SABTU , 21 JULI 2018

Retribusi Sampah Kecamatan Makassar Dikeluhkan Pedagang

Reporter:

Al Amin

Editor:

asharabdullah

Senin , 04 Juni 2018 11:00
Retribusi Sampah Kecamatan Makassar Dikeluhkan Pedagang

Ilustrasi penjual durian. (dok.RakyatSulsel)

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Sejumlah tempat usaha di Kecamatan Makassar, mengeluhkan retribusi pelayanan persampahan/kebersihan yang penyetorannya tidak sesuai dengan Peraturan Wali Kota Makassar Nomor 56 Tahun 2015. Pasalnya, mereka mengaku diminta menyetor retribusi sampah yang jumlahnya mencapai jutaan rupiah.

Hal tersebut diungkapkan salah satu pengusaha musiman (durian), yang berada di Jalan Sungai Saddang, Kelurahan Maricaya Baru, Kecamatan Makassar. Ia mengaku bahwa dirinya setiap memulai usaha jual duriannya, mendatangi kantor Camat Makassar untuk menyetor retribusi kebersihan, namun jumlahnya diluar dari retribusi pelayanan persampahan/kebersihan yang sudah ditentukan setiap bulannya.

“Kami ini pedagang musiman, setiap baru mau mulai jual kita lapor di kantor kecamatan Makassar, saya temui itu pak Alamsyah, menyetor uang retribusi katanya, karena sudah ada himbauan sebelumnya kalau mau menjual melapor, jadi kita datang melapor sekalian antarkan uang,” ungkap pemilik tempat usaha yang tidak ingin menyebutkan namanya ini, Minggu (3/6) kemarin.

Menurut pengakuannya, hal ini sudah berlangsung lama dan jumlah yang dirinya setor tersebut diketahui sudah diluar dari kewajiban retribusi pelayanan kebersihan, mengingat jumlahnya yang nominalnya mencapai jutaan rupiah.

“Setiap musim mau jual, datang maka antarkan uang untuk setoran, bukan ratusan ribu tapi jutaan, tanpa kwitansi, kami yang penting bisa jualan,” katanya.

Terkait hal tersebut, salah satu koordinator/pengawas kebersihan yang melakukan langsung penagihan ditempat usaha yang berada di Kecamatan Makassar, Hariandi Rukman, membenarkan bila dirinya melakukan penagihan langsung di beberapa tempat usaha yang berada di Kecamatan Makassar, meskipun itu merupakan tupoksi dari kelurahan yang ada di Kecamatan Makassar.

“Memang benar kalau saya menagih langsung di tempat usaha untuk retribusi sampah/kebersihan, namun hanya 11 tempat usaha Resto yang saya tagih, untuk tempat usaha lain silahkan konfirmasi kepada Sekretris Camat Makassar, Alamsyah,” ungkap Hariandi Rukman.

Hariandi Rukman juga membenarkan bahwa sebenarnya yang berkewajiban melakukan penagihan retribusi sampah/kebersihan adalah pihak kelurahan.

“Sebenarnya yang menagih pihak kelurahan (kolektor) ada petugasnya, tapi kalau tempat usaha saya dan ada yang langsung ke Sekretaris kecamatan. Kalau saya, sudah menagih saya setor ke bendahara penerimaan, terus disetor ke BPD. Kalau mau lebih tau jumlahnya di bendahara penerimaan maki saja, saya tidak bisa menyebutkan nilainya, bicarakan maki sama pak Sekcam, karena dia yang tangani dari masih menjabat Kepala Seksi Kebersihan,” jelasnya.

Hariandi Rukman juga mengaku dirinya juga menagih tak hanya usaha restauran, namun juga menagih langsung retribusi persampahan/ kebersihan, bagi sejumlah hotel yang ada di Kecamatan Makassar.

“Saya memang yang menagih untuk resto sama hotel, memang betul kalau retribusi pelayanan persampahan/kebersihan dalam Perwali itu tidak ada yang melebihi Rp. 100 ribu. Kalau mau mengetahui jumlah retribusi yang ditarik ke bu Risma saja, dia yang selaku bendahara penerima,” tutupnya.

Diketahui, sejumlah tempat usaha di Kecamatan Makassar dikenai penarikan retribusi persampahan/ kebersihan dengan nilai yang bervariasi, yang berkisar Rp2 juta sampai dengan Rp4 juta setiap bulannya. Namun, jika berdasarkan Perwali, jumlah yang ditagihkan ke masing-masing tempat usaha tersebut tidak sesuai. (*)


div>