SELASA , 11 DESEMBER 2018

RMS Bukan “Professor”, Tapi Berdayakan Guru Besar Unhas Entaskan Kemiskinan di Sidrap

Reporter:

Editor:

asharabdullah

Senin , 18 September 2017 16:15
RMS Bukan “Professor”, Tapi Berdayakan Guru Besar Unhas Entaskan Kemiskinan di Sidrap

Bupati Sidrap Rusdi Masse saat memberikan cindera mata kepada Rektor Unhas Dwia Aries Tina Pulubuhu.

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Bupati Sidrap Rusdi Masse (RMS) memang bukanlah seorang guru besar bertitel Professor, Doktor dan lainnya. RMS hanyalah sosok pria yang memiliki komitmen besar untuk melakukan perubahan besar pada wilayah yang dia pimpin di Kabupaten Sidrap.

Tapi kepemimpinannya di Kabupaten Sidrap patut diacungkan jempol. Betapa tidak, di tangan RMS kemiskinan di Sidrap drastis turun dan peningkatan pendapatan per kapita masyarakat naik drastis.

“Meski bukan seorang terdidik dan bukan juga professor dari universitas. Tapi Bupati Sidrap itu tahu benar memanfaatkan peneliti Unhas untuk mengentaskan kemiskinan di Sidrap. Hasilnya, Sidrap selalu terendah angka kemiskinannya di seluruh kabupaten se Sulsel,” ujar Sekretaris Lembaga Penelitian Dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Unhas, Prof Dr Armin Arsyad, Senin (18/9/2017) di Makassar.

Menurut Prof Armin, RMS mampu menerapkan teori kepemimpinan sebagaimana dikatakan oleh filsuf Plato, bahwa; “pemimpin yang baik adalah mampu bertindak seperti dokter.”

“Artinya, sebelum melakukan tindakan, dokter itu kan tahu apa penyakit pasiennys. Makanya harus dia periksa dan diagnosa. Setelah itu baru dilakukan intervensi. Nah di Sidrap itu begitu. Sebelum Pemkab melakukan intervensi, peneliti Unhas dulu diturunkan Pak Bupati Sidrap,” beber Prof Armin Arsyad.

Prof Armin juga sempat membandingkan Kabupaten Bantaeng yang dipimpin Nurdin Abdullah sebagai bupati. Nurdin adalah seorang Professor atau guru besar Unhas. “Tapi (Bantaeng) tidak seperti Sidrap. Di Sidrap massif meggunakan peneliti Unhas sebelum melakukan tindakan khususnya pengentasan kemiskinan. Itulah perbedaannya Bupati Bantaeng dengan Bupati Sidrap,” ujar Prof Armin.

Angka kemiskinan Sidrap berdasarkan data BPS per akhir 2016 hanya 4,5 persen. Sedangkan Bantaeng mencapai di atas 9,53 persen. Dua kali lipat dari angka kemiskinan Sidrap. Padahal kluster kabupaten sama, termasuk jumlah dan populasi penduduknya.


div>