwa proyek TPA Bintang Lima sampai saat ini masih sebatas rencana pembangunan yang bakal menjadi percontohan nasional karena masih banyak hal yang menjadi kendala terutama lahan yang belum siap.

Lahan yang dibebaskan baru sekira 2,5 hektare dari total kebutuhan lahan TPA Bintang Lima yakni 16 hektare yang disiapkan. “TPA Bintang Lima masih banyak yang harus dipenuhi, lahan dan juga paling penting soal regulasi peraturan wali kota,” ucap Ayyub, Selasa (17/4) kemain.

Ia mengatakan, setelah regulasibdan lahan tersedia, pihak pemkot harus mencari investor untuk menunjang kebutuhan TPA Bintang Lima. “Ini kegiatan besar jadi butuh dana besar ditambah harus ada teknologi yang ada disana nanti,” ucap Ayyub.

Sementara itu, Direktur Bank Sampah, Sahar Ridwan mengatakan, lambatnya pengerjaan Proyek TPA Bintang Lima lantaran Peraturan Presiden (Pepres) terkait hal itu baru saja diteken oleh presiden, selain itu kendala lainnya yakni lahan yang masih minim.

“Lahan untuk TPA Bintang Lima itu baru yang ada 2,5 hektare, selain itu juga kesepakan dengan PLN karena disana itu hasil akhirnya soal listrik (PLTS) nah ini kita mau bahas dulu ini,” ucap Sahar.

Ia menjelaskan, TPA Bintang Lima ini akan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTS) yang tentunya akan menghasilkan listrik sehingga harus ada kesepakatan PLN dengan pihak pemenang tender soal harga listrik yang akan didistribusikan ke warga.

“Perlu ada kesepakatan antara daerah dan PLN soal pembelian listrik, kalau sudah jadi harga listrik ditentukan oleh PLN,” ucap Sahar.

Kendala selanjutnya, kata Sahar, soal tender yang harus dilakukan Beauty Contes. Artinya semua investor harus melakukan Previsibilitystudy.

“Previsibilitystudy ini layak dilakukan untuk melihat apakah teknologi yang dimiliki cocok dengan komposisi sampah kita, kalau sudah ada perpres keluar dari 70 investor belum ada yang lakukan Previsiblitystudy karena terkendala biaya,” ucap Sahar.

Ia mengatakan, tidak adanya investor yang melakukan Previsibilitystudy menjadi salah satu kendala dalam pembangunan TPA Bintang Lima. “Saya melihat tidak ada yang mau Previsibilitystudy karena butuh Rp200 juta dan hal itu bukan jaminan investor yang menang tender, itu saya kira juga kendalanya,” ucap Sahar. (*)


div>