Ramang; Dikenang FIFA, Dilupa Di Negeri Sendiri | Rakyat Sulsel

Ramang; Dikenang FIFA, Dilupa Di Negeri Sendiri

Keluarga Pertanyakan Patung Ramang Di Karebosi

Minggu , 07 Oktober 2012 12:51
Total Pembaca : 3991 Views
Anak kandung Ramang, Anwar Ramang mempertanyakan patung ayahnya di Karebosi yang dibongkar tanpa sepengetahuan keluarga. Patung Ramang di Lapangan Karebosi, beberapa waktu silam. Patung ini dibongkar untuk revitalisasi Karebosi (insert).

Baca juga

Anak kandung Ramang, Anwar Ramang mempertanyakan patung ayahnya di Karebosi yang dibongkar tanpa sepengetahuan keluarga. Patung Ramang di Lapangan Karebosi, beberapa waktu silam. Patung ini dibongkar untuk revitalisasi Karebosi (insert).

DIA sang legenda sepak bola. Raja di zamannya. Sayangnya, dia mulai terkikis dari ingatan masyarakat di negeri sendiri. Namun tetap mekar di negeri orang.

Laki-laki paruh baya berdiri di depan rumah dengan cat tembok putih di Jl Landak Baru. Tidak jauh dari rumah itu, sebuah pelang bertuliskan Lorong 8. Sabtu (6/10) sore, lipatan kerutan di wajahnya menandakan dia sudah kenyang melihat sejarah. Pria itu bernama H Anwar Ramang. Dialah saksi hidup di keluarga bagi yang ingin mengetahui  cerita tentang legenda sepak bola Indonesia, Ramang. Anwar Ramang tak lain adalah anak kandung dari Ramang.

Rakyat Sulsel berusaha membongkar memori ingatan sang anak terhadap ayahnya. Kekecewaan nampak dari sorot matanya ketika penulis menanyakan sang legenda. Dia kecewa kepada masyarakat, terlebih pemerintah yang seakan amnesia dengan seorang raja sepakbola di negerinya.

“Mereka sudah tak ingat Ramang. Pemain yang telah melambungkan nama Indonesia ke luar negeri. Jangankan memperingati hari meninggalnya, mengingatnya pun mereka sudah tidak pernah,” keluh pesepakbola Indonesia era 70-an ini.

Kekecewaannya seakan tak berjeda. Jika menilik prestasi PSM Makassar sekarang yang jauh dari harapannya. Sangat merosot. Semangat juang Ramang yang selalu dikumandangkan ibarat angin lewat. Bukan lagi pil pemompa semangat pemain.

Anwar heran. Dulu, di era Ramang setiap prestasi yang diraih hanya dibayar dengan ucapan terima kasih. Tapi sekarang berbeda. Semua serba duit. Pemain dibayar mahal untuk bermain bagus, bukan untuk kalah. “Semboyan Siri’ Na Pacce sudah hilang,” jelasnya sambil menghela nafas panjang. Seakan tak percaya.

Belum lagi Patung Ramang yang menurut Anwar dibongkar di Lapangan Karebosi tanpa sepengetahuan keluarganya. Hanya karena ingin dibangun pusat perbelanjaan, patung seorang legendang di bongkar. Sama sekali tak punya harga.

“Wajar saja mereka tak ingat dengan Ramang. Kami hanya ingin mereka memberikan sedikit penghargaan kepada Ramang. Tidak perlu banyak. Minimal mengingat dan mengenang jika negeri kita pernah lahir seorang pesepakbola hebat. Tak ada yang mampu menyamainya hingga sekarang,” ujar Anwar dengan nada suara yang sedikit meninggi.

Lantas apa yang istimewa dari Ramang dan kenapa dia disebut legenda ?. Predikat yang hanya pantas disematkan kepada orang yang punya prestasi dan keahlian khusus.

Ramang memang layak dijuluki legenda sepakbola. Anwar bisa dibilang salah satu saksi hidup kehebatan pemain nomor punggung 9. “Dia (Ramang) tak kenal menyerah. Jika jatuh langsung bangkit lagi. Tendangannya sangat keras. Tidak ada yang bisa kejar jika sementara lari membawa bola. Tak pernah merasakan cedera dan kalau di tekel lawan hanya seperti kapas,” kenang Anwar.

Kemampuannya itulah yang membuat Ramang dinilai tak punya tandingan di eranya. Hanya sebagian yang tahu. Selebihnya lupa. Bahkan pura-pura tidak ingat. Ramang legenda sepakbola yang mulai asing di negeri sendiri.

Federasi sepakbola dunia, FIFA, dalam halaman resminya Rabu (26/9) lalu mengangkat artikel dengan membahas sejarah tentang Ramang. Artikel ini dimuat untuk mengenang 25 tahun meninggalnya Ramang. Si pemilik tendangan gledek itu meninggal dunia pada tahun 1987 di usianya yang ke-59 tahun.

Pelatih PSM Makassar, Petar Segrt tak ketinggalan momen untuk mengenang sang legenda. Petar mengimbau masyarakat untuk tak melupakan Ramang. “FIFA memperingati tanggal 26 September sebagai hari spesial. Itu karena Indonesia pernah punya pemain hebat asal Makassar, yang lahir pada tanggal itu,” kata Petar.

Walau mengaku tak terlalu mengenal sosok Ramang, Petar menganggap mantan pemain tersebut sebagai sosok sentral di balik sejarah PSM Makassar. Pengaruhnya di PSM di masa lalu tetap jadi semangat bagi pemain yang ada saat ini.

“Ramang sudah meninggal 25 tahun yang lalu. Tapi semangatnya tak akan pernah mati. Buktinya PSM dikenal dengan sebutan Pasukan Ramang,” tandasnya.(RS2-RS3/D)


One Response to Ramang; Dikenang FIFA, Dilupa Di Negeri Sendiri

  1. Pingback: Soal Gaji, Petar Tunggu Keputusan Konsorsium Besok | gilabola.biz