MINGGU , 23 SEPTEMBER 2018

Respon atas Komentar Prof Qasim Mathar – Kisah Perjalanan Umrah Bersama Ujas Tour Part VIII

Reporter:

by Ahmad M. Sewang

Editor:

Nunu

Rabu , 21 Maret 2018 13:05
Respon atas Komentar Prof Qasim Mathar – Kisah Perjalanan Umrah Bersama Ujas Tour Part VIII

int

Postingan hari ini secara khusus merespons komentar Prof. Qasim yang saya anggap bersifat akademik. Untuk memahaminya, maka lebih dahulu saya kutip respons itu secara lengkap, yaitu:

1. Komentar Prof. Qasim
Prof Ahmad, semoga sehat dlm perjalanan.
Tulisan prof hari ini masih memegang motto IMMIM: “BERSATU DLM USULIYAH, TOLERANSI DLM FURUIYAH”, yg pd hemat saya, sdh ketinggalan zaman. Sebab, jika motto itu dipakai, bukankah dalam perkara usuliyah, Sunni, Syiah, dan Ahmadiyah berbeda. Yaitu: tentang akidah (usuliyah) “percaya kepada takdir baik dan buruk”, hanya ada pada Sunni. Akidah (usuliyah) tentang “Keadilan” dan “Imamiyah”, hanya ada pada Syiah (khusus Imamiyah, mungkin juga ada pada Ahmadiyah). Akidah (usuliyah) terhadap “Murza Ghulam Ahmad” hanya ada pada Ahmadiyah. Kesemuanya itu adalah perbedaan usuliyah, bukan furuiyah, yang harus ditoleransi.
Motto IMMIM memang benar pada masa pendirinya masih hidup, ketika hubungan negeri-negeri muslim dan globalisasi belum sedinamis sekarang. Perkembangan yang saya sebutkan di atas harus dijelaskan kepada ummat. Salam.

2. Respons
Akhy Prof. Qasim, Keterbatasan ruang membuat penjelasan juga terbatas. Tidak heran jika memunculkan banyak tanya. Di antaranya respons pada motto IMMIM. Motto hendaknya dipahami sesuai perkembangan zaman. Kita pernah belajar bersama pada Prof. Quraish bahwa “Jangankan sebuah motto, penafsiran terhadap al-Quran saja mengalami perkembangan. Jika tafsir tidak bisa berubah, maka tidak perlu lagi ada tafsir baru. Walau tafsir mengalami perkembangan, tetapi al-Quran sendiri tetap bersifat abadi.

Motto IMMIM pun demikian, jika ternyata pemikiran terhadapnya mengalami perkembangan sejalan kemajuan berpikir ulama. Misalnya “Apa yang kita maknai sebagai usul suatu masa, ternyata mengalami perkembangan atau perubahan, maka perubahan pada masalah usul itu segera dimasukkan pada bagian masalah furu ikhtilafiah. Tetapi, masalah usul itu tetap saja ada seperti keesaan Allah, kerasulan Muhammad, keberadaan al-Quran, dan seterusnya. Motto IMMIM, ibarat kaidah usul yang bisa menjadi pegangan dalam menuntun umat. Itulah yang saya dapatkan dari penjelasan Prof. Quraish. Sebagai contoh, dahulu semua yang dianggap akidah bersifat mutlak tidak bisa berubah. Setelah pemikiran ulama mengalami perkembangan, ternyata yang dianggap bagian akidah tadi ternyata bisa berubah. Sifat-sifat Allah misalnya, masuk dalam pembahasan akidah, sekarang sifat Allah itu ternyata berbeda-beda dalam pandangan ulams. Sebagian ulama berpendapat sifat-sifat Allah jumlahnys 20, yang lain berpandangan 99 sebanyak asma alhusnah, ulama lain lagi mengatakan unlimited. Ternyata, masalah tertentu pada akidah mengalami perkembangan. Karena itu, saya mengembangkan pemikiran bahwa akidah ada yang bersifat usul dan furu sama halnya dengan masalah ibadah ada yang usul ada yang furu. Usul artinya hal yang fundamental. Tetapi hal yang dianggap fundamental juga dinamis sejalan perkembangan pemikiran ulama. Pemikiran ini juga dikembangkan Ketua Ulama Sedunia, Syekh Yusuf al-Qardawi yang bisa dibaca dalam bukunya, الصحوة الإسلامية dengan mengatakan:

التوحيد فى الاصولية والتسامح فى الفروعية

Bagi saya motto IMMIM berlaku umum, bisa digunakan oleh mazhab mana pun yang berkembang dalam sejarah Islam, termasuk Syiah,dan Ahmadiyah. Sekalipun nantinya satu sama lain akan berbeda dalam implementasi. Perbedaan perlu disikapi secara akademik dengan mendalami argunentasi masing-masing. Sikap demikian jauh lebih mulia daripada langsung menyesatkan tanpa lebih dahulu mengetahui argumentasinya, seperti banyak terjadi di masyarakat.

Semoga masalah ini bisa jadi bahan diskusi setelah saya kembali ke tanah air, sesuai permintaan banyak teman. Bagi saya tidak ada pemikiran yang bersifat mutlak semua mengalami perkembangan. Termasuk pendapat yang saya kemukakan. Bila setelah didiskusikan ternyata kita menemukan pandangan lebih benar, wajib kiranya merujuk kepada yang lebih benar itu, seperti kata Abu Hanifah:
“Inilah pendapat terbaik yang aku usahakan, namun jika ada yang datang membawa pendapat yang lebih baik, maka kita wajib merujuk kepada pendapat itu.


Tag
  • ujas tour
  •  
    div>