SELASA , 13 NOVEMBER 2018

Punya Uang Punya Peluang

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Rabu , 07 Desember 2016 10:44
Punya Uang Punya Peluang

int

MAKASSAR, RakyatSulsel.com – Pilkada Serentak 2018 di Sulsel bakal diramaikan pendatang baru. Bukan hanya dari kalangan politisi atau birokrasi, namun juga pengusaha tambang.

Keikutsertaan para pengusaha tambang ini sebenarnya cukup fenomenal. Sebab banyak diantara mereka yang maju di Pilkada justru bukan di daerah tempat tinggalnya. Namun mereka bisa meraih kemenangan dengan suara meyakinkan.

Khusus di Pilkada 2018 di Sulsel, beberapa nama pengusaha tambang terindikasi bakal meramaikan bursa Pilkada nantinya. Mereka adalah Andi Harun di Pilkada Sinjai, Amran di Pilkada Wajo, Andi Maman Nurdin Karumpa alias Atong di Pilkada Enrekang, Amirullah Abbas di Pilwalkot Makassar, dan Jamaluddin Jafar Jarre di Pilkada Pinrang.

Menang di Pilkada bukanlah hal mustahil. Pada Pilkada serentak jilid pertama 2015 lalu, pengusaha tambang yang maju pada Pilakda Toraja Utara (Torut) yakni Kalatiku Paembonang bahkan berhasil mengalahkan incumbent saat itu yakni Frederik Batti Sorring. Bahkan, perolehan suara Kalatiku mencapai 71.120 dan Frederik Batti Sprring hanya mendulang 60.102 suara.

Hal itupun kemudian menjadi bukti bahwa figur pengusaha terutama dari pertambangan mampu bersaing secara ketat pada Pilkada. Selain itu, figur penambang juga ditopang oleh finasial yang cukup kuat sehingga mampu bersaing dalam merebut partai politik sebagai kendaraannya di Pilkada.

Terkait hal itu, salah satu bakal calon yang berlatarbelakang penambang yang akan maju pada Pilkada di Sinjai, Andi Harun yang dihubungi melalui telepon selulernya mengatakan saat ini dirinya tengah melakukan persiapan untuk maju pada Pilkada Sinjai 2018 mendatang.

[NEXT-RASUL]

“Insya Allah, saya sudah berniat untuk maju di Pilkada Sinjai. Dan semua proses yang ada saat ini itu sudah berjalan dengan baik, semua ini karena kehendak yang maha kuasa, jadi saya secara pribadi membuat ini mengalir senatural mungkin,” kata Andi Harun, Selasa (6/12).

Bahkan, kata Andi Harun, saat ini dirinya mengaku telah terbentuk relawan dengan nama Sahabat Andi Harun (SAH) di Sinjai. Menurutnya, hal itu bukan merupakan inisiatif dari dirinya pribadi tapi karena adanya dorongan dari masyarakat untuk mengabdi di Sinjai.

“Jadi saya tidak bisa menyebut ini tim, tapi lebih tepatnya adalah relawan karena saya tidak terlibat secara teknis. Dan alhamudulillah ini sudah berjalan tanpa ada komando dari saya secara langsung,” ujarnya.

Bukan hanya itu, Andi Harun juga mengaku bahwa relawan komunitas tersebut telah tersebar pada seluruh kecamatan di Kabupaten Sinjai. “Ini sifatnya komunitas saja, dan syukur alhamdulillah, informasi yang saya dapatkan dari teman-teman saya dilapangan bahwa ini sudah terbentuk pada seluruh kecamatan di Sinjai,” ucapnya.

Ia menambahkan, saat ini dirinya masih terus melakukan sosialisasi dengan melakukan pertemuan secara langsung dengan masyarakat di Sinjai. Bahkan, dia mengaku melakukan tiga kali kunjungan ke Sinjai setiap bulan.

“Saya terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat, dengan melakukan pertemuan secara langsung. Meski saya banyak kesibukan di Jakarta, tapi saya tetap meluangkan waktu untuk datang dan bertemu dengan masyarakan secara langsung,” ulasnya.

[NEXT-RASUL]

Anggota DPRD Kalimantan Timur itu mengatakan bahwa dirinya saat ini belum memutuskan secara final akan maju pada Pilkada Sinjai. Menurutnya, saat ini dirinya masih sebatas sosialisasi kepada masyarakat.

“Saya saat ini sebenarnya belum memutuskan secara final maju atau tidak. Ini sementara sosialisasi oleh masyarakat, yang nantinya akan saya evaluasi. Kalau mayoritas masyarakat memberikan dukungan berdasarkan survei, maka saya putuskan akan maju dan bertarung,” terangnya.

