SELASA , 25 SEPTEMBER 2018

Rencana ISIS Bangun Khalifah di Asia Tenggara, Polri jadi Target

Reporter:

Editor:

dedi

Jumat , 30 Desember 2016 22:54
Rencana ISIS Bangun Khalifah di Asia Tenggara, Polri jadi Target

Ilustrasi

RAKYATSULSEL.COM – Pemerintah diminta terus mengamati pergerakan terbaru kelompok militan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) pasca kekalahan di Aleppo Timur, Suriah. Menurut Ketua Komisi III DPR Bambang Soesatyo, jika pasukan Suriah dan Rusia terus menggempur, tidak tertutup kemungkinan pasukan ISIS akan keluar dari kawasan itu.

Pernyataan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dan Presiden Filipina Rodrigo Duterte lantas menjadi relevan untuk digarisbawahi, sekaligus faktor pendorong peningkatan kewaspadaan. Bahwa ISIS akan membangun basis di Filipina Selatan untuk mewujudkan kekhalifahan baru di Filipina, Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam.

Rencana ISIS itu menurut Bamsoet -sapaan Bambang- , relevan untuk dikaitkan dengan kembalinya puluhan simpatisan ISIS warga negara Indonesia (WNI) ke tanah air.

“Pertanyaannya adalah mereka kembali untuk apa? Kembali untuk menjalani kehidupan normal? Atau, kembali untuk mewujudkan rencana ISIS membangun kekhalifahan di Asia Tenggara?” ujarnya menanggapi refleksi akhir tahun 2016, Jumat (30/12).

Karena itu, Bamsoet berharap pemerintah berkaca pada kegagalan pemerintah Irak dan Suriah melumpuhkan ISIS. Dia menyarankan agar pemerintah Indonesia patut memberi wewenang penuh dan keleluasaan kepada TNI dan Polri untuk mempersempit ruang gerak para simpatisan ISIS di Indonesia.
[NEXT-RASUL]
“Ketahanan nasional akan menghadapi ujian berat jika rencana ISIS membangun basis di Asia Tenggara tidak segera ditangkal,” tegasnya.

Apalagi, lanjut poltikus Partai Golkar itu, ada semacam gelagat bahwa sel-sel terorisme di Indonesia juga memberi respons positif terhadap rencana ISIS membangun basisnya di Asia Tenggara. Kelompok-kelompok teroris itu sudah terang-terangan melampiaskan kebencian pada segenap jajaran Polri. Sejumlah prajurit Polri telah menjadi target serangan.

“Jangan lupa bahwa ada WNI yang sangat dipercaya pimpinan ISIS. Sosok WNI itu diduga mendalangi bom Sarinah dan mengotaki rencanakan ledakan bom di Istana Negara baru-baru ini,” tutur Bamsoet.

Untuk memperkecil atau melumpuhkan potensi ancaman itu, dia menyarankan agar perlakuan hukum terhadap para terduga dan tersangka teroris harus ekstra tegas. Termasuk kepada mereka yang diduga sebagai simpatisan ISIS di dalam negeri.

“Para simpatisan ISIS harus dilumpuhkan agar mereka tidak memiliki peluang mewujudkan pembangunan basis ISIS di Asia Tenggara,” pungkasnya. (dna/JPG)


div>