RABU , 13 DESEMBER 2017

Ratusan Ribu Warga Thailand Antarkan Kepergian Sang Raja

Reporter:

Editor:

asharabdullah

Kamis , 26 Oktober 2017 16:15
Ratusan Ribu Warga Thailand Antarkan Kepergian Sang Raja

Jenazah Raja Thailand dibawa untuk dilakukan proses kremasi. (AFP PHOTO)

THAILAND, RAKYATSULSEL.COM – Jenazah Raja Thailand Bhumibol Adulyadej meninggalkan Dusit Maha Prasat Throne Hall, Grand Palace, hari ini (26/10). Dengan diiringi sedikitnya 250.000 warga, peti emas sang raja diusung ke Royal Crematorium di Sanam Luang Plaza, Bangkok, dengan berjalan kaki.

Sang anak, Raja Maha Vajiralongkorn, bakal menyulut api di atas mazbah kayu yang menjadi meja perabuan jasad ayahandanya selepas petang.

Sebanyak 119 pendeta Buddha memanjatkan doa-doa dalam bahasa Pali di Dusit Maha Prasat Throne Hall kemarin (25/10). Itu menjadi doa terakhir bagi Bhumibol yang dikremasi hari ini. Doa yang dilantunkan para biksu berpakaian oranye tersebut menandai awal ritual kremasi Bhumibol. Begitu bait-bait doa terdengar, Vajiralongkorn berlutut di hadapan payung emas sembilan tingkat yang menaungi peti mati sang ayah.

Jenazah Raja Thailand dibawa untuk dilakukan proses kremasi. (AFP PHOTO)

”Ini upacara persiapan untuk memindahkan peti dan altar Yang Mulia ke tempat kremasi,” kata salah seorang pejabat Thailand. Biasanya jenazah raja-raja Thailand yang meninggal akan disemayamkan di atas altar. Namun, berbeda dengan Bhumibol. Sebagaimana diwasiatkan saat masih hidup, pemimpin monarki Thailand itu memilih dimasukkan peti. Tetapi, di samping peti, tetap ada altar dan guci tempat abu.

Raja Bhutan Jigme Khesar Namgyel Wangchuck tiba di Thailand bersama permaisuri dan anak lelakinya kemarin. Kabarnya, dia akan menjadi salah satu pemimpin negara yang ikut melantunkan doa bagi Bhumibol bersama para biksu.

Bukan hanya itu, di Bhutan, Jigme juga menggelar doa khusus bagi sang raja. Di Thailand, ada 85 altar yang sengaja dibangun untuk mendoakan raja dari jarak jauh.

Demi kremasi yang menandai berakhirnya kepemimpinan Bhumibol tersebut, banyak warga Thailand yang rela bermalam di sekitar Sanam Luang sejak Selasa (24/10). Semua itu hanya demi tidak melewatkan prosesi kremasi tokoh 88 tahun tersebut. Salah satunya adalah Aporn Wongdee yang datang dari Provinsi Nakhon Si Thammarat di kawasan selatan Thailand.

Menempuh jarak 786,5 kilometer demi menyaksikan langsung kremasi Bhumibol, Aporn rela jika harus berpanas-panas dan bermandi peluh atau berbasah-basah karena kehujanan. ”Dengan hanya berada di sini saja, saya sudah merasa tenang. Saya tiba dua hari lalu (Senin, Red),” kata pria 60 tahun tersebut. Seperti ratusan warga lainnya, Aporn menginap di sekitar Sanam Luang.

Kemarin matahari bersinar sangat terik di ibu kota Thailand. Warga yang antre masuk lokasi kremasi kepanasan. Apalagi, mereka memakai pakaian serbahitam karena sedang berduka. Untuk mencegah terjadinya insiden yang tidak diinginkan, pemerintah menyiagakan banyak polisi dan sukarelawan. Para sukarelawan itu bertugas memberikan air minum kepada warga.

Momen yang menjadi perhatian utama polisi adalah ritual pemindahan peti emas dari Grand Palace ke Royal Crematorium. Sepanjang proses berlangsung, polisi akan menjaga massa dengan sangat ketat untuk mencegah bentrok. Selain itu, polisi bakal langsung mengamankan mereka yang meneriakkan ”Long Live the King” begitu iring-iringan peti mati lewat. Sebab, pemerintah melarangnya.

Mengabadikan diri dengan kamera telepon genggam alias swafoto saat iring-iringan jenazah lewat juga dilarang keras. Sekadar memotret pun tidak boleh. Di Thailand, lese-majeste menjadi aturan yang paling sering ditegakkan. Menghina atau melecehkan raja dan seluruh anggota Kerajaan Thailand bisa berujung dengan hukuman berat. Itu juga berlaku bagi warga asing dan turis. (*)

(AP/Reuters/BBC/hep/c16/any)


div>