JUMAT , 19 OKTOBER 2018

Puluhan Penggiat Seni “Bikin Ribut” di Gowa

Reporter:

Jejeth Aprianto

Editor:

Lukman

Jumat , 10 Agustus 2018 15:20
Puluhan Penggiat Seni “Bikin Ribut” di Gowa

Dua tokoh seni saat jadi narasumber pada kegiatan acara "Bikin Ribut" di Sekretariat Komunitas Musik Tradisional (Kontras) Jl Kacong Daeng Lalang, Katangka, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Kamis (9/8) sore.

GOWA, RAKYATSULSEL.COM – Puluhan pelaku atau penggiat seni berkumpul di Sekretariat Komunitas Musik Tradisional (Kontras) Jl Kacong Daeng Lalang, Katangka, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Kamis (9/8) sore.

Kehadiran mereka untuk mengikuti acara “Bikin Ribut”. Yaitu pertunjukan dan diskusi yang membahas eksistensi kesenian Makassar, khususnya Tari Paduppa atau populer dikenal sebagai tari penjemputan.

Ada dua pemateri atau narasumber yang dihadirkan dalam forum diskusi yang juga disebut Napak Tilas Tari Paduppa itu. Keduanya, Burhanuddin Daeng Ngawing dan Syarifuddin Daeng Tutu. Keduanya tokoh seni yang dikenal mempunyai pengalaman dan bersetuhan langsung dengan proses penciptaan Tari Paduppa.

Dalam paparannya, keduanya mengaku cemas dengan kondisi kekinian Tari Paduppa yang kerap dimainkan atau disuguhkan beberapa komunitas seni.

“Beliau (Burhanuddin Daeng Ngawing dan Syarifuddin Daeng Tutu) punya kecemasan melihat kondisi Paddupa yang terdapat di beberapa komunitas. Kecemasan mereka bahwa wirama, wiraga, wirasa, sebagai inti dalam seni tari hampir tidak terlihat,” tulis Farianto, Pimpinan Urbannegs dalam rilisnya.

Menjawab kecemasan keduanya, dalam forum diskusi itu pun disajikan Tari Paduppa yang diperankan oleh salah satu penari generasi terakhir dari pencipta Tari Paduppa Hj Meilani Yulida dan St Maryam Daeng Taco yag juga menjadi pengajar tari di Sanggar Seni Katangka.

“Pertunjukan Tari Paddupa yang disajikan oleh kedua murid dari Anida Sapada, kemudian mendapat tanggapan postif bagai kedua pembicara (Burhanuddin Daeng Ngawing dan Syarifuddin Daeng Tutu). Keduanya menganggap itulah Tari Paddupa yang beliau rindukan,” ujar Farianto.

Usai pertunjukan Tari Paduppa yang dianggap orisinil oleh pembicara, diskusi pun dilanjutkan dengan sesi tanya jawab.

Selain pelaku atau penggiat seni dari kabupaten Gowa, sejumlah penggiat seni dari Takalar, Makassar, Selayar dan Pare-Pare.

Ia pun berharap forum diskusi napak tilas Tari Paduppa itu menjadi bahan referinsi bagi penggiat seni yang hadir. (*)


div>