SENIN , 23 APRIL 2018

Rihlah Ziarah Jalaluddin Rumi Dan Sulthan Karavanserai Di Cappadocia

Reporter:

Dr.H.M.Ishaq Shamad, M.A

Editor:

Nunu

Kamis , 14 Desember 2017 13:06
Rihlah Ziarah Jalaluddin Rumi Dan Sulthan Karavanserai Di Cappadocia

(IST)

RAKYATSULSEL.COM — HARI keempat Rihlah Ziarah Rektor UMI dan Rombongan di Turki dengan ziarah di Madrasah Maulana Jalaluddin Rumi dan Sulthan Karavanserai Cappadocia Turki. Waktu tempuh selama 10 jam naik bus dengan jarak sekitar 560 km. Sungguh perjalanan yang cukup lama dan melelahkan. Namun kami tetap semangat menziarahi tokoh Sufi besar yang terkenal almarhum Jalaluddin Rumi.

Menurut Emre, lokal ziarah guide, Maulana Jalaluddin Rumi lahir dari ulama di Afganistan. Karena bapaknya meniggalkan Afganistan menuju ke negara Irak, Iran dan mengerjakan Haji di Arab Saudi. Kemudian mereka menetap di Turki. Mereka datang di Kota Aksarai Seljuk. Sultan Seljuk mau agar keluarga Rumi tinggal di Konya dan akhirnya mereka menetap disana, jelasnya.

Saat ini madrasahnya dikunjungi banyak wisatawan dan kuburannya berada di dalam Masjid, disamping makam ayahnya beserta sejumlah makam murid-muridnya.

Perjalanan ke Konya melewati pegunungan Taurus dari Surya sampai Edge ditepi laut Mediterania, dengan cuaca sampai 0 derajat celcius, sangat dingin dan berkabut.

Dikisahkan, Maulana Jalaluddin Rumi mulai mengajar anak-anak tentang agama Islam. Waktu itu penduduk Konya banyak populasinya beragama  Kristen, penduduk muslim hanya 20%.Tetapi Rumi sebagai sufi memiliki pemikiran yang baru. Ia bukan hanya mengajar orang Islam tetapi juga non muslim.

Madrasah Rumi terkenal bukan hanya bagi orang Islam tetapi juga bagi non muslim. Mereka belajar musik, mereka hidup sebagai sufi, yang layaknya orang miskin. Jika mereka makan 1 roti kecil untuk bertahan hidup selama 2 – 3 hari. Mereka memakai baju putih dan topi panjang menjulang ke atas. Karena Rumi pakai baju itu, maka tetap diabadikan sampai sekarang.

Setelah Rumi meninggal, anaknya Waled melakukan sistem baru dalam menari, seperti yang terkenal sekarang ini dengan tarian sufi, yakni berputar-putar melawan arah jarum jam selama lebih dari 1 jam dan tidak hilang keseimbangan, diiringi dengan musik sufi, kata Vincent, tour guide Tur Ez.

Rumi dikenal juga sebagai penyair dan ahli kaligrafi. Salah satu bunyi terjemahan syairnya yang dipajang dekat kuburannya,  “Batu tidak bisa memperindah bahkan setelah musim semi. Anda harus lihat tanah, dan hiduplah seperti tanah yang bisa menumbuhkan bunga-bunga mawar yang indah”.

Selanjutnya rombongan Rektor UMI menuju Capadocia. Menurut Emre, ziarah guide, Capadocia bukan nama kota tetapi nama daerah bekas jajahan Iran-Persia. Ada tiga gunung volkanik di daerah ini sejak 60 juta tahun lalu. Gunung tersebut erupsi jutaan kali, setiap erupsi ada abu bercampur dengan tanah, sehingga setelah sekian lama,  tanah kota ini sangat subur dan lembut. Namun sekian tahun terakhir gunung tersebut tidak berapi lagi, jadi sudah aman. Kota ini juga dikenal dengan balon udara, jelasnya.

Dikatakan semua masyarakat di Capadocia membuat karpet Turki, yang dilakukan oleh para perempuan. Sementara laki-laki hanya menikmati karpet. Dalam kesultanan Usmaniah ada keramik Izmik dipakai oleh Sultan Istambul. Karena itu karpet ini mahal, maka orang membeli karpet dari Capadocia.

Namun saat ini perempuan tidak membuat karpet lagi, karena banyak yang beralih profesi jadi dokter, dst. Karena sudah jarang yang buat karpet, sehingga harga karpet juga melambung tinggi disini, jelasnya.

Dulu perempuan membuat karpet di rumah dan membutuhkan waktu lama dalam pembuatannya. Mereka juga membuat perhiasan dari batu cincin.

Dijelaskan bahwa kesultanan Rumi mau menjadikan seorang agar maju dalam bidang ekonomi. Jadi penduduknya yang datang dari Irak, Saudi Arabia, Suriah membangun bangunan yang dikenal dengan Sultani Caravanserai Han, sebagai tempat transit untuk berdagang dengan orang Yunani, Italia sampai terjadinya perang Mongolia.

Pada tahun 1278 Kesultanan Rumi jatuh dan sistem perdagangan di Caravanserai ini tidak berlaku lagi. Bahkan ketika Raja Mamluk di Mesir bersekutu dengan Raja Baybars melawan Mongolia dan mereka tinggal di daerah ini.

Bangunan Karavanserai Sultan Han di Cappadocia ini sebagai bangunan Istana, ibaratnya sebagai asuransi para pedagang dari berbagai wilayah. Saat ini menjadi tempat yang banyak dikunjungi oleh wisatawan yang ingin melihat Istana peninggalan kemajuan Dinasty Seljuk.


div>