JUMAT , 17 AGUSTUS 2018

Rekonstruksi Dan Aktualisasi Peran Alumni Pondok Pesantren As’adiyah

Reporter:

Dr. H. A. Marjuni, M. Pd (Sekjend DPP IKatan Alumni dan Keluarga As’adiyah)

Editor:

rakyat-admin

Jumat , 13 April 2018 13:28
Rekonstruksi Dan Aktualisasi Peran Alumni Pondok Pesantren As’adiyah

int

Musyawarah Nasional yang dirangkaikan dengan Seminar Nasional Ikatan Alumni dan Keluarga As’adiyah dengan mengusung Tema” Menjalin Silturrahmi dan Merajut Kebersamaan dalam Mengaplikasikan Islam Rahmatan Lilalamin dalam Bingkai NKRI” dengan nara sumber AG. Prof. Dr. H. Nazaruddin Umar, M.A, Prof. H. Kamaruddin Amin, P.hd, Prof. Dr. Hj. Samsiyah Badaruddin, Dr. H. Haruna Amin, Dr. H. Kamaluddin Abunawas, MA, Dr. H. Hamza Harun, MA dan Dr. H. Andi Jamaro Dulung, M.A.

Dr. H. Andi Marjuni, M.Pd selaku sekjend DPP IKAKAS mengungkapkan bahwa Pondok Pesantren As’adiyah sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat Islam di Kabupaten Wajo yang tidak hanya identik dengan makna keislaman, tetapi juga mengandung makna keaslian Indonesia (indigenous). Pondok Pesantren As’adiyah masa kurun perjalanan kurang lebih satu abad, telah menolorkan ribuan alumni dan telah menghasilkan berbagai karya yang patut diacungi jempol, khususnya bagi perkembangan Islam di Indonesia Misalnya di jazirah Sulawesi Selatan, khususnya di seantero tanah-tanah Bugis seperti Bone, Soppeng, Wajo, Sidrap, Pinrang, Baru, dan Luwu bahkan kira-kira 50 tahun yang lalu telah merambah ke wilayah Sumatera seperti Riau dan Jambi. Di kawasan pulau Kalimantan seperti Kalimantan Timur dan sebagian Kalimantan Selatan juga terdapat beberapa cabang As’adiyah dengan latar belakang warga dari kalangan tanah Bugis, untuk pulau Sulawesi hampir seluruh Sulawesi sudah dirambah As’adiyah kacuali, Sulawesi Utara dan Gorontalo.

Keinginan-keinginan yang dicapai As’adiyah ini bukanlah keinginan yang terjadi begitu cepat tetapi seiring berjalannya waktu dan keharusan adanya perluasan cabang yang menjadi cita-cita seluruh pengurus dan warga As’adiyah sendiri di mana mereka berada.

Dalam melebarkan sayapnya, As’adiyah sebagai pesantren terkemuka tidak pernah berhenti melakukan upaya untuk terus membangun umat yang akan menegakkan kalimat-kalimat mulia di atas bumi ini. Usaha-usaha mulia itu didukung oleh jenis usaha ekonomi yang akan menjadi pelancar bagi tegaknya cita-cita pendiri As’adiyah sebagai organisasi dakwah yang berkiprah dalam dunia pendidikan.

AG KH Muhammad As’ad selaku pendiri Pondok Pesantren As’adiyah bertujuan menyiarkan kebenaran-kebenaran Islam seperti yang diajarkan Al-Qur’an dan Al-Sunnah ke tengah masyarakat, baik melalui dialog, media cetak, dialog amal dan sebagainya. Semakin luas pengetahuan seseorang, semakin banyak yang ia dapat berikan pada masyarakat. Jika ia miskin pengetahuan, maka yang ia berikan pada masyarakat juga menjadi minimal.

Setiap alumni as’adiyah yang terhimpun dalam organisasi IKAKAS senantiasa memiliki akhlakul karimah. Dakwah atau tabligh yang disampaikan akan memiliki bobot bila alumni itu sendiri konsekuen dan konsisten terhadap apa yang diucapkan atau ditulisnya. Bila kansekuensi dan konsistensi itu tidak ada, maka bukan saja dakwah atau tabligh menjadi hambar tetapi juga citra agama otomatis akan jadi rusak. Dengan kenyataan bahwa setiap alumni pasti berada dalam masyarakat. Ia akan selalu diikuti dan dinilai oleh umat, maka para alumni dituntut untuk membersihkan hatinya dari berbagai macam penyakit dan mengisi hatinya dengan sifat-sifat terpuji. Tegasnya mereka wajib menghiasi dirinya dengan budi pekerti yang luhur, sehingga orang lain tertarik dan terpesona padanya. Agar alumni mampu menyuguhkan ajaran-ajaran Islam secara menarik, ia harus memiliki pengetahuan keagamaan yang matang dan pengetahuan umum yang relatif luas seperti Ilmu Sosial, yaitu ilmu yang mempelajari hidup bersama dalam masyarakat dan menyelidiki ikatan-ikatan antara manusia yang menguasai hidupnya dan Ilmu Antropologi, jika dihubungkan dengan pelaksanaan ajaran agama dapat diartikan sebagai salah satu upaya memahami agama dengan cara melihat wujud praktek keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat.

Setiap alumni dalam menyampaikan pesan-pesan Islam tidak dapat berhasil dengan baik tanpa memahami lingkungan atau ekologi sosial budaya dan sosial politik yang ada. Dakwah Islam tidak dapat dilepaskan dari “setting” kemasyarakatan yang ada. Di sinilah para alumni dituntut untuk secara jeli dan cerdas memahami kondisi umat ijabah dan umat dakwah yang dipahami supaya dapat menyodorkan pesan-pesan Islam tetap sesuai dengan kebutuhan mereka, kebutuhan petani, buruh, pelajar/mahasiswa, pedagang, birokrat dan lain sebagainya, memiliki tipologi tersendiri dan aspirasi-aspirasi yang khas. Para alumni harus berusaha mengetahui permasalahan mereka dengan simpati metode mujadalah, hikmah dan mau’idah al-khasanah yang harus diterapkan juga berbeda-beda sesuai dengan sasaran dakwah.

Bila keikhlasan telah menjadi dasar paling dalam dari usaha seorang Alumni maka rintangan apapun Insya Allah akan menjadi ringan. Kompetensi selain ditentukan oleh kualifikasi beberapa hal sebelumnya, terutama sekali akan ditentukan oleh kualifikasi yang terakhir ini. Lantas bagaimana nilai kompetensi yang harus dimiliki oleh para alumni agar menghasilkan ide-ide yang prima, Sekjend DPP IKAKAS mengemukakan yaitu pertama Mampu membuat perencanaan yang akan dilakukan dengan baik, kedua, Sekaligus mampu melaksanakan perencanaan tersebut, selain itu harus mampu mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi, yaitu mampu mendiagnosis dan menemukan kondisi “keberagaman”. Sebagaimana diketahui, langkah ini amat menentukan sifatnya untuk menyusun metodologi maupun pesan/materi, ketiga Para alumni harus mampu mencari dan mendapatkan informasi mengenai ciri-ciri objektif dan subjektif objek serta kondisi lingkungan.


div>