RABU , 23 MEI 2018

Retak

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Rabu , 10 Mei 2017 11:37
Retak

Ema Husaim Sofyan (Aktivis Perempuan)

Hiruk pikuk persiapan pilkada sudah semakin ramai , meskipun pilkadanya sendiri baru akan diselenggarakan pada tahun 2018, berbagai upaya telah dilakukan oleh para calon peserta pilkada untuk mempersiapkan dirinya. Upaya pertama yang dilakukan oleh para calon adalah memastikan mereka mendapatkan dukungan dari partai politik, selain itu para calon melakukan penjajakan untuk memastikan pasangan yang tepat untuk saling mendampingi.

Untuk para calon yang baru mencoba keberuntungannya di tahun 2018 tentu upaya yang dilakukan tidaklah sama dengan Petahana. Bagi mereka yang baru mencalonkan diri harus mempersiapkan banyak hal, bagaimana strategi mereka meningkatkan popularitas dan elektabilitasnya, sementara bagi Petahana lebih cenderung memastikan program-program yang telah dilakukan mampu memberi manfaat bagi masyarakat sehingga mendorong elektabilitasnya makin tinggi.

Hal yang paling penting bagi petahana adalah bagaimana melakukan persiapan-persiapan untuk memastikan apa yang telah dilakukan selama priode kepemimpinan mereka telah menjawab visi dan misinya, selain hal tersebut pasangan Petahana akan mengkaji ulang komitmen diantara mereka apakah masih memilih untuk bertahan dalam kebersamaan sebagai pasangan ataukah diantara mereka sudah mulai ada tanda-tanda keretakan sebagai pasangan.

Retak adalah kata yang banyak dihindari oleh banyak orang, retak dalam keluarga sebagai suami istri, retak dalam persahabatan, karena sesungguhnya retak lebih dimaknai sebagai bentuk berselisih, tidak akrab lagi, sudah tidak utuh (bersatu) lagi, atau ditegaskan bahwa pasangan tersebut sudah tidak bias berpasangan lagi. Dalam memaknai Retak seperti defenisinya memang kecenderungan menghasilkan sesuatu yang negatif.

Tapi menurut penulis tidak selamanya keretakan harus di bawa kepada hal-hal yang negatif , bisa saja Keretakan yang terjadi akan menghasilkan sesuatu yang penuh inovasi. Jika dalam Pilkada terjadi keretakan antara pasangan petahana dan diantara mereka memilih untuk bersaing maka hal tersebut adalah sebuah kewajaran.

Tetapi jika keretakan yang mengakibat pasangan petahana harus bersaing dijadikan media untuk saling menjelekkan, saling memojokkan bahkan cenderung menggunakan segala cara untuk saling menjatuhkan , maka sesungguhnya keretakan yang terjadi lebih mengarah pada kondisi yang buruk dalam sebuah bingkai perbedaan. Jika pasangan petahana memilih untuk berpisah sebagai pasangan, ada baiknya mereka membingkai keretakan sebagai media untuk bertarung gagasan untuk kepentingan masyarakat.

Beberapa daerah yang akan melaksanakan pilkada di Sulawesi Selatan telah menunjukkan kecenderungan bahwa keretakan diantara mereka telah membuat masyarakat terbelah bahkan cenderung bercerai berai, seharusnya pilkada menjadi sarana mempersatukan masyarakat. Untuk mendapatkan pemimpin yang mampu mempersatukan masyarakat seharusnya ada ketegasan bahwa pilkada bukanlah peretak, melainkan perekat, untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan sejahtera. (*)


Tag
  • ema vox
  •  
    div>