PSM Harus Manfaatkan, Lini Belakang Sriwijaya FC Kehilangan Figur Pemimpin

obby Satria tak memiliki karakter pemimpin seperti yang dibutuhkan Sriwijaya FC di lini belakang. (Kris Samiaji/Sumeks)

RAKYATSULSEL.COM – Lini pertahanan jadi prioritas perbaikan Sriwijaya FC jelang lawatan ke markas PSM Makassar, Minggu (21/5). Disebutkan, lini belakang Laskar Wong Kito saat ini kehilangan figur pemimpin.

Jika dilihat dari performa statistik, lini belakang Sriwijaya FC memang sedikit bermasalah. Meski subur di lini depan dengan torehan 8 gol, tim jersey kuning juga kedodoran pertahanan. Gawang Teja Paku Alam sudah tujuh kali kebobolan.

Keroposnya lini pertahanan skuat Jakabaring tidak lain karena tidak adanya sosok leadership. Jika flasback, kokohnya lini pertahanan Sriwijaya FC, tidak telepas karena ada satu sosok pemain senior sebagai pemimpin.

Musim kejayaan 2007-2008 kala meraih gelar juara Liga Indonesia dan Piala Indonesia, pertahanan dikomandoi Charis Yulianto. Sosok yang selalu jadi panutan di lini belakang. Begitu juga kala menjadi juara Indonesia Super League (ISL) 2011-2012, sosok Thierry Gathuesi menjadi cukup disegani.

Musim 2017, kompoisi lini pertahanan anak asuh Osvaldo Lessa belum begitu greget. Duet Yanto Basna-Firdaus Ramadhan, atau Yanto Basna-Bobby Satria dianggap biasa saja. Bio Paulin Pierre bisa jadi leader namun masih terkendala cedera.

Ditanya mengenai hal ini, Asisten Pelatih Sriwijaya FC, Hartono Ruslan juga tak membantahnya. “Kalau dibilang pengaruh, ya pasti ada. Memang harusnya ada satu pemain yang punya tipikal leader di posisi belakang,” ujarnya.

“Sebenarnya kami punya harapan, peran ini bisa digantikan oleh Bio Paulin. Tetapi, kami tidak bisa apa-apa, karena Bio masih cedera,” tambahnya.

[NEXT-RASUL]

Meskipun begitu, mantan pelatih Persik Kediri ini, masih tetap optimistis dengan komposisi lini pertahanan sekarang. Baginya, penampilan Yanto Basna, Firdaus Ramadhan, dan Bobby Satria, sudah cukup bagus di enam pertandingan terakhir. Apalagi dua penopang pada posisi wingback, Zalnando di sektor kiri dan Marcko Sandy Meraudje pada sektor kanan main cukup efektif.

Hanya saja, pada posisi stoper memang terlihat sering melakukan kesalahan individual. “Memang ada cela disitu. Kami masih sering lakukan kesalahan sendiri. Komunikasi ini yang harus ditingkatkan lagi. Untuk permainan juga, harusnya kami lebih taktis saja,” ujarnya.

Kesalahan inilah yang harus diminimalisir saat menghadapi PSM. Yanto, Bobby atau Firdaus, tidak perlu bermain terlalu individual. Mengingat pertahanan adalah lini yang safety.

“Ini sudah kami coba terapkan di anak-anak. Jadi, untuk pertahanan, kami bisa bermain simpel saja. Tidak usah, melakukan keeping-keeping bola lagi. Karena pada dasarnya belakang itu, lini yang harus seteril,” tukasnya. (cj11/ion/ira/JPG)