Selain itu, Komisaris Utama PT. Rei Energy Investama itu mengaku jika dirinya sangat realistis dalam berpolitik. Menurutnya, jika pada akhirnya survei yang akan dilakukannya hasilnya kurang memuaskan, maka dirinya tidak akan maju sebagai calon pada Pilkada Sinjai mendatang.

“Saya politisi yang realistis, bisa jadi hasil surveinya kurang memuaskan maka tentu saya harus berhenti. Tidak mungkin saya maju disaat dukungan tidak mayoritas. Makanya pada Mei mendatang saya akan melakukan survei dan saat itu juga akan saya putuskan akan maju atau tidak,” jelasnya.

Menurutnya, hal itu dia lakukan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat di Sinjai bahwa politik itu tidaklah sekotor yang terlihat dan terpublish saat ini. “Saya melakukan ini semata-mata hanya ingin mengedukasi masyarakat dalam memilih pemimpin yang baik dan tepat untuk Sinjai lima tahun kedepan, hanya itu,” pungkasnya.

Sementara itu, Manajer Konsultasi Celebes Research Centre (CRC) Saiful Bahri mengatakan, fenomena pengusaha yang kembali kedaerahnya untuk maju pada Pilkada akan menjadi warna tersendiri. Menurutnya, hal itu banyak terjadi pada Pilkada serentak jilid pertama lalu.

[NEXT-RASUL]

“Saya pikir ini adalah warna tersendiri jika seorang pengusaha kembali kedaerahnya untuk bertarung pada Pilkada, dari catatan saya pada Pilkada Bulukumba 2010 lalu, Pak Zainuddin yang berlatarbelakang pengusaha maju dan bertarung dan kemudian memenangkan Pilkada,” terangnya.

Menurutnya, figur pengusaha bisanya muncul dan bekerja mulai dari nol. “Dan ini biasanya, para pengusaha itu mulai bekerja dan menggarap Pilkada mulai dari nol, meski demikian banyak juga yang mampu memenangkan pertarungan, pada Pilkada serentak 2015 lalu misalnya, Pak Kalatiku mampu menumbangkan incumbent,” jelasnya.

Ia menambahkan, untuk maju pada Pilkada, ada empat poin yang mesti dipenuhi. Pertama, kata dia, adalah kemampuan figuritas. “Saya pikir, faktor figur itu sangat perlu untuk berniat maju pada Pilkada, sebab dari seorang figur itulah pemilih dapat melihat track record yang akan maju tersebut,” jelasnya.

Kedua, kata dia, adalah kemampun merancang visi dan misi. Menurutnya, hal itu dapat dilakukan oleh figur maupun oleh tim pemenangan masing-masing kandidat yang akan maju. “Kemampuan membangun konsep itu mesti juga dipenuhi, karena hal inilah yang akan ditawarkan kepada pemilih,” ucapnya.

Sedang yang ketiga, dan keempat, kata Saiful adalah jaringan dan kemampuan finansial. “Punya jejaring politik dan membangun tim percuma kalau konsep dan figur yang ditawarkan kepada masyarakat kurang bagus, dan tentu kemampuan finansial seseorang yang maju itu syarat pasti karena itu Pilkada itu mesti ada alat peraga kampanye,” jelasnya.

Oleh karena itu, kata Saiful, baik birokrat, politisi maupun pengusaha akan memiliki peluang yang sama dalam Pilkada ketika mampu memenuhi empat unsur tersebut. “Saya pikir kalau empat unsur ini sudah dipenuhi oleh calon, baik yang berlatangbelakang politisi, birokrat hingga pengusaha akan memiliki peluang yang sama dalam memenangkan Pilkada,” terangnya.

[NEXT-RASUL]

Terkait hal itu, pakar psikolog yang juga akademisi sosiologi Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Dr. Suparman Abdullah, menilai, naluri dan hasrat seseorang tak pernah menentu sehingga berbagai pilihan sering muncul untuk memenuhi keinginan yang ditarget.

“Sebenarnya persoalan hasrat atau keinginan ini yang jadi persoalan. Kadang muncul saat moment, tapi tenggelam jika keinginan tak terpenuhi,” ujarnya.

Dikatakan, secara psikologi naluri manusia tak menentu. Hal ini ditandai dengan berbagai pilihan yang sering muncul dibenak dan pikiran manusia. Bahkan sulit dibaca oleh sesama manusia dalam lingkungan setempat. “Inilah menandakan, keinginan manusia tak terbatas,” katanya.

Suparman menambahkan, fenomena sosial manusia cenderung berpindah pilihan. Apalagi lanjut dia, dalam pilihan politik sulit dideteksi jika nafsu untuk bertarung melebihi segalanya.

“Contohnya, jika ada yang maju sebagai balon cakada, namun mundur tiba-tiba. Sedangkan yang berdiam diri maju, ini juga sulit ditebak atau dideteksi,” tutupnya. (E)


Tag
  • pilkada 2018
  •  
    div>