SABTU , 22 SEPTEMBER 2018

Refleksi Diri

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Selasa , 11 April 2017 09:57
Refleksi Diri

Prof Dr Darussalam Syamsuddin. MAg

Seiring dengan perjalanan usia, anggota badan kita satu demi satu mengalami penurunan fungsi. Tubuh yang tadinya tegap, atletis dan berotot, kini mulai melemah dan kehilangan tenaga. Mata yang tadinya berfungsi tanpa alat bantu kacamata, kini mulai rabun. Telinga, sudah tidak dapat mendengar dengan baik bila volume suara tidak ditinggikan, hidung kehilangan kepekaan untuk membedakan keharuman parfum Angel Man/Woman dengan bau tidak sedap yang ada disekitar dan tubuh sendiri.

Berbeda halnya dengan pikiran, meskipun tubuh masih kanak-kanak namun pikiran menganggap diri telah dewasa, ketika usia semakin lanjut dan tubuh pun menua, pikiran tetap merasa masih muda belia. Itulah sebabnya sering kita jumpai orang yang telah lanjut usia bahkan sudah pikun, namun jiwanya belum matang dalam kesadaran. Karena pertambahan usia tidak berbanding lurus dengan kematangan jiwa.

Ketika hendak merubah kehidupan suatu masyarakat maka terlebih dahulu harus dirubah adalah pola pikirnya. Hal ini menujukkan betapa peran pikiran dalam kehidupan seseorang, karena pikiran menentukan perasaan dan tingkahlaku dalam menempuh perjalanan hidup yang kita lalui. Tuhan melengkapi tubuh manusia dengan hati dan pikiran, sehingga berbeda dengan hewan dan makhluk Tuhan lainnya.

Demikian pentingnya untuk menjaga dan memelihara pikiran karena selain sebagai pemberian Tuhan yang sangat berharga, pikiran juga senantiasa bergerak liar apabila tidak dikendalikan dan diarahkan. Memelihara akal menempati posisi sesudah memelihara jiwa, artinya pikiran merupakan hal yang harus terpelihara di atas keturunan dan harta. Namun sangat disayangkan, kebanyakan orang sangat telaten memelihara tubuh seperti sangat selektif menjaga makanan yang dikonsumsi, dan rajin berolahraga. Tapi tidak demikian adanya dengan merawat dan memelihara pikiran.

Pikiran adalah kunci yang mengatur perilaku kebiasaan kita setiap hari hingga menentukan bahagia sengsaranya seseorang, susah ataukah senang yang kita rasakan. Karenanya hindari berpikir negatif dalam seluruh aspek kehidupan. Termasuk dalam menghadapi problema kehidupan dengan cara berpikir jernih dan positif.

Berkaitan dengan evaluasi diri, diorientasikan pada tiga hal: Pertama, berkaitan dengan ibadah. Apakah hari ini ibadah kita sama saja dengan hari kemarin, ataukah ada peningkatan dari waktu sebelumnya, atau justru lebih menurun dari hari-hari sebelumnya. Kedua, berkaitan dengan perolehan rezki. Apakah rezki yang kita peroleh dapat dipertanggungjawabkan sumber dan pemanfaatannya. Tentu tidak hanya berkaitan pemenuhan kebutuhan kita dan keluarga, namun yang lebih penting adalah cara memperolehnya yang tidak menghalalkan semua cara hanya karena desakan kebutuhan hidup. Ketiga, berkaitan dengan kehidupan sosial kemasyarakatan. Setiap aktifitas yang kita lakukan senantiasa berorientasi pada manfaat bagi orang lain, bukan hanya diperuntukkan bagi diri sendiri.

Semakin banyak orang yang mengambil manfaat dari kebajikan yang kita kerjakan, semakin tinggi kualitas kebajikan itu. Karena itu berdoa untuk diri sendiri adalah baik, namun mendoakan orang lain jauh lebih baik. Membaca kita suci Alquran untuk diri sendiri adalah baik, tapi membacakan ayat-ayat Alquran untuk orang lain adalah jauh lebih utama. Memberi bea siswa kepada anak yang cerdas tapi tidak mampu secara ekonomi, memberi tip kepada petugas kebersihan atau memberi honor kepada guru mengaji jauh lebih utama dari pada zikir semalam suntuk. Karena zikir semalam suntuk hanya untuk diri kita, sedangkan memberi bea siswa kepada anak yang cerdas tapi tidak mampu secara ekonomi untuk dirinya, keluarganya dan orang-orang di sekitarnya. Semakin banyak orang yang memperoleh manfaat dari kebajikan yang kita lakukan, semakin tinggi nilai kebajikan itu di sisi Tuhan. Semoga setiap gerakan tangan kita dalam bekerja merupakan tasbih kita kepada Tuhan, semoga pikiran kita dalam bekerja sebagai sujud dan zikir kita kepadaNya. (*)


div>