Selasa, 25 Juli 2017

Ema Husain Sofyan (Aktivis Perempuan)

PSM Kalah!

Rabu , 17 Mei 2017 10:37

Kalahnya PSM Makassar dari PS TNI dengan skor 2-1 membuat suporter dan pencinta PSM kecewa. Bentuk kekecewaannya dilampiaskan dalam medsos, salah satu kalimatnya adalah: “kekalahan PSM adalah bentuk konspirasi untuk menggagalkan PSM juara” koment lainnya adalah “wasit berpihak pada tuan rumah”.

Kekalahan memang menyakitkan, entah itu dalam pertandingan olaharaga semisal sepak bola, maupun dalam pesta demokrasi pemilihan  Kepala Daerah (Pilkada), tapi sebaiknya kita tidak menyalahkan pihak lain dalam menyikapi suatu kekalahan, bisa saja ada yang kurang dalam tim kita entah itu tim sukses maupun suasana tim olahraga yang tidak harmonis karena faktor non teknis.

Dalam suatu kompetisi kalah menang itu adalah hal yang biasa, dia menjadi tidak biasa jika kekalahan itu disebabkan oleh faktor lain, semisal adanya kecurangan yang kasat mata terjadi, namun sang pengadil dalam hal ini wasit melakukan pembiaran dan tidak menindak sang pelanggar. Namun hal tersebut juga ada mekanisme penyelesaiannya. Dalam Pilkada setelah KPU selaku wasit bersama-sama dengan Panwaslu menetapkan pasangan calon terpilih berdasarkan raihan suara terbanyak, apabila ada pihak yang tidak menerima penetapan oleh KPU maka mekanisme untuk menggugat keputusan KPU adalah mengajukan keberatan pada Mahkamah Konstitusi (MK). Nanti MK yang akan memeriksa dan menguji keberatan Penggugat.

Penonton dalam pertandingan sepakbola adalah penikmat pertandingan, fanatisme supporter PSM tidak diragukan lagi terlihat saat duel lanjutan di stadion Paknsari yang merupakan kandang PS TNI namun tak kalah meriah disbanding para tentara yang merupakan pendukung tuan rumah. Penonton terkadang lebih cerdas dari sang pelatih untuk meberikan komentar tentang siapa-siapa pemain yang bermain buruk dan harus diganti, begitu juga dengan strategi yang seharusnya dilakukan oleh pelatih.

Setali tiga uang dengan Pilkada, strategi dan metode pemenangan oleh tim sukses menjadi keniscayaan untuk memenangkan Pilkada, hingga kemudian tim sukses tidak mencari kambing hitam apabila tim yang diusungnya mengalami kekalahan.

Melihat Pilkada Jakarta yang rasa Pilpres, dipenuhi oleh straregi tim sukses dan konsultan pemenangan yang mumpuni, ditambah dengan “trik-trik” untuk memenagkan kandidatnya. Dan gaungnya masih terasa sampai sekarang sebab melbatkan semua elemen baik elit politik, ulama, Ormas dan Parpol pengusung.

Sudah menjadi rahasia umum kalau Pilkada DKI adalah cerminan atau kelanjutan pertarunga Pilpres tahun 2019 yang dilaksanakan bersamaan dengan Pemilihan Legislatif.

Jadi kalahnya PSM banyak faktor yang menyebabkan, dan lebih bijak jika kalahnya PSM  karena dewi fortuna yang tidak berpihak, mengingat permainan PSM begitu sempurna seolah tanpa celah. Dan yang terpenting kekalahan PSM dari PS TNI tidak menggoyahkan PSM dari puncak klasmen dengan point 13, Bravo PSM Makassar, Baravo sepak bola Indonesia. (*)