SENIN , 23 APRIL 2018

Rihlah Ziarah Ke Kota Bawah Tanah Dan Tarian Sufi

Reporter:

Dr.H.M.Ishaq Shamad, M.A

Editor:

Nunu

Jumat , 15 Desember 2017 13:10
Rihlah Ziarah Ke Kota Bawah Tanah Dan Tarian Sufi

int

RAKYATSULSEL.COM — Hari kelima Rihlah Ziarah Rektor UMI dan rombongan di Turki dengan ziarah ke pabrik Karpet, Kota bawah tanah dan melihat tarian sufi di Caravanserai Cappadocia Turki.

Menurut Emre, ziarah guide, Cappadocia berarti kuda yang indah. Selain itu, cuaca sudah mulai nusim dingin, bahkan nanti bulan Januari akan lebih dingin lagi sampai minus 5 derajat. Saat ini bahkan sudah ditemukan salju di beberapa wilayah Cappadocia.

Ziarah di pabrik tradisional proses pembuatan karpet dengan menggunakan alat tenun yang mirip dengan tenun sarung sutra di Sengkang. Semuanya dikerjakan dengan menggunakan tangan. Oleh karena itu 1 karpet dikerjakan minimal 6 bulan sampai 1.5 tahun, tergantung besar dan tebalnya.

Selanjutnya rombongan Rektor UMI ziarah di bekas kota bawah tanah di atas pegunungan. Kota bawah tanah ini dulu digunakan sebagai tempat bersembunyi rakyat Cappadocia ketika datang musuh saat perang. Di dalam bawah tanah tersebut banyak ruangan sebagai kamar tempat tidur. Bahkan ada ruangan untuk hewan peliharaan mereka, jelas Emre, ziarah guide.

Sepanjang perjalanan di wilayah ini di kiri kanan terdapat gunung-gunung berlubang bekas tempat tinggal dan pemandangannya sangat yang indah.

Rombongan Rektor UMI, akhirnya masuk ke Caravanserai, sebuah gedung peninggalan Sultan abad ke 12 yang masih terpelihara. Didalamnya disuguhkan tarian Sufi, dimana mereka berputar-putar ratusan kali, diiringi dengan musik dan diselingi dengan zikir mendekatkan diri kepada Allah Swt selama sekitar 1 jam.

Menurut KH.M.Zein Irwanto, usai pertunjukan, ada 4 bagian tari sufi tersebut, 1. zikir menghilangkan ego manusia, 2. Zikir menyatu dengan Allah, 3. Zikir Allah yang menyatu dengan hamba dan 4. Zikir yang mengingatkan manusia akan kembali kepada Allah Swt.

Dr.H.M.Ishaq Shamad, M.A/ (Ist)

Dikatakan tarian sufi merupakan ciptaan Jalaluddin Rumi, tujuannya untuk mengingatkan manusia akan kesucian dan kebersihan serta mengingatkan manusia akan berakhir dengan kain kafan dan akhirnya dimasukkan  ke dalam kubur. Itulah sebabnya mereka menari menggunakan baju putih dan topi yang mirip batu nisan, jelas Emre. Selain itu versi lain menyatakan mereka berputar melambangkan perputaran alam semesta, dimana matahari dan planet lainnya berputar terus dan tidak ada yang bertabrakan… Subhaanallaah.


div>