JUMAT , 22 JUNI 2018

Rasakan Suasana Desa di Rumah Kecil Pannara

Reporter:

Fahrullah

Editor:

asharabdullah

Sabtu , 03 Februari 2018 10:45
Rasakan Suasana Desa di Rumah Kecil Pannara

SUASANA DESA. Sejumlah pengunjung sedang bersantai di kolam ikan Rumah Kecil di Lorong 100 Pannara, Keluarahan Antang, Kecamatan Manggala, Makassar. Rumah Kecil Pannara menyuguhkan rumah dengan suasana desa di Kota Makassar. FAHRULLAH/RAKYATSULSEL

  • Dari Tempat Kumpul Keluarga Hingga Jadi Ladang Usaha

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Kita kadang membayangkan sesuatu hal yang bertolak belakang dengan realita. Seperti kehidupan di kota. Macet, polusi, suara bising kendaraan adalah pemandangan sehari-hari yang tentu membuat bosan. Sehingga, membayangkan hidup di pedesaan kadang tak bisa dihindari.

Bagi Anda yang berada pada titik ini, mungkin tempat yang satu ini bisa jadi alternatif. Yakni sebuah warung kopi yang biasa orang sebut Rumah Kecil yang berada di Lorong 100 Pannara, Keluarahan Antang, Kecamatan Manggala, Makassar.

Rumah Kecil yang digagas oleh Haswadi Haruna sejak tahun 2009 silam ini merupakan sebuah warung makan sederhana yang dibangun di belakang perumahan warga, dan berbatasan langsung dengan sawah seluas 500 meter persegi.

Selain menyediakan aneka makanan dan minuman, di rumah kota rasa desa ini, kita juga bisa melihat banyak hewan seperti ayam mutiara, angsa, burung gagak, burung beo, beberapa jenis burung paruh bengkok. Tak ketinggalan juga sebuah kolam ikan terapi yang diperuntukan bagi pengujung secara gratis.

Ditemui di sela kesibukannya, Jumat (2/2), Haswadi mengatakan awalnya tempat tersebut tidak dirancang sebagai tempat usaha. “Dilihat dari aspek usaha, saya susah menjelaskan seperti apa, karena rumah kecil ini sesungguhnya tidak dirancang untuk bisnis. Saya membangun saja, trus apa yang ada di hati dan kepala saya coba diaplikasikan,” ujarnya.

Dirinya juga menuturkan jika ide pembangunan Rumah Kecil ini hanya sebagai tempat edukasi, rekreasi, dan tempat berkumpul bagi keluarga Haswadi. Tempat tersebut kemudian mulai menjual makanan dan minuman sejak 10 Maret 2016.

“Dimulainya dari menanam tumbuhan. Saya buka umum Rumah Kecil ini, mulai 10 Maret 2016. Karena yang ada di sini adalah proses penggambaran jiwa, dari awal Rumah Kecil dirancang untuk di dalamnya ada proses edukasi,” ujarnya.

“Kenapa namanya Rumah Kecil? Karena rumahnya memang kecil. Saya tidak pernah membayangkan rumahnya besar. Saya ingin rumah kecil yang punya halaman luas dan orang bisa bercengkerama di mana saja,” sambungnya.

Ia melanjutkan, Rumah Kecil ini dibangun berangkat dari keikhlasan pemiliknya, tidak ada niat komersial. “Awalnya tempat ini saya bangun untuk kebutuhan keluarga. Kita punya kebiasaan tiap hari Ahad bikin masakan terbaik masing-masing lalu dibawa ke sini dan makan bareng. Kemudian, tempat ini juga jadi tempat pertemuan teman-teman dari berbagai komunitas, baik pecinta alam, kesenian, dan lain-lain. Ada puluhan komunitas lah, tapi lebih didominasi pecinta alam dan kesenian,” Ia menambahkan.

Meski tempatnya sederhana, namun Rumah Kecil ramai dikunjungi, khususnya saat sore hari hingga malam hari untuk menikati suana Rumah Kecil yang jauh dari suara bising kendaraan.

“Ini buah sebuah pertemanan. Tidak heran kalau tempat ini ramai, karena kawan datang ke sini untuk diskusi. Tempat ini sejak dahulu jadi ruang untuk itu. Bisnis ini juga dimulai dari kawan-kawan, karena mereka lapar, haus, dan susah mendapat makanan dari luar jadi menyarankan jual makanan, ditambah ibu hobi masak,” ungkapnya. (*)


div>