SENIN , 20 AGUSTUS 2018

Pusdiklat RI akan Bangun AKOM di Bantaeng

Reporter:

Jejeth

Editor:

Lukman

Minggu , 15 April 2018 23:10
Pusdiklat RI akan Bangun AKOM di Bantaeng

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantaeng saat menggelar Rapat Persiapan Penyelenggaraan Akademi Komunitas (AKOM).

BANTAENG, RAKYATSULSEL.COM – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantaeng telah menggelar Rapat Persiapan Penyelenggaraan Akademi Komunitas (AKOM) yang rencananya akan segera difungsikan dan proses pendaftaran mahasiswa baru segera dibuka sekitar September 2018 mendatang.

Hal tersebut disampaikan Kepala Pusat Pendidikan dan Latihan (Pusdiklat) Industri Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, Mudjiono pada pelaksanaan Rapat yang berlangsung di Ruang Pola Kantor Bupati Bantaeng.

“Akademi Komunitas Bantaeng ini adalah satu dari 5 Akom yang kami bangun dan kembangkan di Indonesia, masing-masing Akom Morowali, Politeknik Furniture Kendal, Politeknik Petrokimia yang sebelumnya di Batu Licin dan terakhir Akom Jember yang menjadi salah satu milik Ristek Dikti yang dikerja samakan dengan kami. Tahapan pendaftaran dimulai sekitar Mei 2018 dengan beberapa proses persiapan hingga dibuka pendaftaran,” jelasnya.

Dalam pemaparannya, dikatakan bahwa pelaku industri diminta berperan aktif terhadap keberadaan Akom Bantaeng. Tak hanya menerima alumni Akom sebagai tenaga kerja, namun diharapkan menjadi bagian penting sejak dimulainya perekrutan calon mahasiswa, berlanjut sampai perkuliahan dan pada akhirnya industri menampung alumni Akom Bantaeng sebagai karyawan pada perusahaan yang ada dalam Kawasan Industri Bantaeng (KIBA). Pasalnya Akom Bantaeng akan melahirkan tenaga kerja by order berdasar kebutuhan industri khususnya di Kabupaten Bantaeng.

“Ini Akom Negeri, bukan swasta karena miliknya Pemerintah. Kita siapkan beasiswa untuk uang kuliah. Saya minta pelaku industri masuk dan bersama-sama mengembangkan Akom. Ini kunci Akom yang kita bangun dalam Kawasan Industri Bantaeng. Kita targetkan mulai September kuliah perdana. Nanti kita undang Menteri Perindustrian datang kesini. Saya berharap Akom Bantaeng ini jadi banchmarknya Indonesia yang benar-benar menerapkan dual sistem pendidikan,” ungkap Mudjiono.

Rapat yang dihadiri para pelaku industri daerah ini dibuka secara resmi Plt. Bupati Bantaeng, H. Muhammad Yasin. Hadir pula Direktur Pengembangan Wilayah Industri I Ditjen PPI Kemenperin, Arus Gunawan, Kepala Dinas Perindustrian Provinsi SulSel, Ahmadi Akil, perwakilan Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Morowali, Jajaran Politeknik ATI Makassar (ATIM) dan pengembang terkemuka di dunia dari Swiss yang sangat berpengalaman membangun dan mengembangkan Akom, salah satunya Politeknik Manufaktur Negeri Bandung.

Dalam sambutannya, Muhammad Yasin mengungkapkan bahwa Akom dan kawasan industri di Bantaeng tidak datang begitu saja. Dasar hukumnya berawal lahirnya Undang-undang Nomor 24 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (Minerba) yang berlaku efektif Januari 2015.

“Dimana diharuskan mengolah telebih dulu hasil tambang di dalam negeri sebelum diekspor. Ini disikapi Pemerintah Kabupaten Bantaeng dengan membangun smelter. Tentunya dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan percepatan pengentasan kemiskinan,” ujarnya.

Persiapan guna mematangkan beroperasinya Akom Bantaeng ini, oleh Plt. Bupati Bantaeng dianggap sangat penting untuk segera melakukan langkah konkrit. Pemerintah Daerah bersama-sama dengan pelaku industri dan Akom itu sendiri bersinergi agar tenaga kerja yang dihasilkan sesuai kebutuhan dengan standar kompetensi yang diharapkan. (*)


div>