Selasa, 25 April 2017

Darussalam Syamsuddin

Ragam Kehidupan

Selasa , 21 Maret 2017 10:49
Prof Dr Darussalam Syamsuddin. MAg
Prof Dr Darussalam Syamsuddin. MAg

Sejak terbukanya mata kita di pagi hari, hingga terpejam kembali di malam hari betapa banyak nikmat dan karunia Tuhan yang lalai kita syukuri. Apa pun yang kita terima hari ini, yakinlah bahwa itulah yang pantas menurut-Nya. Tugas selanjutnya adalah menjalankan peran hidup ini sebaik mungkin, kemudian bersyukur kepada-Nya semoga berkah dan kasih Tuhan menyertai.

Beragam cara orang memandang kehidupan ini, ada yang mengatakan “hidup ini adalah penderitaan”, ada yang berucap “hidup ini kejam”, dan tidak sedikit diantaranya yang mengeluh “ah Tuhan tidak adil padaku”, “kenapa saya tidak mati saja”. Ungkapan senada yang mengandung rasa kesal seperti ini menunjukkan pengingkaran terhadap karunia Tuhan.

Orang yang menganggap “hidup ini adalah penderitaan”, karena ia mengukur kebahagiaan hidup pada pemenuhan kebutuhan yang bersifat materi dan harus di bayar mahal. Tapi coba tengok dipinggir jalan di sela-sela deretan pedagang kaki lima, di atas bangku anyaman yang lusuh, sering kali kita temukan mereka tidur dengan sangat lelap. Bandingkan dengan orang yang mampu membeli kasur empuk dan tempat tidur mewah, tapi tidak mampu membeli tidur pulas.

Orang yang berucap “hidup ini kejam”, karena ia menginginkan kehidupan ini berjalan seperti apa yang ia kehendaki seolah-olah ingin menggurui Tuhan. Padahal perjalanan hidup ini tidak selamanya mulus. Seringkali, kita tersandera oleh keinginan demi keinginan yang sifatnya sangat sementara. Tapi coba lihat diseputar kita, betapa banyak orang yang memiliki keterbatasan pisik, tapi mampu mengukir prestasi. Di antaranya tidak dapat melihat (buta) sejak lahir, tapi ia mampu menghapal Alquran. Sederet contoh lain dapat disebutkan tentang orang-orang yang memiliki keterbatasan, justru berprestasi dalam hidup.

Orang yang sering mengeluh “ah Tuhan tidak adil padaku”, karena ia menginginkan sesuatu yang tidak sesuai dengan kapasitas dirinya. Ia ingin kaya dan hidup mapan, tapi malas bekerja dan berusaha. Ia ingin sukses dalam karier dan mendapat penghargaan, tapi tidak memiliki prestasi kerja. Ia ingin dihargai, tapi tidak menghargai orang lain. Sementara orang yang menyesali dirinya sembari berucap “kenapa saya tidak mati saja”, karena ia kalah dalam perjuangan hidup, kehilangan semangat hidup dan putus asa. Padahal sekiranya ia memahami bahwa kesempatan hidup yang diberikan Tuhan kepadanya, merupakan ladang untuk melakukan aktifitas produktif berupa kebajikan-kebajikan akan membawa hasil untuk dirinya dan orang-orang disekitarnya, tentu tidak akan disia-siakan.

Alkisah di masa Harun al-Rasyid ada seorang panglima yang gemar berburu di padang pasir. Demikian asyiknya ia berburu sehingga terpisah dari pengawal-pengawalnya, di saat itu sang panglima dilanda rasa haus dan lapar. Namun tak terduga di tengah padang pasir yang gersang justru ia melihat sebuah tenda yang dihuni oleh seorang wanita muda dan cantik. Tak berapa lama kemudian muncul seorang lelaki tua yang kasar dan tidak memiliki sopan santun, dan ternyata lelaki itu tidak lain adalah suami dari wanita muda dan cantik itu. Sang wanita muda meladeni suaminya mencuci kakinya, mengeringkan keringatnya dan menyiapkan makanan untuknya.

Menyaksikan semua itu, sang panglima pamit dan berucap kepada wanita muda: “saya kecewa kepadamu”. Engkau wanita muda lagi cantik, sedang suamimu tua, miskin dan tidak memiliki sopan-santun. Wanita muda itu pun menjawab: “saya lebih kecewa kepada anda”, saya tidak menyangka khalifah Harun al-Rasyid yang terkenal adil itu memiliki panglima seperti anda yang berusaha menjauhkan aku dari suamiku. Tidakkah kamu mengetahui bahwa nabi berpesan bahwa agama ini disempurnakan dengan dua hal yaitu kesyukuran dan kesabaran. Aku bersyukur karena Tuhan memberiku wajah yang cantik dan usia yang masih muda, aku ingin menyempurnakannya dengan bersabar meskipun suamiku tua, miskin dan tidak memiliki sopan santun. (*)

Berita Terkait